Honey Traps, Jebakan Seks 'Mata-mata' Rusia di Piala Dunia

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 10/07/2018 00:18 WIB
Honey Traps, Jebakan Seks 'Mata-mata' Rusia di Piala Dunia Pecinta sepak bola yang ingin tidur dengan wanita tuna susila Rusia selama Piala Dunia mendapat peringatan keras karena risiko bercinta dengan mata-mata Rusia.(Thinkstock/Willbrasil21)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demam Piala Dunia 2018 ternyata tak cuma diramaikan dengan kemeriahan pecinta sepak bola pada gerak lincah idola lapangan hijau.

Namun Piala Dunia juga diramaikan dengan meningkatnya aktivitas seksual berganti-ganti pasangan.

Hanya saja, para pecinta sepak bola yang ingin tidur dengan perempuan tuna susila Rusia selama Piala Dunia berlangsung mendapat peringatan keras. Bukan soal tingkat risiko penularan penyakit melainkan soal 'status' perempuan.



Mereka diberi peringatan bahwa ada kemungkinan berhubungan seks dengan mata-mata Rusia dan terjebak dalam 'honey traps' atau 'perangkap manis.' 

Tak cuma itu, mereka juga menghadapi risiko kemungkinan pemerasan lewat foto-foto yang diunggah di laman Facebook.

'Honey traps' - seksualitas yang digunakan untuk kepentingan moneter atau keuntungan politik - sebelumnya dicurigai sebagai taktik yang digunakan oleh badan keamanan Rusia atau dikenal dengan Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) untuk menculik intelijen musuh. 

"Diketahui bahwa para perempuan di lembaga yang kurang sehat akan membubuhkan (menambahkan sesuatu ke) minuman Anda," tulis sebuah situs turis di kota St. Peterburg, Bravo Solutions, memperingatkan dikutip dari Metro.

"Kuatnya suplemen penenang akan menjatuhkan Anda dan ini waktunya untuk 'kesempurnaan' aksinya. Mimpi buruk dimulai ketika Anda bangun - kenangan akan dompet yang terisi penuh serta apartemen berperabot diganti dengan dompet dan apartemen kosong."

Layanan seks tersebut dibanderol dengan harga US$50-600 tergantung pada jenis layanan dan durasi.

"Para pelacur Rusia yang beroperasi di pinggiran kota atau mereka yang jarang bersentuhan dengan orang-orang non Rusia akan dengan mudah menerima rubel (mata uang Rusia) untuk kegiatan seksualnya."

Kondisi ini terbilang miris, pasalnya prostitusi sendiri adalah tindakan ilegal di Rusia. Namun dengan dendanya yang rendah, hal tersebut tidak lagi dipandang sebagai masalah besar. Para perempuan tuna susila ini pun juga mendapat kartu perawatan kesehatan khusus.


Para juru kampanye anti perbudakan mengatakan, undang-undang yang longgar di Rusia tampak dari para perempuan yang dijual selama Piala Dunia. 

"Ini adalah hadiah nyata bagi para pedagang, kami menemukan ada sekitar 30 korban (wanita Nigeria) dijual ke Piala Konfederasi di Moskow tahun lalu," kata Julia Siluyanova juru bicara kelompok anti perbudakan Rusia Alternativa kepada Reuters.

"Kami mengira akan menghadapi masalah yang sama selama Piala Dunia tahun ini."

Pemerintah Rusia mengungkapkan bahwa dua tahun lalu setidaknya ada satu juta pekerja seks di Rusia. Jumlah ini bahkan jauh lebih banyak dari jumlah dokter di negara tersebut.

Boneka seks

Prediksi meningkatnya aktivitas seksual selama Piala Dunia 2018 pun menyebabkan industri seksual makin bergeliat di Rusia.

Tahun ini akan menjadi Piala Dunia pertama di mana penggemar sepak bola bisa meminta layanan boneka seks. 

ilustrasi Piala DuniaFoto: REUTERS/Kai Pfaffenbach
ilustrasi Piala Dunia

Sebuah rumah prostitusi di Moskow bernama The Dolls House menyediakan boneka seks, di antaranya Lolita, Sasha, Natasha, Alise, dan Isilel dengan biaya sewa sekitar 17.75 poundsterling hingga 29.50 poundsterling per jam. 

"Kami benar-benar menunggu arus pengunjung selama Piala Dunia - dan kami berharap banyak klien asing, termasuk dari Inggris," ungkap pegawai di The Dolls House.
 
"Inilah alasan mengapa kami sekarang mendapatkan izin khusus untuk menyambut pengunjung asing. Sedangkan untuk para pemain - jika mereka diizinkan oleh pelatih dan manajer mereka, kami hanya akan menyambut mereka."

Sebelumnya, tim nasional Nigeria dilarang membawa pekerja seks kembali ke hotel mereka.

"Ya, para pemain bisa dikunjungi oleh istri dan keluarga mereka selama Piala Dunia. Setiap pemain akan memiliki ruangan untuk dirinya sendiri sehingga keluarga bisa datang pada hari-hari ketika kami tidak dalam masa persiapan pertandingan," kata Pelatih Gernot Gohr.

"Namun, saya tidak akan mengijinkan mereka memiliki gadis-gadis Rusia, tidak, tidak, tidak. Hanya kapten kami (John Obi) Mikel yang memiliki pasangan orang Rusia saja." (bel/chs)