Kepulauan Togean Jadi Habitat Ratusan Spesies Laut Dilindungi

ANTARA, CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 16:10 WIB
Kepulauan Togean Jadi Habitat Ratusan Spesies Laut Dilindungi Ilustrasi. (Dok. Lee Goldman/Coral Triangle Adventures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) telah mencatat ratusan jenis binatang laut dilindungi hidup di perairan Togean, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah.

Walau tak memaparkan jumlah persisnya, TNKT mengatakan jenis binatang laut yang hidup dan berkembang biak di perairan itu di antaranya penyu, biawak togean, kepiting kenari, kima, ikan dugong-dugong, lumba-lumba, kuda laut, ikan napoleon, karang batu (coral), ketam tapak kuda, ikan naga dan buaya muara.

"Spesies-spesies yang dilindungi itu masih tetap terjaga dan ini menjadi tanggung jawab kami melindunginya," kata Kepala Balai TNKT Sulteng Bustang seperti yang dikutip dari Antara pada Senin (9/11).


Kepulauan Togean terbentuk akibat aktivitas vulkanis serta dikelilingi bukit karang. Batu karang dan pantai menjadi habitat dan tempat berkembang biak sejumlah binatang laut, yang lalu dimanfaatkan menjadi objek wisata.

Saat ini kepulauan tersebut telah ditetapkan sebagai objek wisata prioritas Sulteng dan kawasan wisata strategis nasional oleh Kementerian Pariwisata.

"Kami sebagai lembaga yang memiliki kewenangan tentunya berupaya menjaga kelestarian laut maupun hutan, apalagi di dalamnya sudah dikelola untuk sektor pariwisata. Saat ini sudah banyak wisatawan mengeksplor keindahan bawah laut Togean," ungkapnya.

Selain binatang laut, katanya, TNKT juga gencar melakukan budidaya terumbu karang untuk rumah ikan.

"Kami sudah melakukan transplantasi di 22 titik yang mengalami kerusakan, kawasan itu memiliki luas terumbu karang 13.909 hektare, namun 50 persen lebih atau 8.354 hektare karang berstatus rusak dan sisanya 5.564 hektare berstatus sehat," tuturnya.

Bahkan, tambahnya, TNKT melibatkan masyarakat setempat ikut menjaga kelangsungan ekosistem alam.

Untuk mendukung upaya pengawasan, pihaknya memberikan sebanyak 15 unit perahu kepada kelompok masyarakat pengawas (Pokmawas).

"Kami mengimbau masyarakat agat tidak melakukan perburuan satwa atau hewan dilindungi untuk menjaga kelestariannya agar anak cucu kita bisa menikmatinya ke depan," tutupnya.

(ard)