Bahaya Tersembunyi 'Nge-Fly' dengan Air Rebusan Pembalut

CNN Indonesia | Kamis, 08/11/2018 15:50 WIB
Bahaya Tersembunyi 'Nge-Fly' dengan Air Rebusan Pembalut ilustrasi pembalut (Istockphoto/iamnoonmai)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP Jateng) menemukan tren perilaku menyimpang anak-anak dan remaja yang menggunakan rebusan air pembalut bekas dan baru untuk nge-fly.

Rebusan air pembalut ini dijadikan pengganti narkoba jenis sabu yang sulit didapatkan serta lem dan pil koplo yang semakin mahal. 

Gaya baru mabuk ini tak cuma terlihat menjijikan tapi juga punya bahaya kesehatan. Selain kotor, rebusan air pembalut bekas itu amat berpotensi menularkan berbagai macam penyakit.


Profesor dari RSIA Brawijaya dan UI Ali Baziad mengungkapkan bahwa bahaya minum air rebusan pembalut tersebut akan berdampak pada kesehatan jika pembalut mengandung berbagai bahan kimia yang berbahaya. 

"Bila terminum tergantung bahan atau zat apa yang ada di pembalut. Kalau ada bahan kimiawi pasti berdampak, bisa iritasi lambung dan mual. Kalau pembalutnya bekas maka ada banyak kuman dan risikonya infeksi berat," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/11).  

Hanya saja, Ali mengungkapkan bahwa dia tak tahu bahan apa saja yang terkandung di dalam pembalut.

Senada dengan Ali, dokter Dokter spesialis kandungan dan reproduksi wanita Budi Wiweko mengungkapkan bahwa dia juga tak tahu apa kandungan bahan kimia di dalam pembalut.

"Saya enggak tahu kandungan di pembalut itu apa, belum pernah meneliti, tapi dilihat kalau ada darahnya itu bahaya sekali," kata Dokter spesialis kandungan dan reproduksi wanita Budi Wiweko kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/11).


Dia menjelaskan dilihat dari kandungan darah dalam pembalut bekas, rebusan air pembalut bekas pakai itu dapat menularkan berbagai penyakit karena mengandung darah yang dapat membawa penyakit. Tak dimungkiri dalam pembalut bekas masih ada sisa dan residu darah yang tersimpan di gel penyerap dalam pembalut sekalipun sudah dicuci. 

"Bahaya sekali penularan penyakitnya, luar biasa. Karena darah bisa mengandung apa saja seperti virus, bakteri atau jamur," kata Budi.

Profesor di Universitas Indonesia ini menyebut darah pada pembalut merupakan darah yang lepas dari dinding rahim.

"Semua penyakit yang bisa ditularkan lewat darah, bisa terkena. Seperti infeksi virus hepatitis dan HIV," ucap Budi. Selain itu, perpindahan darah juga bisa menularkan penyakit tuberkulosis, sipilis dan malaria. 

Budi juga menegaskan penyimpangan konsumsi rebusan air pembalut ini tidak benar secara etika, moral dan ilmu kesehatan. Dia menyebut tindakan itu sangat konyol.


Hasil penelusuran BNNP Jateng menemukan para remaja yang mengkonsumsi air rebusan pembalut ini mendapatkan pembalut bekas di tempat-tempat pembuangan sampah. Namun, karena pertimbangan kebersihan dan higienis, beberapa sudah beralih menggunakan pembalut baru. 

"Kebanyakan mereka itu anak-anak dan remaja jalanan yang biasa ngelem, ngomix dan ngoplo. Karena sekarang sabu mahal dan susah, lem pun juga harganya naik, dan pil koplo juga naik, mereka ini beralih ke pembalut. Awalnya pembalut bekas yang di tempat sampah, tapi sekarang ke yang baru karena bersih," kata Suprinarto kepada CNNIndonesia.com.

BNNP Jateng kini masih mendalami kasus penyimpangan nge-fly dengan mengonsumsi air rebusan pembalut ini. (els/chs)