'Pertama Kali Melihat Bunga Hoya, Saya Merinding Jatuh Cinta'

CNN Indonesia | Kamis, 14/02/2019 19:02 WIB
'Pertama Kali Melihat Bunga Hoya, Saya Merinding Jatuh Cinta' Peneliti dan penemu bunga hoya, Sri Rahayu. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Saat pertama kali melihat bunganya, saya itu merinding dan dada saya seperti penuh." Begitu Sri Rahayu berucap menggambarkan perasaannya saat pertama kali melihat bunga hoya pada 1994 silam di Kebun Raya Bogor. "Seperti falling in love at the first sight."

Ya, kecantikan bunga bernama latin Hoya carnosa itu langsung membuatnya senang dan kepincut. "Kena banget di saya, kalau kata anak saya, jleb gitu," kata Yayuk seraya tertawa malu saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di Bogor, Rabu (13/2).

Hoya boleh dibilang belum terlalu populer di Indonesia. Beberapa orang bahkan menganggapnya hanya sebagai tumbuhan semak belaka. Tapi, bagi Yayuk, hoya bukan sembarang bunga.


Yayuk jatuh cinta dan yakin bahwa hoya adalah bunga yang spesial. Tak cuma tanaman hias, tapi hoya juga punya segudang khasiat. Inilah yang membuat Yayuk mendedikasikan dirinya untuk meneliti bunga hoya selama 25 tahun terakhir, setengah dari usianya saat ini.

Yayuk bekerja sebagai peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Di sini, setiap hari dia berkawan dengan bunga hoya yang tergabung dalam famili Apocynaceae.

Kecintaan Yayuk pada bunga sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah. Saat itu, dia aktif di Pramuka dan senang melihat bunga-bunga liar kala masuk ke hutan. Dia pun menekuni ilmu mengenai tumbuhan itu di jenjang perguruan tinggi, jurusan Biologi, Institut Pertanian Bogor.

Yayuk beruntung karena berhasil masuk sebagai peneliti bunga di LIPI. Kebetulan, di awal masa kerjanya, Yayuk mendapatkan tugas untuk meneliti bunga-bunga yang tergabung dalam famili Apocynaceae. Di sanalah Yayuk berkenalan pertama kali dengan bunga hoya, bunga yang belum pernah diketahuinya sebelumnya. 

"Saya enggak tahu sebelumnya, saya penasaran banget. Ini belum tereskpos karena tidak berpotensi pangan, tapi bisa untuk obat," ujar Yayuk.

Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI Sri Rahayu.Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI Sri Rahayu. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)

Sejak saat itu, Yayuk keluar masuk hutan, rumah kaca (tempat konservasi bunga), laboratorium, dan kebun.

Yayuk mesti masuk ke pedalaman hutan, melewati lembah, dan menyusuri pegunungan untuk mencari bunga hoya liar. Setidaknya, dalam setahun, ibu dua anak ini bisa satu atau dua kali masuk ke hutan selama berhari-hari bahkan hingga satu bulan. Semua itu dilakukan Yayuk demi menemukan bunga hoya.

Hampir seluruh hutan di Indonesia sudah disambangi Yayuk. Dia pernah menjelajahi Taman Nasional Kerinci Sebelat, Pulau Siberut di Mentawai, mengelilingi Pulau Lombok, membelah hutan Borneo dengan perahu katinting, dan paling tinggi di Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan.

"Paling lama itu sampai satu bulan di Kalimantan, untuk sampai ke lokasi butuh 10 hari dan pakai perahu katinting," ucap Yayuk yang berasal dari Rembang, Jawa Tengah.

Di hutan hujan tropis itu, Yayuk mencari tanaman merambat, tumbuh di pepohonan, daun tumbuh berdua-dua. Ini merupakan ciri-ciri tumbuhan hoya yang belum berbunga.

Jika berbunga, hoya lebih mudah dikenali. Ia tumbuh bergerombol dalam tandan menyerupai payung. Memiliki lima kelopak bunga yang jika mekar sempurna menyerupai bintang. Kelopak itu memiliki lapisan lilin tebal dengan warna yang seringkali tergradasi. Jika dilihat sekilas, bunga hoya bakal dikira bunga kristal yang kerap menghiasi meja ruang tamu.

Yayuk bakal mengambil sampel bunga hoya untuk dibawa ke laboratorium dan diteliti karakteristik dan morfologinya. Tumbuhan hoya juga ditempatkan di rumah kaca untuk dikembangbiakkan menjadi tanaman hias yang siap dijual di pasar. Yayuk juga mengoleksi hoya itu di rumahnya menjadi taman kecil.

Perjuangan keluar masuk hutan itu tak sia-sia. Yayuk berhasil menemukan dan mendata puluhan spesies bunga hoya.

Dia bahkan juga menemukan beberapa spesies hoya baru dan berhak menempatkan namanya dalam nama latin bunga tersebut dan diakui secara internasional. Seperti Hoya undulata SRahayu & Rodda, Hoya rintzii Rodda, serta Simmonsson & Srahayu. Kerja keras Yayuk juga berbuah penghargaan Alih Teknologi LIPI Award 2017.

Namun, perjalanan Yayuk dengan bunga hoya tak selalu mulus. Beberapa tumbuhan hoya memiliki waktu berbunga yang cukup lama, bahkan sampai lima tahun.

Pernah Yayuk menanti-nanti sebuah bunga hoya yang sudah dibawanya dari hutan ke Kebun Raya hingga lima tahun lamanya. Namun, saat tumbuh berbunga, bunga itu rontok dalam satu hari saja. Bahkan Yayuk tak sempat memantaunya karena kadung rontok.

Jelas Yayuk sedih. Namun, dia mesti bersabar kembali merawat hoya itu hingga berbunga kembali dua tahun kemudian.

"Cuma sehari saja rontok. Saya sedih sekali. Beberapa bunga hoya memang adaptasinya susah, saya tunggu lagi akhirnya dua tahun baru berbunga dan langsung cepat-cepat diselamatkan bunganya, dibuatkan deskripsinya," ucap Yayuk.

Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI Sri Rahayu.Peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI Sri Rahayu. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)

Lebih dari seperempat abad berteman dengan bunga, Yayuk mengaku tak pernah bosan. Dia justru bosan jika harus berkutat dengan administrasi, rapat, atau berlama-lama di depan komputer. Baginya bunga merupakan hiburan yang dapat menghilangkan stres.

"Di hutan saya senang. Kalau jenuh hampir tidak pernah, kecuali berlama-lama di depan komputer. Saya biasa baca majalah soal bunga atau sempatkan jalan-jalan saat sedang bertugas," kata Yayuk.

Meski sudah menemukan ragam spesies hoya, Yayuk mengaku masih belum puas. Dia ingin agar dapat lebih banyak meneliti mengenai khasiat hoya bagi kesehatan karena dapat berpotensi sebagai obat.

Di beberapa suku pedalaman di Indonesia, hoya digunakan untuk mengobati kaki gajah, sakit perut, sakit kepala, dan demam. Penelitian terbaru di Florida juga menunjukkan hoya sebagai tanaman hias yang paling efektif menyerap polutan sehingga membuat udara di dalam ruangan lebih segar.

Namun, penelitian mengenai khasiat hoya masih menemukan banyak hambatan. Apalagi di Indonesia, yang kaya akan sumber daya alam termasuk di dalamnya bunga, tapi selalu kalah dengan negara lain.

"Saya itu gemas. Filipina sedang gencar melihat kandungan hoya. Padahal, Indonesia paling kaya jenis hoya," keluh Yayuk.

Yayuk juga ingin agar hoya jadi tanaman hias yang populer seperti anggrek. Dia berencana untuk menggunakan strategi memasarkannya terlebih dahulu ke Eropa ketimbang langsung di Indonesia. Menurutnya, jika sudah terkenal di Eropa, orang Indonesia cenderung akan mengikutinya.

"Kalau langsung disebarkan tidak ada yang tertarik. Strateginya saya mau tawarkan ke Eropa, nanti lanjut ke Bangkok, kita pasti ikut," ujar Yayuk. (ptj/asr)