Sarkoma, Kanker Ganas yang Gemar Menyamar

CNN Indonesia | Kamis, 01/11/2018 14:06 WIB
Sarkoma, Kanker Ganas yang Gemar Menyamar ilustrasi kanker (PDPics/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di antara jenis kanker lainnya, kanker sarkoma mungkin terdengar sedikit asing.

Sarkoma merupakan salah jenis kanker ganas yang dapat menyerang tubuh. Kanker sarkoma dapat muncul di seluruh tubuh karena berkembang di jaringan ikat, seperti otot, lemak, tulang, tulang rawan, dan pembuluh darah. 

Padahal sebenarnya kanker ini tergolong berbahaya sebab gejala dan ciri kanker ini sering kali tak disadari karena gemar menyamar. Saat gejala itu muncul banyak penderita menganggapnya tidak berbahaya lantaran dianggap sebagai penyakit ringan seperti nyeri dan perut kembung.



Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab berkembangnya sel kanker jaringan lunak ini. Namun, faktor yang meningkatkan risiko terkena sarkoma diantaranya adalah riwayat sarkoma di keluarga, memiliki penyakit kelainan tulang, kelainan genetik seperti neurofibromatosis, sindrom Gardner, retinoblastoma, atau sindrom Li-Fraumeni, dan juga terpapar radiasi.

Walaupun tergolong langka karena ditemui pada satu persen kasus kanker pada orang dewasa, perkembangan kanker ini kian pesat. Penelitian di Inggris menunjukkan lompatan signifikan dalam jumlah orang yang didiagnosis sarkoma setiap tahunnya, dari 3.800 menjadi 5.300 saat ini.

Studi dari Amerika Serikat (AS) juga memperkirakan lebih dari 13 ribu orang di AS terdiagnosis sarkoma jaringan lunak pada 2018 dan mengakibatkan sekitar lima ribu kematian. 

Berdasarkan data dari Parkway Cancer Center dan Parkway Hospitals, Singapura, terdapat lebih dari 70 sub-tipe kanker sarkoma. 

Hal ini membuat sarkoma rumit didiagnosis dan ditangani. Belum lagi, pemahaman masyarakat dan bahkan sebagian tenaga medis masih sangat terbatas. Alhasil, diagnosis sering kali terlambat dan keliru yang membuat penanganan pun tidak tepat. 

Penelitian menunjukkan terdapat kesalahan penanganan pada 70 persen pasien sarkoma.  Kesalahan ini berkontribusi pada rendahnya tingkat kelangsungan hidup rata-rata lima tahun (five-year survival rate) yaitu sekitar 50 persen saja.


Studi dari Belgia juga mengungkapkan 47 persen pasien  sarkoma jaringan lunak membiarkan gejalanya selama sekitar empat bulan sebelum menemui dokter. Setelah itu, pasien umumnya berkonsultasi ke dokter umum, yang kemungkinan besar hanya menghadapi satu atau dua kasus sarkoma sepanjang karier mereka.

Di Inggris, tercatat 20 persen dokter umum terlambat lebih dari tiga bulan dalam merujuk pasien tersebut ke spesialis.

"Ini memprihatinkan karena sampai saat ini pemahaman akan sarkoma yang begitu kompleks, ini masih kurang lengkap, khususnya di Asia," kata Konsultan Senior Onkologi Medis Parkway Cancer Centre (PCC) Dokter Richard Quek, saar berbicara di sebuah diskusi media di Jakarta, seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (31/10).

Quek menjelaskan kasus sarkoma banyak ditemui pada pasien dewasa muda dan remaja, kelompok usia yang jarang diasosiasikan dengan kanker.

Gejala

Gejala sarkoma yang timbul dapat berbeda-beda, tergantung dari mana sarkoma tersebut berasal. Sarkoma jaringan lunak yang muncul di lengan atau kaki, memiliki gejala paling umum seperti munculnya benjolan besar tanpa rasa sakit. 

Sedangkan, sarkoma yang tumbuh di tulang tangan atau kaki, pasien umumnya mengeluhkan nyeri tulang, serta sakit di sekitar area tulang yang terdampak ketika beristirahat atau tidur malam. Beberapa pasien bahkan mungkin mengalami retak tulang. 

Gejala-gejala lainnya meliputi ruam gelap pada angiosarcoma atau kanker pembuluh darah, batuk dan sesak napas jika sarkoma berkembang di area dada, serta kembung dan mudah merasa kenyang jika sarkoma tumbuh di bagian perut.

Jika menemui gejala ini, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

"Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyadari kondisi tubuh sendiri. Kemudian, tanyakan pada dokter umum apakah Anda perlu menemui dokter spesialis atau menjalani tes lebih lanjut, seperti MRI atau CT scan, jika gejala tidak hilang setelah pengobatan rutin," kata Quek.

Menurut Quek, kanker sarkoma yang dideteksi dini saat sel masih berada di satu lokasi, tingkat kelangsungan hidup akan jauh lebih tinggi dibandingkan jika didiagnosis pada tahap akhir. (ptj/chs)