Negara Pengeruk Untung dari Sektor Pariwisata

CNN Indonesia | Jumat, 12/10/2018 17:36 WIB
Negara Pengeruk Untung dari Sektor Pariwisata Ilustrasi wisatawan (Foto: REUTERS/Erik De Castro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 10 tahun terakhir, beberapa negara di dunia melirik pariwisata sebagai salah satu sektor yang bisa digarap dan mendatangkan untung. Tak bisa dipungkiri, hal inilah yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar), target wisatawan mancanegara tahun 2018 dipatok sebesar 17 juta orang sehingga potensi pemasukan devisanya mencapai US$ 18,7 miliar (sekitar Rp278 triliun).

Sementara itu, berdasarkan data Organisasi Pariwisata Dunia atau United Nations World Tourism Organisation (UNWTO), pada tahun 2017 sektor pariwisata turut menyumbang sebesar US$1340 miliar (atau sekitar Rp20,3 kuadriliun) dalam perekonomian dunia.


Sebanyak 39 persen dari angka tersebut, mengalir ke benua Eropa. Sementara itu kawasan Asia Pasifik memperoleh sekitar 29 persen, dan kawasan Amerika meraih 24 persen.

Meskipun berada di tempat ketiga, Amerika Serikat justru keluar sebagai negara yang meraih untung terbesar dari sektor pariwisata dengan pendapatan sebesar US$299 miliar (atau sekitar Rp3,3 kuadriliun).

Posisi kedua diisi oleh Spanyol, yang berhasil mendatangkan uang dari sektor pariwisata sebesar US$96 miliar (atau sekitar Rp1,4 kuadriliun).

Sedangkan Perancis berada di posisi ketiga dengan keuntungan sebesar US$86 miliar (atau sekitar Rp1,3 kuadriliun)

Sedangkan Thailand berhasil keluar sebagai macan Asia dalam ranah pariwisata, negeri gajah putih ini berhasil bertengger di posisi ke empat dan mengeruk untung sebesar US$81 miliar (atau sekitar Rp1,2 kuadriliun).

Mengutip Traveller, perwakilan Asia yang masuk dalam daftar ini setelah Thailand, adalah Makau dan Jepang.

Makau yang merupakan Daerah administratif khusus di China, berhasil meraih keuntungan sebesar US$51 miliar (atau sekitar Rp775 triliun).

Sedangkan Jepang yang berada di posisi ke-10 meraih keuntungan sebesar US$48 miliar (atau sekitar Rp730 triliun).

(agr/ard)