Tingkat Kematian Karena Bunuh Diri di Dunia Turun

CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 12:58 WIB
Tingkat Kematian Karena Bunuh Diri di Dunia Turun ilustrasi depresi (Jedidja/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tingkat kematian karena bunuh diri di dunia menunjukkan penurunan. Hasil ini didapat dari penelitian internasional yang baru saja dipublikasikan di jurnal The BMJ, Rabu.

Studi ini menemukan jumlah kematian global akibat bunuh diri menunjukkan peningkatan setiap tahun dari 762 ribu menjadi 817 ribu dalam kurun waktu 1990 hingga 2016. 

Walau dari segi angka menunjukkan peningkatan, setelah dilakukan penyesuaian dengan pertumbuhan populasi kelompok usia tertentu, para peneliti menyimpulkan tingkat kematian bunuh diri sebenarnya mengalami penurunan.



Angka bunuh diri berdasar jenis kelamin

Penelitian ini menemukan tingkat bunuh diri ternyata lebih tinggi untuk pria dibandingkan wanita hampir di semua wilayah, negara, dan kelompok umur, kecuali untuk kelompok usia 15 hingga 19 tahun.

"Pada kelompok usia ini (15-19 tahun) perempuan memiliki tingkat risiko kematian bunuh diri yang lebih tinggi," kata pemimpin penelitian Mohsen Naghavi dari Institute for Health Metrics and Evaluation, University of Washington, dikutip dari CNN.

Di seluruh dunia, angka kematian bunuh diri untuk pria mencapai 16  kematian per 100 ribu jiwa dan 7 kematian per 100.000 jiwa untuk wanita. Wanita di seluruh dunia juga mengalami penurunan tingkat bunuh diri yang lebih besar yakni 49 persen dibandingkan pria yang hanya 24 persen.

Bunuh diri dan negara

Tingkat bunuh diri juga mengalami penurunan di banyak negara. Penurunan terbesar terjadi di China sebanyak 64,1 persen, diikuti Denmark 60 persen, Filipina, 58,1 persen, Singapura 50,6 persen, dan Swiss 50,3 persen.

"Perubahan yang diamati di China dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, peningkatan standar hidup, dan akses yang lebih baik ke perawatan medis di daerah pedesaan," tulis peneliti. 

Sebaliknya, angka bunuh diri di Zimbabwe justru menunjukkan lonjakan yang signifikan yakni 96 persen, dari 14 kematian menjadi 28 kematian per 100 ribu jiwa.

Di sisi lain, meski terjadi penurunan, hasil ini belum dapat mencapai target dari WHO untuk mengurangi kematian akibat bunuh diri hingga sepertiga antara tahun 2015-2030 sesuai dengan Comprehensive Mental Health Action Plan 2013-2020.

"Jika tren saat ini berlanjut, hanya 3 persen dari 118 negara yang akan mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk mengurangi kematian akibat bunuh diri sepertiga antara 2015 hingga 2030," kata Naghavi.


Hasil studi ini didapat setelah peneliti menganalisis data dari Global Burden of Disease Study 2016. Hasil ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan pencegahan bunuh diri di banyak negara.

"Hasil ini dapat bermanfaat bagi pemerintah, lembaga internasional, donor, organisasi masyarakat, dokter, dan masyarakat untuk mengidentifikasi tempat dan kelompok yang berisiko paling tinggi untuk melukai diri sendiri dan menetapkan prioritas untuk pencegahan," kata peneliti Ellicott C. Matthay dari University of California.


Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis"

(ptj/chs)