Liburan Akhir Tahun di Kampung Adat Jawa Barat

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 14:38 WIB
Liburan Akhir Tahun di Kampung Adat Jawa Barat Ilustrasi. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap menyambut libur akhir tahun, warga Jakarta kerap menjadikan destinasi wisata alam di Jawa Barat sebagai tempat menghabiskan waktu bersama keluarga.

Sayangnya, beberapa waktu belakangan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau kepada masyarakat untuk menghindari kawasan pesisir selatan pulau Jawa karena ombak tinggi. Belum lagi ditambah cuaca saat musim hujan yang kerap tidak menentu.

Namun Jawa Barat tidak melulu soal pantai atau gunung, salah satu kawasan yang jarang dikunjungi oleh wisatawan adalah Kampung Adat.


Padahal Kampung Adat tidak kalah 'eksotis' jika dibandingkan dengan objek wisata alam, karena unsur kearifan lokal dan kebudayaan masih terjaga, sehingga tercipta keseimbangan antara alam dan penduduknya.

Kampung atau desa adat merupakan unit pemerintahan yang dikelola oleh masyarakat adat dan mempunyai hak untuk mengurus wilayah (hak ulayat) dan kehidupan masyarakat dalam lingkungan desa adat.

Berikut adalah kampung adat di Jawa Barat yang bisa dijadikan pilihan untuk mengisi libur akhir tahun.

Kampung Adat Sinar Resmi (Sukabumi)

Secara administratif Desa Sirnaresmi berada di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Desa Sirnaresmi berada pada ketinggian yang bervariasi antara 300-600 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan bentuk permukaan bumi yang berbukit dan bergunung-gunung serta memiliki kemiringan lereng berkisar antara 25-45 derajat.

Sebagian besar warga Desa Sirnaresmi bekerja sebagai buruh tani di sawah atau di ladang. Di antara mereka ada juga yang mempunyai pekerjaan sampingan seperti pengrajin, penyadap nira, pengukir bedog (golok), dan pandai besi.

[Gambas:Instagram]

Kampung Adat Cireundeu (Cimahi)

Kampung Cireundeu terletak di lembah Gunung Kunci, Gunung Cimenteng, dan Gunung Gajahlangu. Secara administratif Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Sebagian besar masyarakatnya menganut dan memegang teguh kepercayaan yang disebut Sunda Wiwitan. Ajaran Sunda Wiwitan ini pertama kali dibawa oleh Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan pada tahun 1918.

Kampung Kuta (Ciamis)

Dalam bahasa Sunda 'Kuta' berarti pagar tembok. Menurut legenda, Kampung Kuta kerap dikaitkan dengan Kerajaan Galuh. Sehingga masyarakat di sana percaya jika mereka adalah penjaga kekayaan Kerajaan Galuh.

Untuk menuju ke kampung yang berada di Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis ini, pengunjung harus mengarahkan perjalananya sekitar 34 kilometer ke arah utara kota Kabupaten Ciamis. Sesampainya di Kecamatan Rancah, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan motor sewaan atau ojek. Namun tetaplah waspada karena kondisi jalan yang berkelok-kelok, lengkap dengan tanjakan yang curam.

Kampung Naga (Tasikmalaya)

Secara administratif berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya.

Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga.

Masyarakat Kampung Naga percaya jika nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat adalah Eyang Singaparana, atau Sembah Dalem Singaparana yang dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga.

[Gambas:Instagram]

Kampung Pulo (Garut)

Kampung Pulo terletak di antara kota Bandung dan Garut, atau kurang lebih 50 kilometer (km) ke arah timur kota Bandung dan 13 km ke arah barat kota Garut.

Kawasan perkampungan ini berada di dalam pulau tengah kawasan Situ Cangkuang. Salah satu tokoh yang dihormati adalah Embah Dalem Eyang Arief, seorang prajurit Sultan Agung yang memutuskan untuk menetap di kampung ini dan menyebarkan agama Islam di tengah masyarakat yang saat itu beragama Hindu. Sehingga walaupun 100 persen warga Kampung Pulo beragama Islam, namun mereka tetap melaksanakan sebagian dari upacara ritual agama Hindu. (agr)