FOTO: Pacuan Joki Cilik Mongolia

REUTERS/B. Rentsendor, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 16:32 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Orangtua di Mongolia mulai mewariskan tradisi berkuda ke anak-anaknya sejak usia tujuh tahun.

Seorang anak dan orangtuanya menyiapkan kuda untuk dipacu dalam Festival Naadam, di Ulaanbaatar, Mongolia. (REUTERS/B. Rentsendorj)
Sebanyak 338 joki cilik menjadi peserta dalam Festival Naadam akhir pekan kemarin. Dalam festival tahunan ini, pacuan kuda dengan joki cilik menjadi atraksi utamanya. (REUTERS/B. Rentsendorj)
Pendaftaran joki cilik. Berkuda menjadi tradisi di Mongolia. Penduduk di sana menggunakan kuda sebagai alat transportasi utama mereka. Hingga kini para orangtua mewariskan tradisi ke anak-anak mereka.
Orangtua di Mongolia mulai mengajarkan anaknya berkuda sejak usia tujuh tahun. Namun banyak orang di luar Mongolia yang merasa kalau tradisi berkuda belum cocok bagi anak kecil.
Kuda yang berukuran besar dan tinggi dianggap berbahaya bagi anak-anak yang bertubuh mungil. 
Sepanjang tahun lalu sebanyak 10.435 anak menjadi peserta dalam 394 pacuan kuda. Lebih dari 600 anak terluka karena terlempar dari kuda, bahkan dua anak tewas seketika.
Pengelola Festival Naadam berkata bahwa sejak tahun ini mereka menerapkan aturan keselamatan baru bagi joki cilik. Usia minimal yang boleh ikut mulai dari sembilan tahun. 
Kelompok pemerhati anak, Tsolmon of Save the Children, juga menyarankan agar kegiatan pacuan kuda tak digelar pada musim dingin atau musim semi, karena suhu dingin ekstrem membahayakan anak. 
Meski demikian, para joki cilik merasa senang berada di atas kudanya. Para orangtua juga mendukung mereka melakukan kegiatan tersebut.
Pemerintah Mongolia juga tak ingin para joki cilik ini malah dijadikan joki berkuda untuk judi.