Demensia Alzheimer, Kerusakan dan Kematian Fungsi Otak

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 22/09/2018 13:52 WIB
Demensia Alzheimer, Kerusakan dan Kematian Fungsi Otak Ilustrasi otak manusia (REUTERS/Neil Hall)
Jakarta, CNN Indonesia -- Serangan penyakit demensia alzheimer tak main-main. Ia menyerang sel otak dan menyebabkan kerusakan hingga kematian pada fungsi otak. Akibatnya, otak yang semula berfungsi untuk mengingat dan mengatur perilaku, tak lagi bisa menjalankan tugasnya.

Istilah medis mengenal demensia alzheimer sebagai penyakit yang menyebabkan kondisi penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat, daya pikir, kemampuan berbahasa, mengenali benda-benda, dan orientasi.

"Pada orang terkena demensia alzheimer, otak akan mengalami pengerutan lebih cepat dibandingkan penuaan normal. Yang terjadi gangguan kognitif seperti lupa dan masalah berbahasa serta gangguan perilaku," kata ahli neurologi, dr Yuda Turana kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/9).


Pengerutan dan kerusakan pada otak ini terjadi secara kronis dan bertahap.

Pada tahap awal, serangan itu mengenai bagian otak hipokampus yang berada pada otak besar. Hipokampus berfungsi membangun memori atau ingatan jangka panjang. Tak heran jika lupa ingatan menjadi salah satu gejala demensia.


Selanjutnya, kerusakan otak menjalar perlahan hingga menyerang seluruh bagian otak.

Kerusakan ini, kata Yuda, dapat memakan waktu hingga tiga tahun yang ditandai dengan beberapa gangguan kognitif berupa lupa ingatan dan hilangnya pengetahuan.

Gejala akan semakin berkembang parah dan disertai gangguan perilaku pada tahun keempat.

"Demensia alzheimer disebut penyakit 'long say goodbye'. Artinya, dari saat diagnosa sampai kerusakan parah atau meninggal bisa sekitar 8-10 tahun," ucap Yuda.

Sayangnya, sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab demensia alzheimer. Namun, para pakar mengaitkan penyakit itu dengan faktor risiko seperti usia, genetik, dan gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi rokok, alkohol, dan kurang olahraga.


Selain itu, ahli medis juga masih berupaya mencari pengobatan untuk orang dengan demensia alzheimer. Meski demikian, orang dengan demensia (ODD) beserta keluarga tak lantas putus harapan.

"Orang dengan demensia bukan diasingkan tapi harus banyak distimulasi supaya bisa bertahan," ujar ahli kejiwaan, dr Martina Wiwie, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (19/9).

Orang dengan demensia tetap harus dilibatkan dalam aktivitas sosial untuk merawat diri dan aktivitas otak untuk memperlambat kerusakan. Mereka juga harus terhidar dari stres, depresi dan malnutrisi. (ptj/asr)