HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA

Krisis Kesehatan Jiwa 'Kuras' Perekonomian Global Hingga 2030

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 10/10/2018 19:25 WIB
Krisis Kesehatan Jiwa 'Kuras' Perekonomian Global Hingga 2030 Ilustrasi rehabilitasi gangguan kesehatan jiwa (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Layaknya kanker, gangguan kesehatan jiwa juga ditakuti banyak orang dan menimbulkan sederet kerugian, termasuk ekonomi. Gangguan kesehatan jiwa dilaporkan mampu menguras perekonomian global hingga US$16 triliun antara tahun 2010 hingga 2030.

Angka itu dilaporkan oleh 28 spesialis dari berbagai negara termasuk psikiatri, kesehatan masyarakat, ilmu saraf, pasien kesehatan jiwa, serta kelompok advokasi dalam laporan The Lancet Comission. Mereka sepakat bahwa krisis kesehatan mental dapat membahayakan individu, komunitas, dan ekonomi di seluruh kota di dunia.

Biaya langsung itu meliputi layanan kesehatan dan obat atau terapi lain. Namun, yang tak kalah menguras ialah biaya tak langsung berupa hilangnya produktivitas, menurunnya tingkat kesejahteraan sosial, pendidikan, dan hukum.



"Situasinya sangat suram. Tak ada kondisi kesehatan lain yang sangat disepelekan seperti kesehatan jiwa," ujar salah seorang penulis laporan, Vikram Patel, mengutip Reuters.

Beban dari gangguan kesehatan jiwa meningkat secara dramatis dalam 25 tahun terakhir. Sayangnya, belum ada satu pun negara yang berinvestasi cukup dalam mengatasi masalah ini.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 300 juta orang di seluruh dunia mengidap depresi dan 50 juta orang mengalami demensia. Selain itu, mereka yang mengidap skizofrenia diperkirakan ada sebanyak 23 juta orang dan gangguan bipolar sebanyak 60 juta orang.

Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2013, prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400 ribu atau sebanyak 1,7 per seribu penduduk.

Sedangkan prevalensi gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 6 persen dari jumlah penduduk Indonesia.


Richard Horton, pemimpin redaksi jurnal kesehatan The Lancet, menyebut bahwa ada perlakuan memalukan dan tidak semestinya pada mereka orang-orang dengan gangguan mental dan jiwa.

Laporan menyebut pasien dengan gangguan kesehatan jiwa mengalami penyiksaan, pemasungan, dan pemenjaraan di beberapa negara.

Padahal, pendekatan yang lebih manusiawi sangat diperlukan untuk mengatasi gangguan kesehatan mental dan jiwa. Salah satunya dengan layanan masyarakat berbentuk komunitas yang menyediakan perawatan secara psikososial. (els/asr)