Sejarah Teh Celup dan Sariwangi di Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 18/10/2018 08:42 WIB
Sejarah Teh Celup dan Sariwangi di Indonesia Ilustrasi secangkir teh panas (langll/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Sariwangi tentu tak asing lagi di telinga. Itu adalah nama salah satu merek teh celup paling populer di Indonesia.

Belakangan, Sariwangi mendadak jadi sorotan. Ia dikabarkan pailit akibat utang yang melilitnya.

Status pailit itu didapat setelah Pengadilan Jakarta Pusat mengabulkan pembatalan homologasi atau perjanjian perdamaian antara PT Bank ICBC Indonesia dengan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (Sariwangi AEA) dan Maskapan Perkembunan Indorub Sumber Wadung.


Kepala Humas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Wiwik Suhartono, mengatakan bahwa putusan tersebut akan diumumkan kepada Sawriwangi dan Maskapai Perkebunan. Kemudian, pihaknya akan memverifikasi tagihan-tagihan dari kedua perusahaan tersebut.

Sariwangi dikenal sebagai salah satu pelopor teh celup di Indonesia. Menyitat laman resminya, Sariwangi berdiri sejak 1962 oleh Johan Alexander Supit. Secara resmi, ia berdiri dengan nama PT sariwangi Agricultural Estate Regency.


Meski telah berdiri sejak 1962, namun Sariwangi baru diperkenalkan pada publik sebagai produk teh celup asli Indonesia pada beberapa tahun kemudian.

Awalnya, teh ini diperkenalkan dengan nama Teh Celup pada tahun 1972. Namun pada 1973, ia resmi diperkenalkan pada publik sebagai 'Sariwangi'.

Budaya teh celup sendiri dimulai sejak Thomas Sullivan, seorang pedagang teh dan kopi dari New York, Amerika Serikat, mengirim sampel teh dalam kantong sutra kecil kepada para pelanggannya.

Kantong sutra dipilih Sullivan atas alasan ekonomis. Penggunaan kaleng untuk kemasan teh dianggapnya bakal memakan biaya yang lebih besar.


Awalnya, tak semua pelanggan Sullivan mengerti penggunaan teh celup. Mereka pikir, teh celup tak ubahnya teh bubuk yang langsung 'ditumpahkan' pada air panas. Alhasil, mereka juga langsung 'melempar' teh celup tersebut ke air panas.

Sejak saat itu, kepopuleran teh celup melonjak dan mulai dipasarkan secara komersial pada sejak 1904 silam.

Sariwangi sendiri berdiri di tengah kemerosotan pasar teh daun Indonesia. Saat itu, teh daun berbentuk bubuk yang disajikan dengan cara disaring dianggap kuno dan tidak praktis. (asr/chs)


ARTIKEL TERKAIT