Merayakan Revolusi Gender Ketiga Jerman

CNN Indonesia | Senin, 28/01/2019 11:02 WIB
Merayakan Revolusi Gender Ketiga Jerman Ilustrasi interseks (Istockphoto/Nito100)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lynn (34) masih ingat betul 'kesibukan' masa kecilnya. Dia wara-wiri dari dokter ke dokter memeriksakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Saat usianya baru menginjak dua tahun, sederet ahli medis mengamati tubuhnya dengan saksama, memperhatikan dua organ reproduksi yang tumbuh di tubuhnya.

Saat memasuki masa pubertas, Lynn diasupi obat untuk menghambat pertumbuhan dan hormon dosis tinggi. Tak ayal, sebagai remaja, dia kerap melukai diri sendiri lantaran stres.

Lynn lahir dengan organ seksual laki-laki dan perempuan. Tak lama setelah lahir, dokter dan orang tua memutuskan untuk menjadikan Lynn sebagai seorang perempuan. Alhasil, dia harus menjalani pengangkatan penis.


"Dokter menyarankan orang tua saya agar tidak memberi tahu saya soal keanehan seksual yang saya miliki. Mereka hanya diminta untuk membesarkan saya sebagai seorang gadis," kata Lynn, melansir CNN. Sayang, usaha 'mengubah' Lynn menjadi seorang perempuan pun gagal. "Karena saya bukan seorang perempuan."


Lynn adalah seorang interseks. Nama terakhir ini digunakan untuk merujuk kondisi di mana seseorang dilahirkan dengan anatomi reproduksi yang tidak sesuai dengan definisi biner perempuan atau laki-laki.

Perlahan, kebimbangan Lynn tentang identitas gendernya terus berkelindan. Lynn ingin menjadi seorang perempuan, tapi tak berhasil. Buktinya, Lynn lebih merasa nyaman bergaul dengan laki-laki.

Kemudian, Lynn berpikir bahwa dia adalah seorang laki-laki. "Tapi kemudian saya menyadari bahwa saya bukan laki-laki," ujarnya. Teman-teman lelakinya mulai menjauhinya.

Kenyataan tentang interseks baru diketahui Lynn saat dirinya mengikuti sesi terapi pada usia 20 tahun. Saat itu, Lynn merasa asing. "Rasanya seolah-olah seseorang berkata bahwa saya orang asing, berasal dari tempat lain, saya adalah mutan," kenangnya.

Bagi Lynn, berdamai dengan gender interseks yang dimilikinya bukan hal mudah. Butuh beberapa waktu baginya untuk memahami 'keajaiban' tersebut.


"Tapi kemudian saya mengerti, semuanya masuk akal bagi saya. Saya tidak lagi merasa gelisah. Tiba-tiba saya mengerti siapa saja," kata Lynn.

Lebih dari satu dekade kemudian, Lynn hidup bahagia sebagai seorang pria yang memiliki kekasih wanita. Dia juga aktif bermain dalam sebuah band punk.

Kendati kehidupan kian sempurna, Lynn dan sederet aktivis interseks lainnya tetap berharap ada perubahan pandangan masyarakat terhadap orang-orang gender ketiga. Wajar, hingga kini, tak sedikit masyarakat yang masih memandangnya sebelah mata. Gender ketiga masih dianggap tabu di banyak negara.

Namun, secuil harapan itu perlahan hadir. Jerman baru saja menelurkan gebrakannya soal gender ketiga. Pada 1 Januari 2019, Jerman akan menjadi negara pertama di Uni Eropa yang menawarkan opsi 'gender ketiga' pada akta kelahiran.

Beleid yang disahkan pada awal Desember 2018 ini dipuji sebagai 'revolusi kecil'.


Sebelumnya, sejumlah aktivis telah beramai-ramai menyuarakan hak seorang interseks. Suara ini bermula dari kasus seorang interseks bernama Vanja, yang dituduh mengubah kolom gender dalam dokumen kependudukannya dengan 'laki-laki'. Padahal, sama seperti Lynn, Vanja adalah seorang interseks yang dianggap perempuan namun hadir dengan bentuk fisik laki-laki.

Merayakan revolusi ini, Vanja bakal mengubah kategori gender dalam dokumen kependudukannya.

"Saya sering kesal ketika harus memutuskan kotak mana yang akan dicentang, pria atau wanita. Saya pikir itu (diresmikannya gender ketiga di Jerman) memberikan saya rasa damai yang baru," kata Vanja seraya meyakini bahwa langkah Jerman ini bakal diikuti oleh negara-negara Eropa lainnya.

Namun, seperti orang interseks lainnya, Vanja percaya bahwa kebijakan hanya batu loncatan. Penerimaan masyarakat terhadap orang interseks tetap tak bisa hanya berpijak pada kebijakan.

Kekerasan dan menantang norma sosial

Sekitar 1,7 persen dari populasi global terlahir dengan sifat interseks. Amnesty International mencatat, banyak dari mereka yang 'dipaksa' melakoni sejumlah operasi demi menegaskan identitasnya sebagai perempuan atau laki-laki. Namun, upaya itu kerap kali gagal.

IlustrasiIlustrasi (Istockphoto/itakdalee)

Ide operasi untuk menetapkan identitas gender bagi orang-orang interseks ini bermula dari John Money, seorang psikolog di era 1960-an. Money percaya bahwa interseks adalah kondisi abnormal. Baginya, interseks harus menjadi laki-laki atau perempuan. Dan sebagai akibatnya, seorang interseks harus mendapatkan perawatan medis.

Amnesty mencatat, meski teori itu tak lagi diterima secara luas dalam komunitas medis, gemanya masih hidup di sejumlah lembaga medis saat ini. Operasi-operasi jenis itu melucuti orang-orang sejenis Lynn dari otonominya sebagai manusia.

Grietje Baars, pengajar senior di The City Law School of London, Inggris, mengatakan bahwa kebijakan saja tak cukup untuk mengakui keberagaman gender.

Di bawah kebijakan anyar ini, seorang interseks yang ingin mengubah data kependudukannya harus mengantongi keterangan resmi dari pihak medis sebagai bukti.

Bukannya mempermudah, kebijakan ini, kata Baars, justru bakal mempersulit dan menghidupkan kembali trauma yang dialami orang-orang interseks. Apalagi mengingat masih banyaknya ahli-ahli medis yang berpaku pada definisi kuno yang mengkategorikan gender berdasarkan struktur biologis saja.

"Kita tak bisa menentukan gender hanya dengan melihat alat kelamin saja," kata Baars.


Keraguan yang sama juga diungkapkan pengajar studi gender di Ruhr-Bochum University, Jerman, Anike Kramer. Dia percaya bahwa orang tua anak-anak interseks bakal mengalami kesulitan dengan pilihan yang dipersilakan dalam kebijakan baru.

Sebagai informasi, Jerman telah mengizinkan orang tua untuk mengosongkan kotak gender pada akta kelahiran sejak 2013 lalu. Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa orang tua cenderung memilih pendekatan tradisional. Tercatat, hanya 12 anak yang terdaftar tanpa mengisi kolom gender di akta kelahiran.

"Masyarakat masih memandang tabu terhadap gender ketiga ini. Ditambah lagi saran medis masih sangat konservatif," kata Kramer.

Dengan menetapkan gender ketiga pada anak, kata Kramer, orang tua akan khawatir pada kehidupan sang anak kelak di tengah masyarakat.

"Secara sosiologi, orang tua tak punya pilihan untuk bertindak, belum lagi konsultasi medis yang sering tak memberikan alternatif," tutup Kramer. (asr/asr)