Jadi Pengemudi GrabCar, Saami Biayai Pengobatan Kanker Anak

CNN Indonesia | Minggu, 23/12/2018 05:17 WIB
Perjuangan Saami sebagai single mom dengan dua anak yang salah satunya mengidap kanker getah bening membuatnya bekerja keras dan menjadi pengemudi taksi online. Saami, pengemudi Grabcar. (CNN Indonesia/Aini Putri Wulandari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua tahun sudah Saami, seorang perempuan berusia 37 tahun 'menggerus' roda jalanan dan mengadu nasib menjadi salah satu dari pengemudi taksi online, Grabcar. 

Memang, menjadi seorang pengemudi taksi online tak biasa dilakukan oleh perempuan. Namun, sebagai seorang ibu tunggal, dia tak punya pilihan banyak untuk mengais rezeki di ibu kota.

Selain masih butuh biaya untuk hidup sehari-hari, Saami juga harus membiayai kedua anaknya, salah satunya mengidap kanker kelenjar getah bening.



Hidupnya berat, namun dia hanya bisa berusaha dan bekerja keras, walau sampai larut malam dan tak kenal waktu. Meski tubuhnya dilanda lelah namun menjadi pengemudi taksi online mengharuskanya untuk bersikap ramah dan komunikatif.

Jika beruntung, dia bakal mendapatkan penumpang yang sopan dan baik hati. Namun kadang kala, keramahannya juga disalahartikan. Ada beberapa penumpang yang melontarkan ucapan tak sopan kepadanya.

"Kalau ada customer yang laki-laki kadang ada juga yang agak nakal," ujar Saami saat ditemui di acara Grab Carnaval di Gambir Expo, Jakarta Utara, Sabtu (22/12). 

"Kadang-kadang customer itu ngobrol gitu kan. Tapi lama-lama ada juga yang kadang ngbrolnya jadi ngelantur. Suka goda-godain."

Pengemudi yang juga sekarang ini merupakan moderator Sahabat Grab Jakarta Barat 1, sering mendapati kesulitan sebagai pengemudi perempuan lantaran merasa terancam oleh kelakuan nakal beberapa penumpang laki-laki.

Dia mengungkapkan ada juga penumpang yang menggoda dan mengajaknya untuk bertemu. ia mengaku selalu menolak baik-baik dengan alasan bekerja.

Ketakutan tersendiri

Saami juga mengaku merasa khawatir kalau ada penumpang laki-laki lebih dari satu orang yang datang di malam hari dan di daerah yang dirasanya rawan atau tidak aman.

Untuk mengakalinya, dia tak ragu untuk menolak order penumpang. 

"Saya cancel. Tapi kalau masih daerah ramai kadang saya bawa walaupun masih dag, dig, dug," ungkapnya.

Selain kesulitan menghadapi penumpang laki-laki, Saami juga punya ketakutan tersendiri ketika menghadapi masalah dengan kendaraannya. Ia tidak tahu cara memperbaiki kendaraan jika ditemui kendala di jalan, salah satunya mengganti ban.


"Satu yang saya enggak bisa ganti ban. Kalau ada apa-apa di jalan gitu. Itu kendalanya," kata dia.

"Biasanya saya kirim informasi ke grup. Jadi ditolong kawan-kawan," ujar Saami.

Saami pun mengapresiasi Grab Indonesia yang sudah mengerahkan upaya guna melindungi pengemudinya yang perempuan. Salah satunya dengan menyediakan CCTV dan panic button di mobil pegemudi.

Hal ini menurutnya sangat membantu pengemudi yang merasa berada di situasi tidak aman untuk diinformasikan ke server Grab.  

"Bisa langsung terhubung ke server," katanya. 
 
Selain itu, Saami menyampaikan dirinya merasa sangat terbantu dengan penghasilan yang ia dapat dari mengemudi taksi online. Ia mengatakan penghasilannya cukup untuk membantunya membayar pengobatan anaknya yang mengidap kanker.

Ia pun tetap ingin menyalurkan aspirasinya kepada Grab Indonesia untuk bisa menyediakan asuransi bukan hanya untuk mitra pengemudi namun juga untuk keluarganya.

Hal ini karena kata Saami, dirinya yang merupakan single mom dan memiliki dua orang anak di rumah sewaktu-waktu bisa saja terancam bahaya baik itu untuk dirinya maupun anak-anaknya.

"Jangan hanya untuk mitranya tapi juga untuk anggota keluarganya," ujarnya. (ani/chs)