SURAT DARI RANTAU

Minus 24 Derajat di Tengah Kehangatan Swedia

Stanley Setiawan, CNN Indonesia | Minggu, 28/10/2018 16:00 WIB
Minus 24 Derajat di Tengah Kehangatan Swedia Stockholm Stadhuset atau Balai Kota Stockholm (kiri) dan Pulau Riddarholmen (kanan). Dua destinasi wisata populer di Stockholm, Swedia. (Dok. Stanley Setiawan)
Stockholm, CNN Indonesia -- Mendekati akhir tahun di Stockholm, Swedia, berarti semakin dekat pula dengan kedatangan musim dingin yang mengharuskan saya bergulung dalam pakaian tebal untuk keluar rumah.

Mendekati tahun yang baru berarti semakin dekat pula dengan akhir jabatan saya sebagai kordinator wilayah di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Stockholm.

Mendekati pergantian tahun berarti semakin dekat pula dengan rampungnya waktu studi saya mengejar gelar master di negeri Nordik ini.


Sebelum akhirnya memilih Swedia sebagai tujuan menuntut ilmu selama satu tahun dua bulan ke belakang, Jerman sempat masuk pertimbangan sebagai negara tujuan saya dalam mengejar gelar master di bidang teknik medis.

Namun melihat persyaratan kuliah di Jerman yang mengharuskan saya mengejar sertifikat berbahasa Jerman terlebih dahulu, Negara Panser gugur sebagai kandidat. Hati langsung beralih ke Swedia.

Persyaratan untuk kuliah di Swedia tidak muluk-muluk.

Swedia hanya menuntut sertifikat berbahasa Inggris seperti TOEFL atau IELTS, surat rekomendasi dosen atau atasan di kantor, laporan rencana studi dan esai (motivation letter).

Berbekal dokumen-dokumen tersebut, jadilah saya sebagai salah satu murid yang mengabdi di Royal Institute of Technology (KTH) di Stockholm.

Pertama datang ke Swedia saya cukup terkejut dengan jumlah orang Asia di negeri terbesar ke-empat Eropa ini.

Sosok penulis. (Dok. Stanley Setiawan)

Stockholm, sebagai ibu kota negara, hanya memiliki 60 pelajar Asia aktif, yang kebanyakan adalah murid S2 dan S3.

Dari sekian banyak pelajar, hanya satu pelajar Indonesia yang mengejar S1 di sini. Hal itu karena kegiatan studi S1 di Swedia cukup "menantang" karena memang menggunakan bahasa Swedia sebagai pengantar.

Meski tak banyak kawan sesama Asia yang merantau di sini, saya tak kesulitan bergaul dengan penduduk lokal maupun kawan dari benua lain.

Orang-orang di sini terbilang fasih berbahasa Inggris dan sangat ramah dengan turis atau perantau.

Tak ada pandangan sinis atau rasis terhadap kami yang berkulit sawo matang. Pengalaman terkait merajut hubungan sosial di sini sangat positif di mata saya.

Dulu saya sangat mengidolakan Jerman, tapi setelah merasakan merantau di Swedia saya jadi jatuh hati dengan negara ini.

Drottningholms Slott atau kastel Ratu Swedia saat musim dingin tahun lalu. (Dok. Stanley Setiawan)

Bahkan badai salju yang menghantam di musim dingin saja bisa saya pandang positif.

Pada tahun lalu saya sempat merasakan ekstremnya musim dingin di Swedia ketika badai salju menyerang Serbia. Kala itu suhu turun begitu drastis hingga -24 Celcius.

Salju turun deras selama dua hari berturut-turut. Tumpukan salju yang menyelimuti daratan tak kunjung sirna hingga satu setengah bulan penuh.

Walaupun dinginnya terasa ekstrem, keindahan suasana musim dingin di Swedia benar-benar mengesankan.

Saat musim dingin matahari di Swedia hanya bersinar selama enam jam.

Namun berkat tumpukan salju yang menyelimuti penjuru kota, sejauh mata memandang yang saya lihat hanya hamparan putih yang merefleksikan cahaya bulan. Benar-benar indah.

Belum lagi kalau tiba-tiba beruntung melihat pesona Cahaya Aurora di tengah malam.

Selain Stockholm, kota-kota setempat seperti Norway, Astonia dan Riga juga sempat saya jajaki dengan wisata pesiar.

Swedia merupakan destinasi yang tepat jika ingin wisata pesiar dengan harga yang relatif terjangkau.

Bermodalkan 600 Krona (sekitar Rp998 ribu) per orang, saya sudah bisa menumpang semacam kapal ferry dengan layanan bak kapal pesiar bintang lima ke sejumlah destinasi di Swedia selama dua malam.

Tapi terlepas dari segelintir kebahagiaan yang saya dapat di Swedia, masih tersimpan rasa rindu yang tertanam kepada kampung halaman.

Khususnya untuk martabak manis yang menjadi hidangan kecintaan saya. Rasanya tak sabar menunggu momen menggigit legitnya martabak ketika nanti kembali ke Tanah Air.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

(fey/ard)