Takut Tertular, Guru di China Diskriminasi Siswa Kanker

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 11:24 WIB
Takut Tertular, Guru di China Diskriminasi Siswa Kanker ilustrasi kanker (PDPics/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diskriminasi terhadap orang yang menderita suatu penyakit ternyata masih terjadi di beberapa negara, tak cuma di Indonesia.

China adalah salah satunya. Seorang guru sekolah dasar di China baru-baru ini dikeluarkan dari sekolah karena melakukan tindakan diskriminasi terhadap seorang muridnya yang menderita kanker limfoma non-Hodgkin. Guru tersebut memaksa muridnya untuk duduk sendiri di bagian paling belakang kelas. Dia juga tak mengizinkan anak lelaki itu untuk mengikuti ujian seperti murid-murid lainnya.

Padahal sebenarnya kanker limfoma non-Hodgkin ini bukanlah penyakit yang menular. 



Guru mata pelajaran bahasa ini memang sudah mengeluhkan anak baru pindahan dari Liancheng Primary School, sejak September lalu. Dia memindahkan anak ke kursi belakang tersebut karena mereka ketakutan kalau penyakit anak itu akan menular kepada yang lain.

Ketakutan akan ketularan penyakit ini ternyata tak cuma dirasakan oleh sang guru, tapi juga beberapa murid lainnya. Media China mencatat bahwa ada beberapa anak yang mengundurkan diri dari sekolah seiring dengan perpindahan murid pindahan baru tersebut.

Sejak saat itu, diskriminasi makin menjadi-jadi pada si bocah pengidap kanker bernama Zhou.

Mengutip Oddity Central, Zhou awalnya menyimpan sendiri perlakuan diskriminasi yang diterimanya di sekolah. Dia tak cerita pada orang tuanya agar mereka tak khawatir.

Namun setelah pulang tanpa nilai ujian tengah semester di pelajaran bahasa ayahnya mulai bertanya-tanya. Dia puntak punya pilihan lain selain bicara.

Zhou mengatakan bahwa gurunya mengisolasinya di belakang kelas untuk mencegah penyakitnya menular ke anak lain. Dia juga tak ikut tiga ujian karena hal tersebut.

"Anak saya duduk di sana selama 45 menit selama ujian," ungkap ayah Zhou kepada media China.


"Apa yang harus dia pikirkan? Betapa sedihnya dia di sana?"

Sampai saat itu, masih belum jelas apakah ayah Zhou berkonfrontasi dengan guru tersebut atau langsung lapor ke kepala sekolah. Namun yang diketahui adalah guru bahasa tersebut sudah mengambil cuti administratif dan ditangguhkan oleh wakil kepala sekolah.

Setelah mempelajari tentang perlakuan tak adil, Hui'an County Education Bureau memulai investigasi dan akhirnya Zhou pun diperbolehkan untuk duduk dan mengikuti ujian bersama teman-teman lainnya. (chs)