Body Shaming, 'Hantu' yang Timbulkan Krisis Kepercayaan Diri

CNN Indonesia | Kamis, 22/11/2018 08:41 WIB
Body Shaming, 'Hantu' yang Timbulkan Krisis Kepercayaan Diri Ilustrasi body shaming. (Istockphoto/SIphotography)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perilaku body shaming alias penghinaan fisik ada di mana-mana. Kebiasaan itu mengisi kehidupan sehari-hari manusia di zaman kiwari, baik di dunia nyata ataupun maya.

Tak main-main, perilaku body shaming bahkan dapat dilaporkan kepada pihak kepolisian. Layaknya laporan dugaan pencemaran nama baik, yang melakukannya terancam jeratan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) maupun delik pidana umum.

Namun, perlu dicatat, laporan itu dapat diterima jika bentuk dari perilaku body shaming itu mengandung unsur penghinaan, menjatuhkan harkat dan martabat, serta diketahui oleh orang banyak.



Body shaming sendiri merupakan kritikan atau komentar yang bersifat negatif. Komentar itu diberikan baik untuk diri sendiri ataupun orang lain.

Urban Dictionary menyebut bahwa body shaming merupakan tindakan mempermalukan penampilan fisik seseorang.

Meski sepele, namun body shaming bisa melukai seseorang. Betapa tidak, sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh FitRated menemukan bahwa body shaming hampir selalu memengaruhi kepercayaan diri seseorang, baik pria ataupun wanita.

Mengutip Hello Giggles, survei menyebutkan bahwa sebanyak 93 persen wanita dan 83 persen pria mengungkapkan rasa tidak percaya dirinya akibat body shaming yang dilontarkan orang-orang di sekitarnya. Perut dan kaki menjadi bagian tubuh yang sering membuat mereka malu.

Namun, meski sama-sama melaporkan rasa malu, body shaming memengaruhi wanita dengan porsi yang lebih besar. Wanita disebutkan cenderung lebih lama terpengaruh body shaming.


Karena beragam alasan, banyak dari kita lebih mudah terpengaruh pikiran daripada mempercayai tubuh yang dimiliki. Kebiasaan itu pada akhirnya membuat seseorang dengan mudah membiarkan pikirannya mendikte persepsinya tentang tubuh.

Psikolog Erika Vargas, dalam laman resmi Walden, klinik psikologi daring, menulis bahwa pemikiran seseorang akan dibentuk oleh lingkungan sosial yang ada di sekitarnya. "Pikiran-pikiran itu pada akhirnya menimbulkan cita-cita yang tidak realistis tentang tubuh," tulisnya.

Manifes body shaming bisa hadir dalam berbagai cara. Pertama adalah dengan mengkritik penampilan diri sendiri. Biasanya, seseorang akan memberikan penilaian atas tubuhnya sendiri dan membandingkannya dengan tubuh orang lain.

Kedua, mengkritik penampilan orang lain secara terang-terangan. Dan terakhir, mengkritik penampilan orang lain tanpa sepengetahuan mereka.


"Sering kali ini mengarah pada rasa malu dan melanggengkan gagasan bahwa seseorang harus dinilai terutama karena fisik semata," tulis Vargas.

Untuk menghadapinya, kata Vargas, Anda bisa melihat orang-orang yang merayakan tubuh mereka tanpa perlu merasa malu atau tidak percaya diri atas kekurangan yang dimilikinya.

"Meluangkan waktu bersama orang-orang ini sangat membantu ketika Anda sedang berjuang melawan penghinaan terhadap tubuh sendiri," kata Vargas. Hal itu, lanjutnya, dapat membuat Anda lebih berpikir positif tentang tubuh Anda sendiri.

Selain itu, Anda juga perlu menemukan sesuatu yang Anda sukai dari diri Anda. "Temukan sesuatu pada diri Anda, baik fisik ataupun non-fisik, yang bisa Anda rayakan setiap hari," katanya. (asr/asr)