'Terbius' Tabebuya di Surabaya

CNN Indonesia | Jumat, 30/11/2018 18:27 WIB
'Terbius' Tabebuya di Surabaya Pohon Tabebuya di Surabaya. (Foto: CNN Indonesia/Farid Miftah Rahman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selasa akhir November, matahari Surabaya sedang tak seterik biasanya. Belakangan hujan memang sedang tak rajin mengguyur kota ini. Sudah dua hari Surabaya hanya sebatas dirundung mendung, air langit tak kunjung turun.

Saya yang aktivitas sehari-harinya terbiasa menggunakan sepeda motor tentu senang dengan kondisi hari macam itu. Saya tak perlu merasa terancam hujan dan tak mesti takut sengat matahari.

Perjalanan saya dimulai dari Surabaya Selatan, tepatnya di bilangan Gayungan. Demi mencapai titik tujuan hari itu, saya harus melewati sejumlah jalan protokol.


Perjalanan dimulai, menaiki motor sejauh 1 kilometer. Jalan pertama yang saya lalui adalah Ahmad Yani Surabaya. Saat melintasi jalan yang disebut terlebar di Kota Pahlawan ini, saya mendadak tertegun.

Pemandangan di jalan yang menjadi gerbang ke Surabaya dari kota tetangganya, Sidoarjo, tiba-tiba berubah tak seperti biasanya. Sejumlah pohon yang biasanya normal dengan dedaunan saja, kini dipenuhi bunga-bunga putih.

Melihat fenomena itu, motor saya yang melaju di sisi barat Frontage Road Ahmad Yani pun menepi sampai berhenti. Mata saya lalu tertuju pada pepohonan setinggi 4 sampai 5 meter dengan panorama bunga rindang, bunga yang lebih dulu gugur nampak tercecer dan menumpuk di sekitar.

Pemandangan ini sebenarnya tak lazim terjadi di sini. Biasanya jalanan ini terik terhampar matahari dan pada lalu lintas. Namun yang terjadi saat itu, Ahmad Yani hari itu terasa teduh.

Tak jauh, persis di depan Kantor Lembaga Sertifikasi (LPS) Profesi Transportasi Indonesia, saya mendapati empat orang gadis berkerudung yang sedang asyik berpose di depan pepohonan tersebut.

Mereka, berpasang-pasangan sambil bergantian giliran tugas. Dua orang mulanya lebih dulu berpose kemudian dan dua orang lainnya bertugas mengarahkan gestur kemudian mengabadikan momen itu lewat kamera ponsel.

Rini Dwiyanti, salah satu di antara mereka berkata fenomena mekarnya bunga-bunga ini mirip seperti sakura di Jepang sana.

Mahasiswa sastra dari salah satu kampus negeri di Surabaya ini mengaku senang, sebab untuk mendapatkan nuansa Jepang seperti itu, ia dan teman-temannya tak harus repot pergi naik pesawat 8 - 10 jam ke negara aslinya.

Perjalanan saya berlanjut melintasi depan kawasan Kebun Binatang Surabaya (KBS), di Raya Darmo, lagi-lagi pemandangan di tepi jalan ini juga berbeda dari biasanya.

Sekeliling dinding pembatas KBS nampak berjejer pohon rindang yang juga ramai bunga. Bedanya, tak hanya putih seperti di Ahmad Yani, ada pula bunga berwarna kuning dan merah muda.

Laju motor saya tak berhenti, di sepanjang Raya Darmo, mata saya lagi-lagi dimanjakan dengan lanskap pepohonan berbunga lebat yang tak hanya berada di satu jalan sisi saja, tapi juga ada di jalur hijau pemisah lajur. Warna warni bunga itu tampak makin menghiasi jalan yang ditetapkan sebagai cagar budaya tersebut.

Kedua roda ban motor saya terus bergulir hingga memasuki kawasan Jalan Basuki Rahmat. Biasanya di sepanjang jalan ini, pemandangan yang menonjol hanyalah gedung-gedung perkantoran yang tinggi menjulang, namun hari itu, ternyata tidak.

Bunga-bunga berwarna putih, merah muda, dan kuning yang saya lihat sebelumnya ternyata cuma sebagian. Di Jalan Basuki Rahmat, mata saya menemukan pepohonan yang memiliki bunga berwarna keunguan.

Di sana saya mendapati beberapa warga Surabaya yang sedang berjalan di pedestrian sembari mengacungkan ponselnya tinggi-tinggi, berusaha menggapai bunga tersebut lewat kameranya.

Salah satu orang yang menikmati pemandangan, Novi Ekawati, menyebut dirinya terkagum-kagun dengan fenomena tersebut. Baginya hal itu jarang ia temui, apalagi di Surabaya yang notabenenya merupakan kota besar.

Warga Gubeng Kertajaya ini mengatakan, biasanya fenomena macam ini hanya ditemuinya di taman-taman rekreasi di Batu atau Malang. Namun di Surabaya bunga mekar seperti ini bahkan terjadi di pinggiran jalan raya.

Tak sampai di situ, bunga berwarna ungu ini juga saya temui di jalan protokol lain, yakni di jalan Diponegoro.

Asal tabebuya

Suasana mendung siang hari membuat saya sedikit mengantuk. Saya lalu memutuskan singgah ke kedai kopi di seberang Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo. Pilihan saya lalu jatuh ke menu Cappuccino Creme Brulee dingin.

Sesampainya, pesanan di meja, saya yang penasaran dengan fenomena mekarnya bunga-bunga tadi mencoba mencari tahu hal itu dengan menghubungi Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Dinas Kebersihan Surabaya, Hendri Setianto.

"Itu bunga-bunga apa, Pak? Kok ada yang mirip sakura," tanya saya pada Hendri.

Sembari tertawa, Hendri pun membenarkan sejumlah bunga ini memang identik dengan sakura yang ada di Jepang. Namun ia meminta saya untuk tak salah mengerti, bunga tersebut kata dia adalah tabebuya yang memiliki nama resmi Tabebuia Chrysotricha.

Di Kota Pahlawan ini, sedikitnya ada 2.500 batang pohon tabebuya yang tumbuh subur di sejumlah jalan. Sebagian besar memang ada di jalan-jalan protokol, sebagian lagi tumbuh di sudut-sudut jalanan Surabaya lainnya.

Hendri menyebut ada empat macam warna tabebuya yang tumbuh subur di Surabaya, di antaranya ada tabebuya putih, tabebuya kuning, tabebuya pink, dan yang terakhir disebutnya paling identik dengan sakura, yakni tabebuya ungu.

Bibit bunga-bunga ini kata Hendri berasal dari sejumlah wilayah di Jawa Timur, yakni dari Malang, Kediri, dan Tulungagung.

Selain itu, Hendri mengatakan pihaknya kini juga tengah berupaya menambah lagi jumlah tabebuya dengan memfokuskan budi daya bibitnya di Kebun Bibit, Wonorejo, Surabaya.

Hendri menyebut bibit-bibit itu beranjak tumbuh setinggi satu meter nanti, pihaknya mempersilakan masyarakat menggunakan bibit itu untuk ditanam kembali, tentunya dengan syarat pohon itu haruslah digunakan untuk kepentingan keasrian bersama di lingkungannya.

Dengan begitu, bunga yang habitat aslinya ada di hutan tropis Amazon, Brasil, ini bisa terus tumbuh subur di kota terbesar kedua di Indonesia ini.

Tak puas dengan jawaban Hendri, saya pun menelepon Muhammad Fikser, Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya. Ia menceritakan penanaman tabebuya ini sudah dimulai sejak 10 tahun lalu.

Kepada saya, Fikser membeberkan ide awal penanaman pohon tabebuya ini, berasal dari Tri Rismaharini, jauh sebelum Risma menjabat sebagai wali kota.

Fikser mengatakan mekarnya tabebuya pada beberapa hari ini adalah fenomena yang unik, karena lazimnya bunga ini biasa berkembang di masa musim kemarau, bukan pada musim hujan seperti sekarang.

"Mekarnya di musim hujan ini unik, karena saat mendung, angin berhembus, membuat Surabaya jadi romantis," kata dia, sembari tertawa di ujung telepon sana.

Fikser menyebut, mekarnya tabebuya ini terjadi dua kali dalam setahun. Yakni sekitar awal tahun, pada bulan April. Dan puncaknya menjelang akhir tahun, pada bulan November.

Maka akan sangat menyenangkan bila perjalanan ke Kota Surabaya di akhir tahun ini, bisa dimanjakan dengan pemandangan panorama mekarnya bunga ala Negeri Sakura. (frd/fea)