WHO Buat Panel Pelajari Rekayasa Genetika Bayi di China

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 07:08 WIB
WHO Buat Panel Pelajari Rekayasa Genetika Bayi di China WHO bakal membuat panel membahas studi rekayasa genetika bayi untuk mencegah penularan HIV. (REUTERS/Denis Balibouse)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bakal membentuk panel untuk mempelajari perkara studi rekayasa genetika bayi yang dilakukan oleh ilmuwan asal China, He Jiankui, yang kontroversial. Studi itu mengklaim telah berhasil menciptakan embrio bayi pertama di dunia dengan melakukan penyuntingan genetik.

"Itu tidak bisa dilakukan tanpa pedoman yang jelas," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, melansir AFP.

WHO, kata Tedros, bakal mengumpulkan para ahli yang merupakan perwakilan dari sejumlah negara anggota untuk membahas standar dan pedoman yang dapat mencakup masalah etika dalam dunia kesehatan.



Jiankui mengklaim telah berhasil mengubah DNA anak perempuan kembar yang memiliki riwayat virus HIV pada orang tuanya. Hal itu dilakukannya untuk mencegah penularan virus pada anak.

Eksperimennya telah mendorong kecaman luas dari komunitas ilmiah di dunia. Pemerintah China juga bahkan mengecam keras dan meminta praktik dibatalkan.

Namun, Tedros menolak berspekulasi tentang apakah yang dilakukan Jiankui--mengedit DNA untuk mencegah penularan virus HIV--bisa menjadi jawaban untuk masalah-masalah kesehatan di masa depan.

Panel yang dibentuk WHO, kata Tedros, bakal memulainya dengan 'lembaran bersih'. "Kami akan mulai dengan bertanya, haruskah kami mempertimbangkan ini (eksperimen Jiankui untuk mencegah penularan HIV)?" kata dia.


Anggota panel akan diisi oleh sejumlah akademisi, ahli medis WHO, dan pemerintah berbagai negara.

"Kita harus sangat berhati-hati. Kita tidak boleh melakukan penyuntingan gen tanpa memahami konsekuensi buruk yang bisa saja ditimbulkan."

Sebelumnya, Kementerian Sains dan Teknologi China menentang eksperimen penyuntingan gen ala Jiankui. Mereka juga menuntut penghentian kegiatan ilmiah tersebut.

"Klaim ilmuwan China itu mengejutkan dan tidak dapat diterima. Itu juga melanggar garis dasar moralitas dan etika yang dianut oleh komunitas ilmuwan," ujar Wakil Menteri Sains dan Teknologi China, Xu Nanping. (asr)