Meniru Kemandirian Komunitas Lima Gunung

ANTARA, CNN Indonesia | Sabtu, 04/08/2018 18:17 WIB
Meniru Kemandirian Komunitas Lima Gunung Penari mementaskan tarian Barongan Samin Edan dalam Festival Lima Gunung (FLG) XVI/2017. (Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komunitas Lima Gunung beranggotakan para pegiat seni dari kalangan petani dan masyarakat dusun-dusun kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Selama ini mereka tanpa pamrih menggelar hajatan tahunan bernama Festival Lima Gunung secara mandiri.

Pembentukan komunitas itu dirintis oleh budayawan Magelang, Sutanto Mendut. Ia menggalang pemberdayaan berbagai kelompok kesenian dan masyarakat dusun-dusun di kawasan yang dikelilingi lima gunung tersebut.

Jika tahun ini berjalan lancar, maka Festival Lima Gunung sudah terselenggara untuk yang ke-17 kalinya. Hingga saat ini, tidak diketahui kapan bangunan komunitas itu terbentuk. Sutanto sendiri tidak pernah menyebut dengan pasti kapan komunitas nirlaba itu mulai dibentuk.


Atas kiprah selama ini, mereka yang bergiat dalam Komunitas Lima Gunung bukan lagi sebatas kalangan seniman petani dusun-dusun, akan tetapi siapa saja dari berbagai kalangan yang merasa diri dan kelompoknya berjodoh dengan komunitas itu.
Saat ini komunitas itu juga 'dihuni' oleh warga luar Magelang dari latar belakang yang berbeda, mulai dari aktris, dosen, pelukis, penari, dalang, pembatik, wartawan, pemilik usaha, pemikir, agamawan, penyair, dan pensiunan tentara.

"Ini komunitas adalah kumpulan manusia yang bertemu dan berjodoh," ujar Susanto, seperti dikutip dari Antara.

Susanto adalah sosok yang bertanggung jawab mengumpulkan mereka untuk bergerak dalam aktivitas seni budaya. Tak hanya itu, ia juga menggaungkan tradisi masyarakat berdasarkan kalender dusun masing-masing.

Markas besar komunitas ini berada di Studio Mendut, sekitar 100 meter timur Candi Mendut Kabupaten Magelang.

Selain untuk menggelar berbagai pementasan kesenian, tempat itu juga menjadi lokasi bertukar pikiran soal isu-isu yang mampu melahirkan inspirasi untuk memaknai pementasan-pementasan.

Titik pelaksanaan bergiliran

Setiap tahun Festival Lima Gunung, diselenggarakan di tempat yang berbeda. Titik pelaksaan festival diputuskan berdasarkan hasil musyawarah.

Meskipun sempat mendapatkan bantuan dari sponsor, namun sejak pergelaran yang kesembilan atau pada 2010, komunitas itu melakukan "sumpah tanah" sebagai tekad menggelar festival tanpa sponsor dan proposal kepada pengusaha, pemerintah, maupun donatur.
Singkat cerita, mereka berfestival sebagai puncak pertemuan seni budaya komunitas itu melalui daya kemampuan sendiri.

"Waktu itu para tokoh membuat tanda tangan masing-masing di atas tanah Studio Mendut. Itulah "sumpah tanah" kami," kata Riyadi, salah seorang pemimpin tinggi Komunitas Lima Gunung.

Daya festival yang tanpa sponsor dan proposal sumbangan itu, ucap dia, malah dirasakan menarik, gereget, dan menjadi tantangan menghadirkan kecerdasan pribadi-pribadi dalam komunitas.

Pada awalnya penampil di festival ini hanyalah kelompok-kelompok seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung. Seperti wayang orang dari Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, tarian topeng ireng Sanggar Warangan Merbabu, soreng Padepokan Warga Budoyo Gejayan, kuda lumping Sanggar Andong Jinawi Mantran Wetan, grasak dari Sanggar Saujan Keron, dan lengger dari Padepokan Cahyo Budaya Sumbing.

Namun seiring berjalannya waktu, berbagai komunitas dan kelompok-kelompok kesenian tradisonal, modern, dan kontemporer dari luar kota menjadi ikut terlibat.

Kalangan pemerhati seni dan budaya dari dalam dan luar negeri pun berminat terlibat dalam festival itu.

Bahkan tak jarang tamu dari luar kota berdatangan dan menginap di rumah-rumah warga yang menjadi tuan rumah festival.
Kalender pariwisata yang tidak valid

Dalam beberapa tahun terakhir, festival ini bukan lagi berisi kirab budaya dan pementasan kesenian tradisional komunitas. Tetapi juga merambah kepada kegiatan seni budaya lain, terutama karena keterlibatan para seniman dengan grup masing-masing dari luar komunitas.

Berbagai agenda yang turut memeriahkan festival, antara lain pameran seni rupa, pameran foto, seni instalasi berbahan alam desa, seni teater, musik kontemporer, performa gerak seni, pembacaan puisi, peluncuran buku, pengajian, dan pidato kebudayaan.

Tema-tema festival pun disematkan sebagai tangkapan komunitas atas refleksi bersama terhadap situasi kekinian. Seperti "Cakra Manggilingan Jiwa" (2013), "Tapa ing Rame" (2014), "Mantra Gunung" (2015), "Pala Kependem" (2016), dan "Mari Goblok Bareng" (2017).

Tahun ini Festival Lima Gunung akan berlangsung di Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang pada 10-12 Agustus. Tema tahun ini adalah "Masih Goblok Bareng".
Terkait penanggalan yang berbeda dari pihak Kementerian Pariwisata dan Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, komunitas lima gunung tidak mengetahui asal mulanya.

Dalam 100 agenda Pesona Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata, festival lima gunung ditulis akan diselengarakan pada 20-22 Juli 2018 di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Hal tersebut bersumber dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Jawa Tengah

Atas hal ini, sejumlah aparatur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng pun keki ketika mendatangi Dusun Keron pada 20-22 Juli 2018. Karena tidak ada kegiatan apa-apa di sana.

Tak hanya kesalahan informasi mengenai tempat, perkara lokasi pun tidak luput dari kesalahan. Sebelumnya video pendek "Pesona Indonesia" tentang Festival Lima Gunung 2018 beredar di media sosial, narasi dalam video itu menyebut "di Kota Magelang".

Padahal Magelang meliputi dua wilayah adminstrasi pemerintahan, yakni Kota Magelang dan Kabupaten Magelang. Festival Lima Gunung sendiri selalu dilaksanakan di dusun-dusun di wilayah Kabupaten Magelang. (agr/ard)