FOTO: Dilema Ibu Bekerja dan Rendahnya Angka Kelahiran Korsel

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 10/01/2019 09:21 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Selatan tengah berjuang meningkatkan angka kelahiran di balik bayang-bayang kebimbangan ibu bekerja di negaranya.

Korea Selatan tengah berjuang meningkatkan angka kelahiran di balik bayang-bayang kegalauan nasib ibu pekerja. (Photo by Ed JONES/AFP)
Faktanya, menjadi seorang ibu pekerja di Korsel bukan hal yang mudah. Bahkan banyak di antara mereka yang justru didepak oleh perusahaan lantaran telah memiliki anak. Perusahaan meragukan komitmen seorang ibu yang bekerja. (Photo by Jung Yeon-je/AFP)
Akibatnya, sebagian besar wanita di Korsel menunda perkawinan dan memiliki momongan. Penundaan itu secara otomatis mendorong angka kelahiran di Negeri Ginseng kian merosot. (Photo by Jung Yeon-je/AFP)
Tingkat kesuburan di Korsel turun menjadi 0,95 pada kuartal ketiga 2018. Angka ini untuk pertama kalinya turun berada di bawah 1 dan jauh di bawah 2 yang menjadi standar untuk menjaga stabilitas. (Photo by Jung Yeon-je/AFP)
Sederet faktor melatarbelakangi hal tersebut. Mulai dari biaya membesarkan anak, jam kerja yang panjang, dan tempat penitipan anak yang terbatas. Faktor-faktor ini pada akhirnya bakal menjadi kemunduran karier bagi ibu bekerja. (Photo by Ed JONES/AFP)
Nilai budaya patriarki masih tertanam di Korsel. Meski hampir 85 persen pria Korsel mendukung gagasan wanita bekerja, namun setengah darinya tak mendukung konsep istri bekerja. (Photo by Ed JONES/AFP)
Kini, hampir tiga perempat wanita Korsel berusia 20-40 tahun memandang pernikahan sebagai sesuatu yang tak perlu. (Photo by Ed JONES/AFP)
Sejak 2005, pemerintah telah menghabiskan dana sebesar US$121 miliar untuk meningkatkan angka kelahiran melalui kampanye. Tujuannya untuk mendorong lebih banyak anak muda menikah dan bereproduksi. Namun, usaha itu tak membuahkan hasil memuaskan. (Photo by Ed JONES/AFP)
Baru-baru ini pemerintah kembali menelurkan kebijakan-kebijakan untuk mendukung ibu bekerja. Mulai dari pengurangan jam kerja, pembangunan pusat-pusat penitipan anak, dan izin cuti melahirkan 10 hari bagi pria. (Photo by Ed JONES/AFP)