Perjuangan Doddy untuk Kesetaraan Disabilitas

CNN Indonesia | Senin, 03/12/2018 19:50 WIB
Perjuangan Doddy untuk Kesetaraan Disabilitas Ilustrasi penyandang disabilitas (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Disabilitas tak lantas memutus asa Doddy Kurniawan Kahleri. Disabilitas daksa yang dimilikinya pada bagian kaki tetap membuat Doddy bisa berjalan mengarungi kehidupan dan bermanfaat bagi banyak orang. Dia memperjuangkan inklusi untuk teman-temannya sesama difabel.

Pria kelahiran Balikpapan pada 44 tahun lalu ini sebenarnya terlahir dalam keadaan normal. Namun, saat Doddy berusia 8 tahun, dia mengalami demam tinggi.

Doddy lalu dibawa ke rumah sakit untuk diobati. Dokter lalu menyuntikkan obat ke tubuhnya. Setelah itu, alih-alih membaik, kaki kiri Doddy justru terasa berbeda.



"Aku merasakan lemas pada kaki kiriku dan tidak dapat menggerakkannya lagi," cerita Doddy dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com dari Program Peduli pada Senin (3/12) bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional.

Sejak kejadian itu, Doddy hanya bisa menyeret kaki kirinya. Setelah ditelisik, Doddy ternyata terserang virus polio. Dia pun digolongkan dalam kelompok difabel motorik atau lebih tepatnya polio kaki kiri.

Meski menyandang disabilitas, Doddy tidak masuk ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Dia lebih memilih menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Teknologi Menegah (STM) di Balikpapan. Untungnya, teman-teman sebaya Doddy menerimanya tanpa diskriminasi.

"Aku bersyukur tumbuh di tengah masyarakat yang toleran kepada kelompok difabel, karena aku tahu di luar sana banyak teman-teman difabel yang merasakan beratnya hidup dengan tekanan dan diskriminasi dari orang-orang sekitarnya," tutur Doddy.

Pada 1994, Doddy ikut bersama orang tuanya yang pindah ke Sleman, Yogyakarta. Di sana, dia kembali mulai bersosialisasi dengan orang-orang baru memupuk citra diri yang positif sehingga tak terasingkan.

Doddy bergabung dan aktif terlibat di organisasi kepemudaan dan remaja masjid, berbaur dengan pemuda lainnya.


Dalam kehidupan sosial, boleh jadi Doddy tanpa diskriminasi. Tapi, di sisi lain, dalam hal asmara dan pekerjaan misalnya, Doddy masih mengalami diskriminasi.

Kisah cinta Doddy ditentang oleh orang tua gadis yang dipacarinya. Dia pun mesti berjuang meyakinkan orang tua kekasihnya untuk merestuinya.

"Awalnya, orangtua gadis itu tidak merestui hubungan kami karena kondisi fisikku. Setelah tiga tahun kami berusaha meyakinkan mereka, akhirnya pada 2003 kami direstui dan menikah," ungkap Doddy. Kini, mereka dikaruniai buah hati yang sehat.

Dalam urusan pekerjaan, Doddy pun ditolak berkali-kali. Saking sulitnya mencari pekerjaan, Doddy memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri. Dia kini memiliki jasa penjualan komputer dan toko busana daring yang dikelolanya bersama sang istri.

Tak ingin sukses seorang diri, Doddy pun membagikan pengalamannya pada banyak kawan-kawannya yang merupakan difabel. Dia terlecut oleh kata-kata seorang teman yang menantangnya untuk berkontribusi kepada kaum difabel.

Hal itu membuat Doddy semakin menimba pengalaman dan membagikannya kepada rekan-rekan difabel. Doddy mengikuti Pendidikan Politik di Sasaran Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) di Gunung Kidul.


Pada 2015, dia pun terlibat dalam Rintisan Desa Inklusi (Rindi) di Sendangadi. Program inisiasi dari Program Peduli itu bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Lewat program ini, organisasi difabel yang sudah ada di desa juga diperkuat.

Menurut Doddy, selama ini keberadaan organisasi itu kurang mendapat perhatian dari pemerintah desa.

"Organisasi itu belum jelas serta belum diberi ruang untuk berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan pemerintah desa," ucap Doddy.

Saat Doddy bergabung, dia pun memperjuangkan agar suara kelompok difabel bisa didengar dan diperhatikan pemerintah setempat. Usaha Doddy pun berbuah hasil.

Dia menyampaikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan difabel, seperti penganggaran dan pemberian tempat dalam musyawarah desa. Kini, organisasi difabel sudah diperhatikan dan diberi ruang dalam musyawarah desa oleh pemerintah desa. Mereka juga kerap diundang untuk menelaah dan memberi masukan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

Doddy memperjuangkan sekitar 151 orang penyandang difabel di desanya. Data ini terbilang belum akurat lantaran menurut Doddy ada banyak orang dengan disabilitas yang belum terdata.

"Ada sebagian orang yang tidak bersedia mencatatkan nama anggota keluarga mereka, khususnya disabilitas mental, dan memilih untuk merawatnya sendiri," ujar Doddy.

Kini, Doddy dan organisasinya tengah mengusahakan jaminan khusus untuk teman-teman difabel di Yogyakarta. Mereka sedang mendata seluruh difabel di desa, lalu mengusulkannya ke pemerintah desa. Dengan begitu, dia berharap pemerintah bakal menambah lebih banyak fasilitas-fasilitas publik yang ramah difabel. (ptj/asr)