Kriteria Agar Perhelatan Daerah Masuk CoE Kemenpar

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 20:26 WIB
Kriteria Agar Perhelatan Daerah Masuk CoE Kemenpar Peluncuran calendar of event Wakatobi (Kurnia/detikTravel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam memajukan pariwisata di Indonesia, Kementerian Pariwisata kembali merilis 100 Calendar of Event (CoE) Wonderful Indonesia. Lalu, apa syaratnya agar suatu acara di daerah masuk prioritas?

"Event yang masuk CoE WI itu kriterianya dilihat dari cultural values, commercial values, dan konsistensi. Jadi sudah dilakukan berapa tahun, dengan report yang bagus. Baik itu direct dan indirect impact," ujar Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Kebudayaan Taufik Rahzen, Selasa (25/12).

Salah satu yang masuk CoE WI berturut-turut berada di Banyuwangi. Ada tiga event yang masuk CoE WI, yaitu Banyuwangi Ethno Carnival, International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), dan Gandrung Sewu.


Taufik yang juga menjadi Tim Kurator CoE WI ini menjelaskan, Banyuwangi termasuk daerah yang paling konsisten menggelar acara. 

"Untuk masuk top 100 Calendar Event nasional, sebuah event harus bersaing dengan lebih dari 200 event lain se-Indonesia. Dan Banyuwangi ini sangat kreatif. Dalam setahun bisa membuat 77 event yang menarik," ujarnya.

Taufik menambahkan, untuk bisa bertahan dalam CoE WI, event harus berkelanjutan. Harus bisa menerapkan pengelolaan pre-event, on event, dan post event. Itu karena berkaitan dengan dukungan para sponsor agar memberikan nilai untung dan memberikan keuntungan.

"Sehingga penyelenggaraan event benar-benar berkualitas. Tidak asal-asalan sehingga tidak memberikan efek apapun pada ekonomi masyarakat," pungkasnya.


Ada pun Banyuwangi Ethno Carnival merupakan salah satu acara terbesar di Banyuwngi. Perhelatan ini bahkan sudah disejajarkan dengan acara ternama kelas internasional dari Indonesia.

Acara yang sering disebut BEC ini adalah sebuah karnaval busana yang setiap tahun digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival. Setiap tahunnya memiliki tema yang berbeda-beda. Rute yang dilalui adalah dari Taman Blambangan hingga Kantor Bupati Banyuwangi melewati jalan-jalan protokol Kota Banyuwangi sepanjang 2,2 km.

Selain itu, International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) adalah tur balap sepeda yang digelar sejak 2012. ITdBI diikuti para pembalap dari puluhan negara asing. Seperti Perancis, Belanda, Kolombia, Kanada, Jepang, Singapura, Thailand, Iran, Spanyol, Filipina, Malaysia, Filipina, Australia, Korea, Tiongkok, Thailand, Selandia Baru, Rusia, Taiwan, Uni Emirat Arab, dan Uzbekistan.

Rute yang ditempuh ITdBI mengelilingi wilayah Banyuwangi dan mendaki Gunung Ijen, yang terkenal di dunia dengan fenomena api birunya.


Sementara, Gandrung Sewu merupakan acara tarian tradisional yang menampilkan 1000 penari secara masal. Acaranya digelar di pinggir pantai. Ribuan penari tersebut menarikan tari gandrung dengan kompak. Acara ini selalu sukses ditonton ratusan ribu orang wisatawan.

Selain menarikan tarian Gandrung, mereka juga menarikan tarian tradisional Banyuwangi lainnya. Seperti gending Kembang Pepe, Seblang Lukento, Sekar Jenang, Sondreng-sondreng dan Kembang Dirmo.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, standar yang diterapkan dalam CoE WI ini akan memunculkan nilai budaya dan komersial dari setiap perhelatan. Khusus nilai komersial, harus dihitung nilai ekonominya, sehingga bisa diketahui dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.

"Tugas utama Kemenpar selanjutnya adalah mempromosikan event tersebut. Serta bagaimana strategi dan memasarkan event agar memberikan nilai dari segi budaya mau pun ekonomi," kata Arief. (prf/stu)