Studi: Suplemen Vitamin D Tak Ampuh Tekan Risiko Osteoporosis

Tim, CNN Indonesia | Senin, 08/10/2018 20:30 WIB
Studi: Suplemen Vitamin D Tak Ampuh Tekan Risiko Osteoporosis Ilustrasi suplemen (Pixabay/Mizianitka)
Jakarta, CNN Indonesia -- Segudang manfaat vitamin D telah diyakini banyak orang. Vitamin D disebut berperan besar untuk menghindari tulang dari keretakan. Tak heran jika suplemen vitamin D kerap direkomendasikan bagi orang lanjut usia demi mencegah osteoporosis.

Namun, kini Anda mungkin perlu 'menyembunyikan' suplemen vitamin D untuk sementara waktu. Hasil penelitian anyar melawan anggapan manfaat suplemen vitamin D untuk kesehatan tulang.

Penelitian itu menyebut bahwa suplemen vitamin D sama sekali tak menyehatkan tulang, apalagi menghindari orang dewasa dari risiko tulang retak. Justru, penelitian yang dipublikasikan dalam Lancet Diabetes & Endocrinology itu menemukan bahwa suplemen vitamin D terkait dengan peningkatan beberapa risiko penyakit seperti osteoporosis dan hipertensi.



"Penelitian kami menemukan bahwa suplemen vitamin D tak mampu mencegah kerusakan tulang atau memperbaiki kepadatan tulang, meski dikonsumsi dalam dosis tinggi," ujar pemimpin studi, dr Mark J Bolland dari University of Auckland, New Zealand, mengutip CNN.

Para peneliti melakukan meta-analisis terhadap lebih dari 53 ribu orang yang didominasi oleh wanita berusia 65 tahun ke atas. Mereka adalah orang-orang yang getol mengonsumsi suplemen vitamin D harian.

Kendati demikian, bukan berarti suplemen vitamin D sepenuhnya buruk. Penelitian juga menemukan bahwa suplemen vitamin D membantu mencegah beberapa kondisi langka seperti rakitis dan osteomalasia yang merupakan kelainan penyebab tulang lunak.

Atas hasil penelitian itu, Boland mengimbau para dokter untuk menyetop rekomendasi penggunaan suplemen vitamin D pada pasien untuk mencegah osteoporosis. "Harus ada perubahan guideline soal itu," ujarnya.


Masih jadi perdebatan

Penelitian yang menemukan fakta anyar tentang suplemen vitamin D ini menjadi perdebatan. Beberapa mengkritisi minimnya peserta studi yang diikutsertakan dalam penelitian.

Sebagaimana diketahui, beberapa uji coba dalam meta-analisis memang hanya menggunakan jumlah peserta yang kecil.

"Percobaan tersebut menyertakan peserta dalam jumlah yang terlalu sedikit," ujar ahli epidemiologi dan kesehatan masyarakat Oxford University, Profesor Robert Clake.

Pro dan kontra suplemen vitamin D telah lama diperdebatkan. Vitamin D berkadar tinggi ditemukan dalam berbagai makanan seperti tuna, salmon, sarden, dan masih banyak lagi.

Sebelumnya, laporan yang ditulis dr Clifford Rosen dari Tufts University School of Medicine menyebut bahwa sinar matahari dan makanan adalah cara terbaik untuk mendapatkan vitamin D dibandingkan suplemen. (asr/chs)


BACA JUGA