Diam-diam Sisihkan Uang Belanja demi Burung Kesayangan

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 16/08/2018 15:38 WIB
Hobi memelihara burung berkicau juga digandrungi kaum wanita. Segala cara dilakukan demi hobi, termasuk menyisihkan duit belanja. Ilustrasi lomba burung berkicau. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Jakarta, CNN Indonesia -- Konon, zaman kiwari adalah masanya emansipasi wanita. Sederet profesi dan hobi yang biasa dilakoni pria kini digandrungi wanita. Termasuk salah satunya soal memelihara burung yang selalu identik dengan kaum pria.

Lihat saja Samia, ibu tiga anak ini gemar memelihara burung-burung yang berkicau merdu. Perempuan 38 tahun yang akrab disapa Mia itu melakukan banyak cara untuk bisa memelihara burung berkicau di kediamannya di Pamulang, Tangerang Selatan. 

Ketertarikan Mia pada burung berkicau sudah muncul sejak lama. Sebelum memutuskan menikah pada 2000 lalu, dia sempat merawat beberapa burung.


"Burung ecek-ecek aja, masih burung kampung. Belum yang bagus seperti sekarang," kata Mia saat bercerita kepada CNNIndonesia.com.


Pasca-menikah, Mia tak lagi melanjutkan hobinya. Dia fokus menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurusi anak-anak.

Namun, belakangan mendadak dia rindu hobi lamanya. Gara-garanya adalah munculnya banyak jenis burung baru dengan warna-warna cantik dan kicauan beragam berseliweran di media sosial.

Tak perlu waktu lama, izin memelihara burung pun diberikan sang suami. Syaratnya, Mia harus tetap bisa membagi waktu antara hobi dengan pekerjaan rumah.

"Akhirnya coba aja beli satu. Yang penting rumah rapi, anak keurus," kata Mia. Toh, hobi memelihara burung ini membuatnya senang. Ibaratnya, Mia punya 'mainan' baru di rumah.

"Daripada kelayapan, mending di rumah (bermain dengan burung)," tambahnya.


Kicauan burung kenari dan kacer yang dirawatnya lama-lama membuat sang suami kepincut. Mengambil kesempatan, Mia mengajukan burung yang punya kicauan lebih lantang. 

Mereka pun sepakat membeli seekor burung murai dengan harga Rp2,5 juta. Setelah 2,5 tahun dirawat, si murai berhasil memboyong 'piala'. Murai kesayangannya memenangkan lomba kicau burung dan menempati peringkat ke-4. Setelahnya, harga murai milik Mia langsung meroket.

"Setelah juara ditawar juri Rp6 juta, kami jual. Lumayan, balik modal buat beli dan merawat," ungkap Mia.

Lakukan Segala Cara

Burung-burung berkicau itu hadir dan meramaikan rumah Mia. Demi hobinya, Mia rela melakukan segala cara. Salah satunya adalah menyisihkan uang belanja dari suami untuk membeli burung.

Setiap hari, Mia getol menyisihkan sisa duit belanja. "Misal sehari ada sisa Rp10.000 atau Rp5.000, ya dikumpulin. Enggak setiap hari juga ada," kata dia. Duit untuk membeli burung itu biasanya baru terkumpul setelah satu atau dua bulan kemudian.

Dari hasil menyisihkan uang belanja itu, Mia berhasil membeli tiga ekor labet atau lovebird rata-rata seharga Rp250.000 dan sekor trucukan.


Tak ada kesulitan yang dirasakan Mia saat merawat empat ekor burung kesayangannya itu. Dia cuma perlu merogoh kocek Rp5.000 per bulan untuk membeli pakan burung berupa milet. Tak cuma itu, Mia juga kudu membersihkan kandang burng jika sudah dipenuhi kotoran dan bulu yang rontok.

Kerja ekstra diperlukan Mia jika burung mulai bertelur. Agar tak menyita waktu dan dimarahi suami, dia menitipkan burung-burungnya pada sang adik.

"Kalau masih kecil, kan, mesti diberi makan tiga jam sekali. Sampai pagi, sampai enggak tidur. Suami mah tidur, saya bangun. Makanya saya taruh di rumah orang tua, sama adik. Kalau di rumah, pasti suami marah, takut enggak boleh," ucap Mia.

Kendati segala cara harus dilakoni, tapi Mia bertekad ingin membesarkan usaha ternak burung lovebird yang baru dirintisnya itu. Dia ingin mencoba mencari peruntungan dari hobi memelihara burung berkicau yang digelutinya.

Mia juga baru saja bergabung dengan Komunitas Lovebird di Tangerang Selatan. Di sana, dia bisa mendapatkan lebih banyak informasi dan edukasi anyar soal seluk beluk merawat burung berkicau. (asr/chs)