Tingkat Hunian Hotel di Bali Meningkat Jelang Imlek

CNN Indonesia | Jumat, 01/02/2019 18:09 WIB
Tingkat Hunian Hotel di Bali Meningkat Jelang Imlek Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/MariusLtu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang liburan tahun baru Imlek, hampir semua negara di dunia bersiap menampung wisatawan asal China yang akan berwisata usai pulang ke negaranya.

Diperkirakan sekitar tujuh juta warga negara China akan melakukan perjalanan ke luar negeri usai Imlek.

Sebagai salah satu destinasi wisata favorit kelas dunia, Bali jelas menjadi incaran bagi wisatawan dari penjuru dunia termasuk China.


Namun isu yang bergulir di pulau dewata belakangan ini terkesan kurang menyenangkan wisatawan mancanegara.

Mulai dari Zero Dollar Tour di akhir tahun lalu, hingga wacana penerapan biaya kontribusi US$10 untuk wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Bali.

Terkait isu biaya kontribusi untuk wisman, Chairman Bali Hotel Association (BHA) Ricky Putra menilai wacana ini asih terlalu prematur untuk dibahas.

Namun Ricky beranggapan jika Imlek meningkatkan okupansi hotel di Bali.

"Tahun ini tingkat okupansi hotel jelang Imlek sudah mencapai 75-80 persen, diperkirakan akan bertambah dalam 2-3 hari ke depan," ujar Ricky kepada CNNIndonesia.com, saat dihubungi lewat telepon, Jumat (1/2).

"Angka ini jauh lebih besar ketimbang tahun lalu yang hanya 70 persen. Hal ini dikarenakan erupsi Gunung Agung."

Ricky melanjutkan pada tahun lalu wisman yang paling banyak berkunjung ke Bali berasal dari Australia (89,6 ribu), dan disusul oleh China (75,8 ribu).

Sementara itu Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan minimal 200 ribu wisatawan mancanegara (wisman) asal Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia selama Febuari 2019 seiring puncak perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Regional I (Great China) Kemenpar, Vinsensius Jemadu di Jakarta, Rabu (30/1), mengatakan dari tahun ke tahun, wisman Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia selalu membludak selama Imlek dan Cap Go Meh, sehingga menjadikan bulan Februari sebagai peak season (musim puncak wisata) bagi wisatawan asal Negara Tirai Bambu.

(agr)