SURAT DARI RANTAU

Filosofi Keran Bocor di Los Angeles

Michelle Kaviona, CNN Indonesia | Minggu, 25/11/2018 16:53 WIB
Filosofi Keran Bocor di Los Angeles Pantai Santa Monica, Los Angeles, Amerika Serikat. (hammett79/thinkstockphotos.com)
Los Angeles, CNN Indonesia -- Menginjak waktu dua bulan merantau ke Los Angeles, Amerika Serikat (AS), kota selebriti ini seperti tak ada habisnya menawarkan pengalaman hidup baru bagi saya.

Tak salah memang keputusan dan ambisi saya dari kecil untuk menuntut ilmu di Negara Paman Sam. Sejauh ini ilmu yang saya dapatkan di sini tak hanya dari pendidikan formal, tetapi juga dari lingkungan sekitar dan teman-teman beda latar belakang dan budaya yang saya temui.

Kala masih duduk di bangku SMA, saya berkesempatan terbang ke New York dalam rangka perlombaan debat. Dari situ saya sadar, Amerika memiliki keragaman penduduk dari berbagai macam latar belakang yang tak banyak ditemui di Indonesia.


Setelah lulus SMA, saya bergegas mengajukan aplikasi sekolah ke banyak universitas di AS, termasuk University of California Los Angeles (UCLA).

Melewati berbagai syarat dan prosesi pendaftaran, mulai dari mengajukan nilai rapor, menulis esai hingga mengejar sertifikat lulus tes SAT yang digunakan sebagai standarisasi masuk universitas di AS, saya diterima dan resmi menjadi mahasiswa jurusan Bisnis Ekonomi di UCLA.

Sebelum tinggal di sini, saya tak banyak tahu tentang bagaimana budaya hidup di LA atau besarnya biaya hidup yang diperlukan. Baru saya sadari ternyata riset wajib didalami terlebih dahulu sebelum merantau ke negeri orang, karena ada beberapa hal yang luput dari bayangan tentang arti hidup sendiri di sini.

Yang pertama soal keterbukaan. Sebagian besar Orang Asia memiliki karakter cenderung pemalu dan tertutup terhadap orang baru.

Tapi di sini jika ingin punya banyak teman harus pandai membuka diri, terutama jangan cepat merasa tersinggung kalau berbeda pendapat.

Yang kedua jika dulu di Indonesia saya bisa minta tolong orang tua jika kesulitan, kini saya harus melakukan semuanya sendiri. 

Hal-hal sepele seperti kerusakan perabotan rumah tangga seakan bukan drama saat saya masih tinggal di Jakarta. Tapi di sini, keran bocor tak akan tiba-tiba menambal sendiri jika saya tak inisiatif memperbaikinya.

Bisa saja memanggil tukang datang, tapi biayanya tidak murah, karena lebih baik uangnya ditabung untuk makan. Mau tidak mau saya jadi sering berselancar di dunia maya untuk belajar cara melakukan ini dan itu sendirian. 

Bukan cuma mandiri, kedewasaan juga berarti bisa tetap tenang untuk berpikir jernih saat hal buruk terjadi. Yang belum lama ini berlangsung ialah kebakaran hutan California beberapa pekan yang lalu. 

Rasa panik yang membuat tidur tak nyenyak tentu saja muncul, karena tempat tinggal saya dengan pusat kebakaran hutan hanya berjarak 30 menit berkendara mobil.

 'Paman Sam'Kebakatan hutan yang melanda kawasan Malibu, California. (REUTERS/Eric Thayer)

Sehari setelah kebakaran terjadi, saya harus melakukan pemotretan bersama teman-teman tak jauh dari lokasi kebakaran.

Dalam perjalanan sepanjang mata memandang yang ada hanya asap lebat. Warna langit yang biasanya biru cerah berubah menjadi kelabu.

Berita-berita di televisi menyiarkan ragam kisah tragis dari warga yang harus kehilangan tempat tinggalnya yang sudah hangus terbakar api.

Beberapa teman kuliah yang tinggal di area dekat kebakaran terpaksa di evakuasi sampai keadaan membaik. Untungnya sekarang kebakaran hebat tersebut sudah mulai mereda.

Rasanya sedih melihat bencana seperti ini harus terjadi. Padahal tak jauh setelah bencana menimpa, harusnya orang-orang berkumpul bersama pada perayaan Thanksgiving dalam kehangatan rumah masing-masing.

Thanksgiving sendiri merupakan hari libur di AS yang diselenggarakan untuk mengucap syukur dan rasa terima kasih di Kamis keempat setiap bulan November.

Biasanya, orang-orang akan berkumpul bersama keluarga, teman dan kerabat di rumah untuk makan malam bersama.

Pada 22 November kemarin, saya merayakan Thanksgiving dengan sanak keluarga yang kebetulan tinggal tak jauh dari LA.

Lezatnya kalkun dan hidangan khas Amerika lainnya merubah perut saya menjadi perut karet yang tak bisa berhenti diisi.

Kebersamaan dengan keluarga di meja makan sambil berbagi cerita hampir serupa dengan suasana lebaran di Indonesia.

Meskipun kerinduan akan Tanah Air selalu ada, kehangatan keluarga di sini, teman-teman kuliah dan pengalaman menyenangkan yang saya dapatkan sukses menjadi penangkal rasa rindu.

 'Paman Sam'Suasana pesta diskon Black Friday. (REUTERS/Stephanie Keith)

Belum lagi kalau melihat diskon besar-besaran yang digadang-gadang hampir setiap toko sehari setelah Thanksgiving. Diskon-diskon besar ini dinamakan Black Friday.

Jika sudah melihat pesta diskon yang membuat mata terbelalak, rasa rindu akan Indonesia sedikit bisa terobati hehehe...

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

(fey/ard)