Tren 'Menyulap' Wajah yang Tak Selalu Indah

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 30/08/2018 18:38 WIB
Tren 'Menyulap' Wajah yang Tak Selalu Indah Ilustrasi. (AFP PHOTO / CHANDAN KHANNA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tersedianya fitur pengubah tampilan wajah pada media sosial ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, fitur itu membikin banyak wanita bahagia lantaran wajah cantik yang dihasilnya. Namun di sisi lain, fitur itu bisa berujung gangguan.

Kemampuan fitur untuk 'menyulap' wajah tampak lebih sempurna itu menciptakan persepsi-persepsi baru sekaligus palsu tentang apa yang disebut dengan 'cantik' dalam pikiran sejumlah wanita. Lantas, apa jadinya? Wanita akan tergoda untuk melakukan apapun demi mendapatkan wajah 'cantik' sebagaimana yang dipersepsikan media sosial. 

Faktanya, tren mempercantik wajah dengan fitur edit foto di media sosial ini berimbas pada permintaan operasi plastik. Banyak wanita mengajukan prosedur operasi plastik dengan harapan wajah anyarnya bisa percis dengan apa yang dihasilkan fitur edit foto dalam aplikasi.


Tren ini disebut sebagai 'snapchat dysmorphia'. Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Facial Plastic Surgery Viewpoint menyalahkan aplikasi seperti Snapchat dan Instagram atas kebimbangan-kebimbangan wanita masa kini tentang citra kecantikan sempurna.


Para peneliti dan sejumlah ahli bedah plastik menyebut bahwa pasien kerap membawa foto selebriti atawa foto diri mereka yang telah diedit ke klinik bedah plastik. Mereka meminta para dokter untuk 'menyulap' wajahnya agar mirip dengan apa yang ada dalam foto.

Tak cuma di dunia barat, tren ini juga menyerbu Indonesia. Danu Mahandaru, ahli bedah plastik dari The Clinic Beautylosophy, kerap menemukan pasien yang membawa foto diri yang telah diedit ke kliniknya. 

Dari seluruh pasien yang ditangani, sekitar 30-40 persen memohon prosedur operasi plastik agar wajahnya seindah hasil retouch dalam aplikasi. Namun, Danu tak selalu mengabulkan keinginan pasien.

"Saya selalu sampaikan (pada pasien) kalau memang operasi dengan filter itu berbeda. Kalau di tubuh sifatnya 3D, sedangkan filter sifatnya 2D. Filter bagus dari sudut pandang itu, tapi belum tentu bagus dari sudut pandang lain," kata Danu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (28/8).


Dari penjelasan itu, rata-rata pasien dapat mengikuti arahannya. Kendati demikian, tak jarang pula ada pasien yang masih kekeh memaksakan keinginannya. Menghadapi pasien seperti ini, Danu memilih untuk tidak mengerjakan atau menangani sama sekali.

Seorang dokter bedah plastik, kata Danu, tak akan memberikan harapan terlalu tinggi pada pasien. Dokter selalu mempertimbangkan ekspektasi dengan kondisi wajah pasien.

"Saya enggak mau kerjain yang ekspektasinya tidak realistis. Kalau aneh, pasti tidak akan saya kerjakan. Buat saya, bedah plastik itu layaknya seniman, kalau menurut saya enggak bagus, enggak akan saya kerjakan," kata Danu.

Konsultasi, langkah penting sebelum prosedur operasi

Operasi plastik bakal menimbulkan perubahan drastis pada fisik atau tampilan seseorang. Oleh karenanya, kata Danu, seorang pasien sebaiknya tak hanya siap secara fisik, tetapi juga mental.

Tak sembarang orang bisa menjalani prosedur operasi plastik. Dari pertimbangan usia, misalnya. Menurut Danu, seseorang baru dipersilakan 'menyulap' wajahnya saat telah menginjak usia 19 tahun. Namun, bukan hal mustahil jika mereka yang masih belia juga ingin mengubah wajahnya jadi lebih cantik.


"Sebelum 19 tahun bisa, dengan pertimbangan orang ini ada kasus (bibir) sumbing, kasus kecelakaan kemudian ada cacat, pasien mengalami bully sehingga malu ke sekolah. Klinik kami pernah menangani usia 14 tahun dan 16 tahun ada," beber Danu.

Sebagai langkah awal operasi plastik, seseorang harus dipastikan mendatangi dokter atau klinik yang benar. Cara memastikannya, kata Danu, adalah dengan mengecek situs terapi.org yang menyediakan informasi seputar dokter-dokter bersertifikasi.

Selanjutnya, langkah yang tak kalah penting ialah konsultasi. Danu menekankan agar calon pasien sebaiknya menanyakan semua hal termasuk efek samping, downtime atau lama pemulihan pascaoperasi, pantangan setelah operasi serta alternatif prosedur lain jika ada.

Tren operasi plastik saat ini tak melulu soal ekspektasi wajah yang mirip dengan hasil editing foto dalam aplikasi, tapi juga meliputi operasi hidung, payudara, serta bibir.

Sekali waktu, Danu pernah kedapatan menangani pasien yang ingin memiliki bibir seperti Kylie Jenner. Tak masalah sebenarnya, kata Danu. Hanya saja, pasien perlu mempertimbangkan banyak hal sebelum prosedur benar-benar dilakukan. Di situlah diperlukan adanya konsultasi terlebih dahulu.

"Tanyakan, mungkin enggak seperti ini, bagus enggak. Kalau bisa, oke, prosedur bisa dilakukan. Tapi kalau tidak bisa jangan memaksakan. Kita itu cantik dengan cara sendiri-sendiri," kata Danu.

(asr/chs)