Memelihara Ombak demi Destinasi Surfing Kelas Dunia

CNN Indonesia | Selasa, 20/11/2018 17:36 WIB
Memelihara Ombak demi Destinasi Surfing Kelas Dunia Pantai Cimaja di Sukabumi, menjadi salah satu destinasi surfing di Indonesia. (Foto: Courtesy of HYD Bule)
Jakarta, CNN Indonesia -- Memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, saat ini Indonesia sedang dicanangkan sebagai destinasi surfing nomor satu di dunia oleh sebuah lembaga yang menggulirkan liga surfing dunia atau World Surf League (WSL)

Seorang peselancar nasional yang kini menjabat Tour Manager Asian Surfing Tour, Tipi Jabrik, mengatakan banyak daerah di Indonesia yang berpotensi besar untuk menjadi destinasi wisata khusus surfing.

"Mungkin orang selama ini hanya tahu Bali, padahal kita (Indonesia) punya Nias, Mentawai, Lakey, G-Land, Cimaja, Mandalika, Batu Karas, Pacitan, dan masih banyak lagi," ujar kakak kandung aktris Luna Maya ini, saat dijumpai di sela acara Workshop World Surf League yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata, Senin (19/11) di Jakarta.


Menurutnya untuk menjadi destinasi wisata surfing, syaratnya hanya memiliki ombaknya bagus. Banyak daerah di Indonesia yang punya potensi dan siap untuk dikembangkan.

Hal ini tentunya, ia melanjutkan, akan berimbas pada aspek pariwisata. Meskipun skalanya mungkin belum sebesar Bali atau tempat lain.

"Bicara soal industri (pariwisata) yang skalanya besar, pasti ada ancaman terhadap daerah itu. Kalau ada wisatawan yang tidak bertanggungjawab, maka akan mengotori tempat itu. Jadi sebaiknya tidak semua tempat dibuat seperti Bali," katanya.

"Kalau memang khusus untuk destinasi surfing, cukup dibuat berdasarkan keperluan surfer. Surfer itu butuhnya cuma ombak. Penginapannya tidak perlu yang mewah, guest house pun sebenarnya sudah cukup. Kalau mau yang agak nyaman, bisa dibuat bungalow."

Menurutnya jika ada hotel bintang lima yang dibangun di daerah tersebut, justru itu akan merusak. Bahkan bisa juga mengancam lokasi surfingnya sendiri.

Terkait akses menuju lokasi surfing, Tipi mengatakan hal itu tidak pernah menjadi persoalan bagi para surfer. Masalah utamanya hanya jika ombaknya sudah rusak, maka mereka akan pergi mencari tempat lain.

"Ada berbagai macam yang merusak sebuah destinasi surfing, mulai dari sampah plastik, kemudian banyak di Indonesia yang melakukan pencongkelan terumbu karang, penambangan pasir, dan aktivitas terlarang lainnya," katanya.

"Kalau ombaknya sudah rusak, maka potensi pendapatan daerah tersebut juga akan hilang. Sebenarnya hal-hal seperti itu adalah tindakan kriminal, karena dilarang oleh undang-undang." (agr)