Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

WHO: 23 Juta Warga Dunia Idap Skizofrenia

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 10/10/2018 14:50 WIB
WHO: 23 Juta Warga Dunia Idap Skizofrenia ilustrasi kesehatan jiwa (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kesehatan jiwa kerap disepelekan bahkan diabaikan. Hari ini dunia memperingati World Mental Health Day atau hari kesehatan jiwa sedunia dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan jiwa di seluruh dunia sekaligus menggerakkan dukungan akan kesehatan jiwa. 

Saat hal ini dianggap sepele, rupanya Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setidaknya sekitar 300 juta orang di seluruh dunia mengidap depresi dan 50 juta lainnya mengalami demensia. Dikutip dari Reuters, sekitar 23 juta orang mengalami skizofrenia dan sekitar 60 juta orang mengalami gangguan bipolar. 

Kesehatan jiwa tak hanya mengancam orang dewasa tetapi juga generasi milenial. Jika awalnya gangguan kesehatan jiwa muncul akibat perubahan situasi lingkungan seperti pindah lokasi kerja atau putus dengan kekasih, kini ancaman kesehatan jiwa juga bisa timbul akibat teknologi. 



Kehadiran teknologi komunikasi yang canggih salah satunya lewat media sosial mau tidak mau memberikan sisi positif yakni konektivitas. Sedangkan sisi negatifnya, konektivitas ini juga bisa menghadirkan tekanan kapan pun bahkan kala waktu tidur saat orang seharusnya beristirahat. 

Dilansir dari situs resmi WHO, separuh dari gangguan kesehatan jiwa dimulai dari usia 14 tahun. Banyak kasus yang tak terdeteksi dan diabaikan untuk terapi. Alasannya pun beragam. 

"Dalam hal beban penyakit di antara remaja, depresi menempati urutan ketiga penyebab kasus. Bunuh diri jadi penyebab kedua kematian di antara orang usia 15-29 tahun," tulis WHO dalam laman resminya (10/10). 

Oleh karena itu, harapan akan kesadaran kesehatan jiwa benar-benar harus ditingkatkan. Pencegahan dimulai dengan waspada dan memahami tanda dan gejala awal. WHO menyebut guru dan orang tua dapat membantu anak untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. 

Sekolah dapat menyediakan dukungan dari segi psikososial. Selain itu, penting bagi pemerintah untuk berinvestasi dalam program-program yang berkaitan dengan peningkatan kesadaran kesehatan jiwa. (els/chs)