Kenali Gejala Awal Prediabetes untuk Cegah Diabetes

CNN Indonesia | Jumat, 26/10/2018 11:57 WIB
Kenali Gejala Awal Prediabetes untuk Cegah Diabetes Ilustrasi diabetes (Astari Kusumawardhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diabetes mengintai masyarakat Indonesia. Penelitian menunjukkan, tidak ada satupun masyarakat Indonesia yang bebas dari gen diabetes.

Meski begitu, perkembangan diabetes dapat dicegah pada setiap orang dengan mengetahui gejala awal dan memulai gaya hidup sehat.

"Diabetes itu punya faktor genetik atau keturunan dan tidak ada satu pun orang Indonesia bebas dari gen diabetes ini," ujar ahli penyakit dalam, dr Dante Saksono dalam diskusi yang digelar oleh Novo Nordisk di Jakarta, Rabu (24/10).


Gen tersebut, kata Dande, bersifat multigenetik dan bisa dicegah dengan deteksi dini pada kelompok prediabetes.


Dante menjelaskan, penyakit gula darah ini berkembang dari kondisi normal hingga menjadi diabetes mesti melalui tahapan prediabetes yang berlangsung dalam kurun waktu lama sekitar 5-10 tahun.

Kondisi prediabetes terjadi saat gula darah seseorang naik dan melebihi batas normal, tetapi tidak cukup tinggi untuk tergolong sebagai diabetes. Kadar gula darah normal berada di bawah 100 mg/dL, prediabetes bergerak pada rentang 100-124 mg/dL dan diabetes sudah melebihi 125 mg/dL.

Pada kondisi prediabetes, Dante menyebut, tubuh mulai menunjukkan tanda dan gejala. Tanda paling umum adalah akantosis nirikans, yaitu kondisi kulit yang menggelap pada bagian lipatan dan kerutan tubuh.

"Yang paling jelas bisa dilihat di bagian belakang leher. Jika ada garis menghitam, itu menunjukkan insulin tidak bisa bekerja," ungkap dokter spesialis endokrinologi ini.


Di masa prediabetes itu juga muncul beberapa gejala seperti lebih sering haus, sering buang air kecil, dan menjadi lebih banyak makan. Hal ini terjadi karena sel dalam tubuh tidak mendapatkan pasokan makanan akibat resistansi insulin.

Gejala lain yang juga kerap muncul pada prediabetes dan diabetes di antaranya berat badan turun dengan cepat, pandangan buram akibat komplikasi, luka yang tak kunjung sembuh, kesemutan, kaki menghitam, keputihan pada wanita, dan disfungsi ereksi pada pria.

Dante mengatakan, gejala ini muncul karena adanya penumpukan lemak yang tidak bisa diolah insulin pada pembuluh darah. Penumpukan itu dapat menghambat aliran darah ke seluruh tubuh.

Dante menyarankan setiap orang yang sudah memiliki tanda dan gejala ini untuk memeriksakan gula darah dan memulai gaya hidup sehat. Gaya hidup sehat itu dapat dilakukan dengan memiliki berat badan dan diet seimbang serta olahraga teratur.


Pengecekan untuk deteksi dini diabetes juga disarankan bagi orang yang berusia di atas 30 tahun setiap sekali dalam setahun dan sekali dalam enam bulan untuk orang-orang yang berisiko tinggi.

Orang yang berisiko tinggi itu meliputi jenis etnik tertentu. Di Indonesia, kata Dante, secara genetik penelitian menunjukkan entik Manado, Gorontalo, dan Ternate berisiko paling tinggi terkena diabetes.

Orang dengan obesitas juga berisiko tinggi karena sel lemak membuat insulin yang mengubah glukosa menjadi resistan. Diabetes juga berisiko tinggi pada orang yang kurang berolahraga dan memiliki diet tidak seimbang. (ptj/asr)


BACA JUGA