Mengenal Japanese Encephalitis, Si Radang Otak Karena Virus

CNN Indonesia | Jumat, 09/11/2018 15:45 WIB
Mengenal Japanese Encephalitis, Si Radang Otak Karena Virus ilustrasi nyamuk (REUTERS/Josue Decavele)
Jakarta, CNN Indonesia -- Isu penyebaran kasus penyakit Japanese encephalitis di Pulau Bali merebak beberapa hari belakangan ini. Namun Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengungkapkan bahwa dia masih akan mengecek kabar tersebut.

"Ini lagi ditelaah, tingkat kebenarannya mesti dilihat, kita minta ke balai besar lab kesehatan dulu buat dicek," kata Nila di Acara Ekspo Disertasi Kemenkes di Gedung Kemenkes Jakarta, Jumat (9/11).

"Yang di Sulawesi Utara itu negatif."



Terkait kebenaran penyebaran penyakit tersebut, apa sebenarnya Japanese encephalitis? Japanese encephalitis disebut juga sebagai penyakit radang otak atau ensefalitis. Namun radang otak yang disebabkan oleh virus.

Mengutip berbagai sumber, virus penyebab penyakit tersebut termasuk dalam golongan flavivirus.


Vektor penyebaran dan penularan virus penyakit tersebut melalui nyamuk culex (terutama Culex tritaeniorhynchus), babi, unggas liar, atau burung sawah dan ladang. Nyamuk ini biasanya lebih aktif pada malam hari khususnya di musim hujan.

Nyamuk ini biasanya banyak terdapat di persawahan dan area irigasi. Kondisi ini umumnya banyak ditemukan di Indonesia, salah satunya di Bali.

Di Bali sendiri, kejadian penyakit radang otak ini dikaitkan dengan banyaknya area sawah dan peternakan babi di sana.

Tahun 2016 lalu, mengutip data Kemenkes RI, jumlah kasus Japanese Encephalitis dilaporkan terjadi sebanyak 326 kasus. Kasus terbanyak berada di Bali dengan jumlah 226 (69,3 persen).

"Indonesia merupakan salah satu daerah yang menjadi jalur migrasi unggas liar misalnya. Selain itu, di dalam riset Rikhus Vektora (2016), Badan Litbangkes Kemenkes menemukan 22 spesies kelelawar yang terkonfirmasi mengandung virus (Japanese enchepalitis) di beberapa daerah di Indonesia," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono saat pertemuan tingkat menteri The 5th Global Health Security Agenda (GHSA) di Nusa Dua Bali, Senin (5/11) dalam pernyataannya di laman Kemenkes.

Hal ini perlu kita antisipasi, karena kita mengetahui ada sebagian masyarakat kita yang mengonsumsi unggas liar juga kelelawar dengan berbagai alasan."  


Ditemui CNNIndonesia.com di Acara Ekspo Disertasi Kemenkes di Gedung Kemenkes Jakarta, Jumat (9/11), Menteri Kesehatan Nila 

Penularan ke manusia

Manusia sendiri bisa terinfeksi virus tersebut karena penyakit ini merupakan penyakit zoonosis (bersumber dari binatang).

Penularan penyakit radang otak ini menular dari nyamuk ke manusia lewat nyamuk culex. Nyamuk ini bersifat antrosoofilik.

Nyamuk ini tak cuma menghisap darah binatang tapi juga manusia. Penularan virus pun menular dari situ. Hanya saja manusia sendiri tidak menjadi sumber penyebaran virus Japanese Encephalitis ini. Pasalnya, manusia merupakan inang puncak (dead end host) untuk virus tersebut.

Gejala

Gigitan nyamuk yang terinfeksi penyakit ini akan menyebabkan munculnya gejala penyakit. Gejala ensefalitis akan muncul setelah 4-14 hari setelah gigitan nyamuk mengalami masa inkubasi.

Gejala utama dari penyakit ini adalah demam tinggi mendadak, perubahan status mental, sakit kepala, sampai gejala gastriintestinal.

Selain itu, gejalanya juga disertai perubahan gradual gangguan bicara, berjalan, adanya gerakan involuntir ekstremitas ataupun disfungsi motorik lainnya.

Sekitar 1 dari 200 penderita japanese encephalitis ini menunjukkan gejala berat yang berkaitan dengan peradangan otak (ensefalitis) seperti kaku tengkuk, disorientasi, koma, kejang, lumpuh, dan demam tinggi.

Gejala yang berbeda atas penyakit radang otak ini menimbulkan gejala yang berbeda pada anak-anak.

Pada anak, gejala awal biasanya berupa demam, iritabilitas, muntah, diare, dan kejang. Kejadian kejang terjadi pada 75 persen kasus anak.

Secara umum, penyakit ini agak sulit untuk dikenali secara langsung. Pasalnya penyakit ini mirip dengan gejala flu.

Hanya saja penyakit ini tak bisa disepelekan. Kasus penyakit ini bisa menyebabkan kematian dengan persentasi antara 5-30 persen. Angka kematian akan jauh lebih tinggi pada anak-anak.


(chs)