Mengenal Post-Sex Blues alias Rasa Sedih Usai Bercinta

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 23/10/2018 00:00 WIB
Mengenal Post-Sex Blues alias Rasa Sedih Usai Bercinta Ilustrasi (Istockphoto/dima_sidelnikov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kita tentu tak asing dengan istilah 'blues'. Nama yang terakhir itu kerap dikaitkan dengan perasaan sedih dan sendu.

Salah satu yang paling umum adalah kondisi 'baby blues' yang menyerang wanita pasca-melahirkan. Namun, tak cuma itu, kondisi sendu atau gangguan perasaan ini juga bisa muncul setelah aktivitas bercinta bersama pasangan. Kondisi ini dikenal dengan istilah 'post-sex blues'.

Meski beberapa studi menunjukkan post-sex blues lebih umum dialami wanita, namun penelitian teranyar menyebut kondisi ini bisa menyerang siapa saja tak mengenal jenis kelamin.


Dikutip dari Health24, studi melibatkan partisipan pria dari Australia, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Selandia Baru, dan Jerman.


Hasilnya, sebanyak 41 persen partisipan mengakui dirinya sedih atau merasa tak nyaman setelah berhubungan intim dengan pasangan. Sebanyak 4 persen mengalami perasaan sedih yang biasa saja. Sedangkan sebagian tak merasakan apa-apa dan hampa. Umumnya mereka merasa tak ingin disentuh, ingin sendirian, merasa tak puas, terganggu, dan cemas.

Eugene Viljoen, psikolog klinis sekaligus seksolog, menuturkan bahwa umumnya perasaan yang muncul pascaseks ialah rasa segar dan semangat. Namun, faktanya ada pula beberapa dari mereka yang merasakan sebaliknya.

"Ini tak ada hubungannya dengan perasaan subjektif tentang kualitas seks. Emosi mengalir liar dalam bentuk negatif, dan orang akan bertanya-tanya kenapa mereka merasa begitu stres setelah berhubungan intim, tanpa bisa menjelaskan satu pun penyebabnya," jelas Viljoen.

Post-sex blues mempunyai beberapa gejala utama seperti rasa stres atau depresi. Rasa negatif muncul setelah orgasme tanpa ada alasan spesifik.


Sampai saat ini, belum diketahui pasti apa yang menyebabkan post-sex blues. Viljoen menduga bahwa ini ada hubungannya dengan saraf otak. Neurotransmiter alias penghantar sinyal rasa positif tidak berfungsi dengan normal.

"Pelecehan seksual di masa kecil bisa memainkan peran seperti memicu emosi negatif efek pelecehan dan membawa kembali ingatan buruk di masa lalu," imbuh Viljoen.

Solusinya?

Meski terdengar biasa saja, tapi post-sex blues menimbulkan dampak buruk dalam hubungan. Hal ini bisa menimbulkan gangguan rumah tangga, memicu konflik, dan menimbulkan stres berkepanjangan.

Viljoen menyarankan agar mengkomunikasikan rasa sedih itu dengan pasangan. Yakinkan pasangan bahwa rasa sedih ini tak berhubungan dengan kualitas seks.

"Konsultasikan dengan tenaga medis yang bisa memberikan resep obat untuk gangguan perasaan. Ini juga penting untuk mendapat konseling di samping pengobatan, karena pengobatan berisiko menimbulkan efek samping yang tak ideal untuk mencapai hubungan seks yang berhasil," ujarnya. (els/asr)