Agar Terhindar dari Pelecehan Seksual

CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 18:19 WIB
Pelecehan seksual bisa terjadi di mana-mana. Seorang mahasiswa UGM mengaku menjadi korban pelecehan saat menjalani KKN pada 2017 lalu. Ilustrasi pelecehan seksual (Istockphoto/KatarzynaBialasiewicz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar tak enak berembus dari Yogyakarta. Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) berinisial A mengaku menjadi korban pelecehan seksual saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku, pada pertengahan 2017 lalu.

Pelecehan seksual diduga dilakukan oleh sesama rekan KKN. Kasus ini mencuat setelah Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung menerbitkan tulisan bertajuk "Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan".

Pelecehan seksual bukan hal asing lagi di zaman kiwari. Setiap ruang, di mana pun itu, seolah rawan pelecehan seksual.


Menilik pengalaman A, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga diri agar terhindar dari pelecehan seksual. Psikolog Melly Puspita Sari mengingatkan kita untuk selalu waspada.


"Kita harus aware, sadar di mana kita berada," kata Melly saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (7/11).

Saat berada di suatu tempat, seorang perempuan perlu sadar dengan siapa dia bersama. Kesadaran itu bisa dieksekusi dengan bentuk menjaga diri seperti berpakaian tidak seenaknya meski bersama anggota keluarga sekalipun.

Selain itu, diperlukan pula pemahaman yang baik tentang pelecehan seksual. Pemahaman ini penting agar orang tak terjerumus ke dalam perilaku melecehkan atau menjadi korban pelecehan.

Perilaku pelecehan seksual sendiri bermacam-macam bentuknya. Yang paling sederhana misalnya pandangan 'mesum' yang membuat seorang perempuan merasa tidak nyaman. Atau juga sentuhan di bagian tubuh, seperti pria yang sengaja menyentuh bokong wanita.

"(Bisa disebut pelecehan) kalau merasa tidak suka, tidak nyaman, merasa terganggu. Garis batasnya, kalau suka sama suka itu bukan pelecehan tapi motif lain," jelas Melly.


Enggan melapor

Sebagian orang masih menganggap bahwa seksualitas adalah hal tabu. Padahal, ini bisa menjadi modal penting buat anak.

Pendidikan seksualitas tak harus menunggu anak tumbuh remaja. Minimnya pendidikan seksualitas membawa dampak laten, salah satunya adalah keengganan mereka untuk melapor saat mengalami pelecehan seksual.

Melly melihat ada citra negatif dari seksualitas, sehingga orang tua merasa hal itu tak perlu diajarkan pada anak-anak.

"Ini berkembang menjadi stereotip. Ketika jadi korban, maka dia merasa yang terjadi padanya itu tabu untuk diketahui orang," papar Melly.


Ketakutan akan pandangan negatif masyarakat menjadikan korban bungkam. Padahal, korban sebaiknya terbuka pada pihak-pihak yang berkompeten atau dipercaya.

Melly sendiri mengapresiasi tindakan A yang melapor pada pihak kampus atas peristiwa yang dialaminya. Tindakannya, kata dia, dapat menjadi salah satu usaha untuk menghentikan peristiwa serupa terjadi kembali.

"Kalau tidak melapor, kita membuka ruang pada orang lain untuk melakukan (pelecehan)," imbuhnya. (els/asr)