Risiko Penyakit Akibat Jenazah Membusuk Saat Bencana

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 19:04 WIB
Risiko Penyakit Akibat Jenazah Membusuk Saat Bencana Penanganan korban gempa dan tsunami Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Proses evakuasi terhadap korban gempa dan tsunami di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, masih terus berlangsung hingga Selasa (2/10).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat sebanyak 844 korban tewas hingga Selasa (2/10).

Namun, sayangnya fasilitas ruangan untuk mengumpulkan jenazah dalam ruangan steril kurang mumpuni. Banyak jenazah korban yang terpaksa disimpan di halaman rumah sakit. Hal itu membuat warga atau korban yang selamat terpaksa harus 'hidup berdampingan' bersama dengan jenazah yang pelan-pelan membusuk.


Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto, mengatakan bahwa jenazah yang dikirimkan ke rumah sakit datang silih berganti.


"Pernah sampai 200 jenazah, dan itu enggak mungkin ditaruh dalam ruangan. Semua dijejerin di halaman," ujar Yurianto, mengutip ANTARA.

Kondisi seperti itu lambat laun bisa mengganggu kesehatan korban luka-luka yang dirawat di rumah sakit.

Bahaya dari pembusukan jenazah muncul dari kuman yang dicemarkannya melalui cairan maupun gas yang bisa menimbulkan penyakit. Pembusukan jenazah, kata Yurianto, akan lebih berbahaya pada korban yang mengalami luka terbuka.

"Pembusukan dari jam pertama sudah terjadi. Yang paling cepat itu di bagian otak dan saluran pencernaan," ujar Yurianto.

Apa yang ada di dalam usus jenazah, kata Yurianto, tidak steril lantaran menyimpan banyak penyakit dan kuman. Kuman-kuman itu kemudian membentuk gas hingga menggembung. "Yang kita takutkan itu pembusukan yang cepat ini," katanya.

Selain itu, jenazah juga mengeluarkan cairan dari pembusukan yang bisa mengalir ke mana-mana. "Ini sangat berbahaya bagi pasien lain," kata Yurianto.


Penyakit-penyakit yang ditularkan jenazah

Kendati demikian, bukan berarti kumpulan jenazah korban bencana alam bisa menimbulkan epidemi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa jenazah korban bencana alam hanya menimbulkan beberapa risiko kesehatan seperti infeksi saluran cerna, tuberkulosis, dan penyakit akibat virus yang ditularkan melalui darah.

Yang paling umum adalah infeksi saluran cerna. Gangguan itu mudah ditularkan melalui feses atau kotoran jenazah yang bocor. Penularan biasanya terjadi melalui kontak langsung dengan tubuh, pakaian kotor, atau peralatan yang terkontaminasi.

Selain itu, infeksi saluran cerna juga bisa menyebar akibat kontaminasi pasokan air dengan jenazah.

Selanjutnya adalah tuberkulosis yang dapat ditularkan jika bakteri bersifat aerosol (partikel padat yang ada di udara). Cairan dari paru-paru akan menyembur ke atas melalui hidung atau mulut selama penanganan jenazah.

Sementara penyakit yang ditularkan melalui darah dapat tertular akibat kontak langsung dengan kulit atau selaput lendir dari percikan darah jenazah. (asr/chs)