Mahasiswa Jurusan Eksakta dan Ancaman Label 'Radikal'

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 07/06/2018 13:25 WIB
Mahasiswa Jurusan Eksakta dan Ancaman Label 'Radikal' Pegiat pendidikan Najeela Shihab mengatakan anggapan akan mahasiswa eksakta atau IPA rentan disusupi paham radikal tak bisa digeneralisasikan. (Ilustrasi/Foto: robarmstrong2/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Akhir pekan lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merilis beberapa universitas di Indonesia yang disusupi paham radikal. Direktur Pencegahan BNPT, Hamli menuturkan, pola penyebaran kini merambah ke kampus negeri maupun swasta.

"PTN dan PTS yang banyak kena itu di fakultas eksakta dan kedokteran," ungkap Hamli dalam sebuah diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. 

Menanggapi hal ini, Mesristekdikti Mohamad Nasir menilai mahasiswa eksakta (ilmu pasti atau IPA) lebih rentan terpengaruh paham radikal. Menurutnya, kecenderungan ini terjadi sejak dirinya berada di bangku kuliah.



"Anak eksakta, karena dia cara berpikirnya logic dan pragmatis, sehingga dia hanya melihat black and white. Ini akan terjadi pemahaman itu. Kalau memahami agama adalah black and white, ya kayak gitu. Jadi yang diandalkan adalah logikanya," kata Nasir di rumah dinasnya, Jakarta pada akhir Mei.

Akan tetapi, pegiat pendidikan Najeela Shihab mengatakan pemahaman akan fenomena alam justru mendekatkan seseorang pada agama dan Sang Pencipta.

Orang kerap menilai bahwa mereka yang mempelajari ilmu sosial lebih terasah secara empati, toleransi maupun elemen-elemen sosial di masyarakat. Namun bukan berarti mereka yang belajar ilmu eksak tidak memepelajari hal-hal ini.

Meski terdapat data, ia menganggap hal ini merupakan sesuatu yang kasuistik dan tidak bisa digeneralisasikan.

"Jangan sampai ini menguatkan label-label dan memicu intoleransi di tengah toleransi," katanya saat dihubungi CNNINdonesia.com pada Selasa (5/6).


Ia menjelaskan penyebaran dan masuknya paham radikal ke dalam diri seseorang tak semudah yang dibayangkan. Ada dua faktor besar yang turut mempengaruhi penyebaran radikalisme yakni, kondisi diri dan lingkungan.

Individu, lanjut dia, dengan ciri-ciri tertentu dapat rentan terpengaruh. Terdapat data yang mengatakan bahwa mereka yang krisis identitas, distorsi ideologi, mudah tertarik dengan sosok pemimpin karismatik atau mengidolakan figur yang salah itu lebih rentan terpengaruh paham radikal.

"Ada lapisan-lapisan yang membentuk seseorang. Faktor dia orang eksakta tidak cukup, ini kompleks," imbuhnya.

Sedangkan untuk faktor lingkungan, ada data yang menyebut bahwa pengangguran, wilayah dengan tingkat korupsi tinggi yang berkorelasi dengan ketidakadilan, hak asasi terampas, tak ada dialog, disertai konflik atau kondisi lingkungan yang tak kondusif dapat menyuburkan penyebaran radikalisme. Kedua faktor ini berpengaruh terhadap penanaman radikalisme.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?


Najeela menganggap langkah pencegahan di tingkat kampus dirasa terlambat. Pasalnya hal-hal terkait soft skill seperti empati, toleransi seharusnya ditanamkan sejak kecil.

Anak dinilai dapat diajar lewat pengalaman langsung dari interaksi dengan siapapun yang beda latar belakang. Perjumpaan seperti ini akan memicu obrolan sehingga tercipta konstruksi pemahaman bahwa ada kesamaan.

"Orang-orang yang merasa dirinya korban, dilanda kemiskinan ini butuh perhatian. Lewat pendidikan kita seharusnya membantu mereka membangun kekuatan diri sehingga terhindar dari jalan kekerasan," ujarnya.

Akan tetapi, kampus tetap bisa mengambil langkah dengan merangkul komunitas atau kelompok apapun di lingkungan perkuliahan. Pasalnya, biasanya di kampus banyak terdapat kelompok kecil yang tidak teridentifikasi sehingga mereka pun perlu dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan universitas.

"Seringkali mereka bukan kelompok besar sehingga perlu dirangkul, dilibatkan agar tak merasa terkucilkan," pungkasnya. (rah/asa)