P3K Dasar untuk Obat-obatan PascaTsunami dan Gempa

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 02/10/2018 17:17 WIB
P3K Dasar untuk Obat-obatan PascaTsunami dan Gempa ilustrasi (CNN Indonesia/Anggit Gita Parikesit)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bertahan di tengah situasi sulit pascabencana tsunami Palu, gempa di Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah perlu dukungan logistik termasuk obat-obatan.

Dikutip dari buku Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana (2007), terdapat beberapa gangguan kesehatan yang rentan terjadi saat gempa bumi dan tsunami. 

Gempa atau tsunami rawan gangguan kesehatan berupa luka memar, luka sayatan, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gastritis atau radang lambung, malaria, asma, penyakit mata dan penyakit kulit.



Berikut Pertolongan Pertama Pada kecelakaan (P3K) sederhana yang diperlukan saat darurat seperti tsunami Palu atau gempa di Donggala, Sigi, dan Palu.

1. Kassa steril dan kapas

Luka sayatan atau luka terbuka sebaiknya dibersihkan menggunakan alkohol 70 persen atau povidone iodine. Povidone iodine berfungsi kurang lebih sama dengan alkohol yakni untuk membersihkan luka dari kotoran, debu serta membunuh bakteri sehingga luka tidak rentan mengalami infeksi. 

Sebaiknya luka tidak dibiarkan terbuka. Tutup luka dengan kassa steril dan lapisi dengan perban. Luka yang tertutup akan sembuh lebih cepat daripada luka terbuka. 

2. Ethyl chloride spray

Ethyl chloride spray atau etil klorida merupakan obat untuk mencegah rasa sakit akibat prosedur operasi, cedera akibat olahraga, dan nyeri otot.

Obat ini berbentuk cair dan disemprotkan pada bagian tubuh yang mengalami memar akibat benturan keras atau tertimpa benda yang jaruh akibat gempa. Obat mampu memberikan rasa sejuk pada luka memar. 

3. Salbutamol

Bagi mereka yang mengalami asma, salbutamol merupakan obat yang tepat diberikan. Obat ini dapat melebarkan saluran udara pada paru-paru. Sesak napas biasanya terjadi karena penyempitan saluran udara sehingga salbutamol bekerja dengan cara melemaskan otot-otot sekitar saluran pernapasan sehingga udara mengalir lebih lancar ke paru-paru. 

Salbutamol dapat dengan cepat melegakan pernapasan. Di pasaran, salbutamol hadir dengan beragam merk dagang antara lain, Ventolin Inhaler, Astharol, Azmacon, Fartolin, Salbuven, Suprasma dan Velutine. 


4. Amoxycilin

Amoxycilin merupakan salah satu jenis antibiotik penicilin untuk mengobati berbagai macam infeksi bakteri. Penyalahgunaan antibiotik hanya akan menyebabkan efektivitas obat menurun atau malah membuat tubuh kebal terhadapnya. Perlu tenaga medis profesional yang akan memberikan resep atau anjuran aturan pakai. 

5. Paracetamol

Paracetamol masuk ke dalam golongan obat pereda nyeri atau analgesik serta penurun demam atau antipiretik. Paracetamol berguna untuk meredakan rasa sakit ringan hingga menengah. 

Obat ini bekerja dengan cara menurunkan produksi zat prostaglanding. Prostaglanding merupakan unsur yang dilepaskan tubuh sebagai reaksi kerusakan jaringan atau infeksi. Pelepasan zat ini memicu peradangan, demam dan rasa nyeri. Saat produksi zat terhalang, maka orang dapat terhindari dari rasa nyeri dan demam. 

6. Artesunat dan amodiakuin

Dikutip dari Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 043/MENKES/SK/I/2007 tentang 'Pedoman Pengobatan Malaria', amodiakuin merupakan obat antimalaria. Obat berfungsi sebagai antipiretik dan antiradang. Artesunat menjadi kombinasi amodiakuin untuk pengobatan malaria tanpa komplikasi. 

7. Obat Antidiare

Salah satu masalah besar yang kerap terjadi di pengungsian adalah penyakit diare. Jika tak ditangani, penyakit ini akan jadi masalah besar karena bisa menular dengan mudah.

Obat antidiare adalah salah satu jenis obat penting dan mendasar yang harus tersedia dalam P3K. (els/chs)