Morocan Hammam, Pengalaman Mandi ala Maroko

CNN Indonesia | Sabtu, 23/02/2019 20:20 WIB
Morocan Hammam, Pengalaman Mandi ala Maroko Morocan Hammam, spa ala Maroko di Arabella, Jakarta. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman
Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi tubuh saya sedang sakit saat melangkahkan kaki ke sebuah ruko di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Ketika itu, batuk dan pilek tengah menggerogoti. Tapi janji kadung dibuat untuk spa di Arabella Hammam.

Saat tiba di tempat itu, saya disambut dengan suasana coffee shop kekinian. Selain spa, Arabella Hammam ternyata juga menawarkan kedai kopi. Walau dibuka untuk umum, mayoritas pelanggan kedai kopi di sini merupakan pelanggan spa yang sedang menunggu giliran atau kelaparan usai perawatan.

Di coffee shop itu saya menikmati lemon tea panas, sambil berbincang dengan pemilik Arabella Hammam, seraya menunggu giliran masuk ke ruangan spa di lantai dua.


Dari perbincangan singkat itu, saya tahu 'hammam' berarti kamar mandi atau istilah yang merujuk tempat pemandian khas Turki, sedangkan 'arabella' bermakna kecantikan Arab atau Timur Tengah.

"Jadi, spa ini menawarkan cara mandi ala Timur Tengah, terutama Maroko, supaya bisa mendapatkan kulit cantik seperti perempuan Timur Tengah," kata Farah Spears yang menggagas Arabella Hammam.

Farah, yang dahulunya merupakan seorang pramugari, kerap singgah ke berbagai negara. Saat itu, dia punya teman sekamar yang berasal dari Maroko dan suka bermandi lama-lama.

Farah penasaran dan menanyakan ritual mandi itu kepada temannya. Inilah perkenalan pertama Farah dengan Moroccan Hammam. Setiap mengunjungi negara Timur Tengah, Farah selalu mencari perawatan asal Maroko ini. Dia juga membeli produk perawatan kulit untuk dibawa pulang ke agar bisa dinikmati di Indonesia.

Morocan Hamman.Morocan Hammam. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)

Saat sudah tak jadi pramugari, Farah mengaku rindu pada ritual hammam tersebut. Lewat dukungan beberapa kawan, dia lantas berinisiatif membuka Moroccan Hammam melalui Spa & Beyond. Bisnis itu kini berkembang menjadi Arabella Hammam.

Pengalaman Maroccon Hammam

Tak lama perbincangan itupun mesti disetop karena giliran saya untuk spa pun tiba. Saya diperkenalkan dengan seorang terapis bernama Wati. Dua dekade sudah dia menjadi seorang terapis. Rata-rata, enam terapis di Arabella Hammam merupakan terapis berpengalaman selama lebih dari 10 tahun.

Alunan musik menenangkan langsung terdengar ketika menjejakkan kaki di lantai dua. Saya dibawa ke ruangan VIP di sudut lantai dua. Ruangan itu kental dengan desain dan nuansa Maroko berwarna perak.

Perbedaan ruang VIP dengan ruangan biasa hanya terletak pada tempat tidur. Tempat tidur marmer di ruang VIP bisa digunakan untuk dua orang, pas untuk pasangan suami istri yang dibuktikan dengan kartu identitas. Sedangkan, ruang biasa yang bernuansa emas hanya memiliki dua tempat tidur berukuran single.

Di tempat tidur itu saya diminta tengkurap. Lalu, air panas membasahi sekujur tubuh. Fungsinya, untuk penguapan.

Setelah itu terapis akan menyabunkan tubuh menggunakan black soap, sabun gel berwarna hijau tua yang diimpor langsung dari Maroko. Sabun ini bermanfaat untuk membersihkan kulit. Terapis lalu memijat seluruh tubuh dengan bantuan sabun itu.

Saya iseng bertanya kepada terapis, apakah dia tahu bagian tubuh saya yang sakit. Sang terapis lalu menjawab dengan semangat, "Ya tahu, lah. Ini, kan. Ini masuk angin," seraya menekan beberapa titik bagian punggung yang terasa benar-benar sakit.

Setelah memijat, terapis kembali menyirami tubuh dengan air panas membersihkan sisa-sisa sabun. Setelah itu, saya mengikuti perawatan creambath untuk rambut. Seperti perawatan creambath di salon pada umumnya yang menggunakan sampo kuda dan makarizo.

Setelah itu, saya dipersilakan berendam air hangat dengan rileks di dalam bath tub. Air hangat itu sudah dicampur dengan garam berwarna biru yang dapat membunuh bakteri. Seraya berendam, terapis memijat wajah dan leher selama sekitar 15 menit.

Usai berendam, terapis meminta saya untuk kembali berbaring di tempat tidur marmer. Inilah inti dari Moroccan Hammam dan yang membedakannya dengan spa yang lain.

Terapis mulai menggosok tubuh dengan sarung tangan bertekstur kasar yang bernama kessa. Sarung tangan ini terbuat dari pohon kessa.

"Karena baru pertama agak sakit ya, pasrah saja," ujar Wati yang energik di usianya yang memasuki kepala empat.

Ternyata tak bohong, tubuh terasa sedang disikat dengan duri-duri tajam. Rasanya sungguh sakit. Namun, hasilnya seluruh daki luruh ke lantai. Ini bukan daki yang sudah bercampur dengan krim lulur seperti proses spa lain, karena di Hammam tak ada krim yang dioleskan ke tubuh.

Rangkaian proses yang sudah dilakukan sebelumnya ditambah dengan sarung tangan kasar membuat daki dan sel kulit mati bertebaran.

"Tenang saja, nanti juga kinclong. Lihat nih, banyak banget, duh," ucap Wati tampak geregetan.

Setelah proses eksfoliasi dengan sarung tangan kessa, tubuh kembali diguyur air hangat dan dibersihkan dari sisa daki yang masih menempel.

Terapis akan mengoleskan masker lumpur dari Maroko atau dikenal dengan Ghassoul Clay. Masker yang kaya akan vitamin E ini dicampur dengan minyak argan atau zaitun, tergantung pilihan pelanggan. Saya memilih minyak argan.

Masker ini berfungsi untuk menutup pori-pori yang sudah terbuka sekaligus melembutkan dan mengencangkan kulit. Masker bertekstur cair ini didiamkan selama 10 menit.

Setelah itu, terapis kembali membersihkan kulit dengan air hangat. Ini merupakan akhir dari rangkaian perawatan sekitar 90 menit ini. Untuk mendapatkan rangkaian perawatan ala Moroko ini, saya kudu mengeluarkan kocek sebesar Rp299 ribu.

Tubuh memang tak begitu wangi jika dibandingkan dengan spa lain, tapi tampak lebih halus dan bersinar. Tak ada juga goresan sisa sarung tangan kessa yang membuat saya khawatir kulit akan berdarah.

Meski batuk dan pilek saya tak sembuh karena spa ini, tapi Moroccan Hammam dapat membuat tubuh terasa lebih ringan berkat pijatan yang memperlancar peredaran darah serta rileks sejenak melepas penat beraktivitas sehari-hari. (ptj/asr)