Surat Dari Rantau

'Mencontek' Gaya Hidup Berkelanjutan di Australia

Chalafabia Haris, CNN Indonesia | Sabtu, 03/11/2018 18:13 WIB
'Mencontek' Gaya Hidup Berkelanjutan di Australia Bagian sayuran organik dan sayuran biasa di salah satu swalayan di Sydney. (Foto: Dok. Chalafabia Haris)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2015 adalah pertama kalinya PBB memperkenalkan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TJB) atau yang lebih dikenal dengan nama Sustainable Development Goals.

Sejak itu pula, perhatian banyak orang mulai dibentuk untuk melihat lingkungan dengan cara yang lebih kritis dan ke depan.

Banyaknya teman saya yang memilih untuk menggunakan sedotan besi untuk menghindari penggunaan sedotan plastik membuat saya senang, meskipun saya juga jadi berpikir mengenai kemerataan kesadaran ini.


Apakah ini sudah menjadi kesadaran masyarakat umum? Ataukah masih sebatas permasalahan yang hanya diperhatikan oleh sebagian kalangan saja?

Pengaruh ini cukup saya rasakan, mulai dari tingkat akademis, hingga sesederhana bagaimana saya menjalani kehidupan sehari-hari saya seiring menjalani studi sarjana dan bekerja di Sydney, Australia.

Saya menjalani studi dalam bidang manajemen, yang berfokus pada sektor pariwisata dan restoran. Oleh karena itu, pelajaran mengenai bahan pangan dan pola makan dan konsumsi masyarakat pernah menjadi santapan sehari-hari saya.

Selama masa pendidikan, saya mempelajari bagaimana peran industri dapat berpengaruh meningkatkan minat orang terhadap pola makan yang etis dan berkelanjutan.

Seperti membeli bahan pangan yang organik, cruelty-free, dan diproduksi oleh petani setempat guna mengurangi jejak karbon dari transportasi, dan mendukung ekonomi lokal.

Woolworths misalnya, satu dari beberapa supermarket terbesar di Australia memutuskan untuk membeli perusahaan yang memproduksi makanan sehat segar maupun dalam kemasan, Macro Organic pada tahun 2009.

'Mencontek' Gaya Hidup Berkelanjutan di Australia Upaya memilah sampah di rumah untuk nantinya didaur ulang. (Foto: Dok. Chalafabia Haris)

Kini, setiap gerainya dapat memberikan saya pilihan untuk membeli daging ayam biasa, dan daging ayam bebas hormon dan bebas kurungan kandang. Antara biji kopi biasa, dan biji kopi organik yang dibeli dengan sistem pembayaran Fair Trade yang adil.

Selain itu, situs farmersmarkets.org.au yang dikembangkan oleh Australian Farmers' Market Association atau Asosiasi Pasar Petani Australia bisa menjadi situs interaktif dan bermanfaat sebagai petunjuk dan sumber informasi mengenai pasar petani lokal se-Australia.

Selain itu, pemerintah juga memiliki peran yang sama pentingnya yakni dengan kemampuannya dalam merancang dan membuat kebijakan publik. Hal ini akan mempengaruhi pola konsumsi dan operasi masyarakat dan industri.

Selain tempat sampah khusus daur ulang yang tersedia di setiap rumah, sejak 2009, negara bagian South Australia, ACT, Northern Territory, dan Tasmania menjadi negara bagian pertama yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Pada Juli 2018, negara bagian Western Australia dan Queensland ikut serta mengesahkan kebijakan ini. Sayangnya, negara bagian New South Wales tempat saya tinggal masih memilih untuk tidak ikut melakukan kebijakan ini.

Meskipun ini membuat saya resah, kabar baik datang Juli 2018 kemarin dengan keikutsertaannya Woolworths dan Coles dalam melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai.

'Mencontek' Gaya Hidup Berkelanjutan di Australia
Direktori pasar petani terdekat di situs farmersmarket.org.au (Foto: Screenshot via farmersmarket.org.au)


Sejumlah restoran dan bar di Sydney, termasuk tempat di mana saya bekerja bahkan berhenti menyediakan sedotan plastik sekali pakai, berkat kampanye bertagar #sydneydoesntsuck yang digagas oleh Wakil Walikota Sydney, Jess Miller.

Hal ini menjadi menarik untuk saya melihat reaksi banyak orang ketika menerima minuman pesanan mereka disajikan tanpa sedotan.

Beberapa orang ternyata masih memaksa untuk meminta sedotan, beberapa lainnya paham dan menjadikannya bahan obrolan bersama saya, dan beberapa lainnya tidak mementingkannya.

Gaya hidup berkelanjutan memang masih menjadi sesuatu yang baru, yang belum disadari dan dijalani oleh masyarakat luas, bahkan di kota besar yang terletak di negara maju seperti di Sydney.

Selain kurangnya bekal pengetahuan, banyaknya komitmen yang dituntut oleh gaya hidup ini membuat saya dan mungkin banyak orang lain merasa masih harus terus belajar.

Belum lagi faktor penghambat lain seperti malas memilah sampah, memilih menggunakan sedotan plastik ketika berada di luar rumah, dan lainnya.

Pada akhirnya selain tugas para pelaksana industri, institusi, dan pemerintah, membangun kesadaran ini juga harus menjadi kewajiban bagi orang-orang yang peduli.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

(agr)