ANALISIS

Dilema Beauty 4.0, Saat Standar Cantik Ada di Tangan Netizen

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Jumat, 22/02/2019 14:55 WIB
Dilema Beauty 4.0, Saat Standar Cantik Ada di Tangan Netizen Ilustrasi (REUTERS/Soe Zeya Tun)
Jakarta, CNN Indonesia -- Apa itu 'cantik'? Bagaimana kita mendefinisikan 'wajah cantik' itu sendiri? Rasanya, tak ada yang mampu mendefinisikan standar kecantikan secara gamblang. Definisi 'cantik' tergantung pada persepsi yang kian berganti dari waktu ke waktu.

Era industri 4.0 ini, misalnya, yang turut menggeser standar kecantikan pada definisi anyar. Teknologi yang berevolusi membuat dunia kecantikan dan estetika ikut terseret arus transformasi yang dikenal dengan istilah beauty 4.0.

Jika industri 4.0 ditandai oleh kemunculan superkomputer dan robot pintar yang memudahkan, tidak dengan beauty 4.0. Era kecantikan anyar ini justru dipenuhi dilema.


Konsep ini merupakan paradigma atau cara melihat standar kecantikan dari sudut pandang sosial di zaman kiwari, terutama netizen. Di kancah global, beauty 4.0 dianggap sebagai fenomena anyar.

"Beauty 4.0 merupakan konsep yang lebih kompleks dibandingkan 1.0, 2.0, atau 3.0. Ia harus mencakup empat dimensi," kata ahli kecantikan, dr Lanny Juniarty dalam Aesthetic Outlook 2019 dari Miracle saat memperkenalkan konsep Beauty 4.0.

Beauty 4.0 merupakan gabungan dari generasi sebelumnya. Generasi 1.0 yang menggunakan sudut pandang dokter yang berpegangan dengan sistem golden ratio. Generasi 2.0 yang melibatkan keinginan dari seseorang terhadap kecantikan. Dan, 3.0 yang membuat kecantikan mesti meningkatkan rasa percaya diri hingga bermanfaat pada kehidupan sosial.

Pada beauty 4.0 standar kecantikan bertambah dengan adanya pengaruh dari perkembangan teknologi digital, terutama media sosial. Pada era ini, standar kecantikan seolah ikut ditentukan oleh perkembangan dan pendapat yang ada di media sosial atau komentar dari netizen di Twitter, Facebook, dan Instagram.

Ini adalah kondisi ketika opini publik menjadi demikian penting. Eksistensi menjadi tujuan utama seseorang mempercantik diri. "Apalagi di dunia digital, semua ingin selfie, eksis, butuh pengakuan dan apresiasi dari orang di sekelilingnya," tutur Lanny.

IlustrasiIlustrasi (AFP PHOTO/JUNG Yeon-Je)

Perkembangan digital membuat orang ingin memamerkan kecantikan mereka di media sosial demi mendapatkan likes dan komentar yang baik. Tengok saja deretan pasien yang ditemui Lanny. Mereka beramai-ramai ingin mempercantik wajah dengan standar kecantikan dari netizen atau media sosial.

"Lima tahun terakhir perkembangan industri kecantikan cepat sekali. Banyak yang datang dengan 'Saya lihat di Instagram teman saya, Saya lihat di Google begini'," ungkap Lanny.

Alhasil, dokter kini tak lagi berpegangan pada golden ratio atau kecantikan yang diukur secara proporsional. Tapi, kini dokter juga mesti mempertimbangkan pendapat dari pasien, dan tentunya netizen.

Standar kecantikan versi netizen itu meliputi kecantikan yang sempurna, wajah berbentuk V yang terpengaruh industri kecantikan Korea Selatan, cara yang instan, dan hasil yang natural.

"Banyak yang bilang 'Dok, saya ingin terlihat natural'. Jadi mereka mau filler, tanam benang tapi tidak mau ketahuan," ujar Lanny.

Gejala pergeseran standar kecantikan di era industri 4.0 ini sesungguhnya telah bermunculan sejak jauh-jauh hari. Sebelumnya, standar kecantikan dipengaruhi oleh hasil foto yang telah diedit dalam fitur 'pemulas' wajah di media sosial.

Fitur-fitur itu boleh dibilang berhasil membuat wajah terlihat lebih cantik. Ia menghadirkan mata kucing, pipi merah merona, dagu tajam, atau kulit yang makin kinclong di laman media sosial. Jauh dari kata cacat.

Tak ayal, orang pun berbondong-bondong membawa hasil retouch foto dan meminta para ahli bedah plastik untuk mengubah wajahnya menjadi sebagaimana gambaran foto yang dibawa. Para ahli menyebutnya sebagai 'snapchat dysmorphia'.

Kondisi itu disimpulkan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di JAMA Facial Plastic Surgery pada 2018 lalu. "Secara keseluruhan, aplikasi media sosial memberikan realitas kecantikan baru bagi masyarakat saat ini," tulis penelitian. Fenomena itu mengacaukan kepala dan menumbuhkan beberapa ide tidak sehat tentang apa yang benar-benar kita lihat di layar gawai.

Ya, perkaranya adalah media sosial. Standar yang dibuat netizen berpotensi membuat orang tak pernah puas. Pasalnya, komentar netizen sering kali tak pernah berhenti menghujat, mencela, dan selalu melihat kekurangan.

Lihat saja kasus Roy Kiyoshi yang melakoni operasi plastik untuk mengubah wajahnya. Wajah lancip berhasil didapatkannya. Tapi, bukannya mendapat pujian, dia malah dirundung celaan dari netizen.

Dewasa ini, kian banyak orang yang terpengaruh standar kecantikan di media sosial. Bagaimana tidak? Media sosial kini bertransformasi menjadi kekuatan super yang mampu menjangkau banyak orang.

Kondisi itu semakin rumit ketika faktanya, setiap orang memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri dengan melihat keadaan sekitar dan menjadikannya sebagai standar untuk dirinya. Alhasil, tak heran jika orang berbondong-bondong membandingkan dirinya dengan apa yang ada di media sosial.

"Setiap orang punya kecenderungan mengamati dan belajar dari role model yang ada di media sosial. Orang belajar dari situ dan melihat itulah standar kecantikan," ujar psikolog klinis Inez Kristanti kepada CNNIndonesia.com.

Dilema Beauty 4.0, Saat Standar Cantik Ada di Tangan NetizenIlustrasi (AFP PHOTO/CHANDAN KHANNA)

Pada orang yang rentan, kata Inez, hal itu bisa berujung gangguan dismorfik tubuh. Nama terakhir ini merupakan gangguan mental yang membuat penderitanya merasa malu dan cemas akan kekurangan atau cacat yang ada pada tubuhnya. Dismorfik tubuh membuat seseorang akan terus menerus melakukan perubahan dan tidak pernah puas dengan kecantikan yang dimilikinya.

Inez menyebut, standar kecantikan di media sosial harus bisa disikapi dengan bijak. Sebab, standar itu tak menampilkan realita yang sebenarnya.

Senada dengan Inez, psikolog Roslina Verauli berkomentar, standar kecantikan yang ada di media sosial hanya bentukan dari orang-orang yang bisa jadi maya. Komentar yang muncul sering kali tak menggambarkan kenyataan.

"Standar cantik dan enggak cantik dari media sosial tidak valid. Belum tentu komentar tersebut menggambarkan persona," ujar perempuan yang akrab disapa Vera ini kepada CNNIndonesia.com.

Bukannya menambah kepercayaan diri, konsep Beauty 4.0 ini justru memengaruhi kondisi psikososial seseorang. Komentar netizen yang di luar batas kewajaran inilah yang kerap tak bisa disikapi oleh banyak orang. Akibatnya, seseorang akan merasa tertekan dan frustasi.

Pengalaman Lanny, misalnya, bertemu dengan seorang pasien yang selalu gelisah saat kalimat-kalimat negatif mewarnai kolom komentar media sosialnya. Pasien bertanya tentang apa lagi yang harus dilakukan terhadap wajahnya. Pertanyaan itu muncul akibat komentar-komentar yang tak sesuai dengan ekspektasi.

Dalam hal ini, gangguan dismorfik tubuh tak sekadar rasa tidak aman atau kurangnya kepercayaan diri. Lebih dari itu, gangguan pada standar kecantikan ini juga berujung pada upaya keras untuk menyembunyikan ketidaksempurnaan yang sesungguhnya tak kita kenali.

Bisa jadi, konsep ini juga didorong oleh kurangnya pemahaman dan penghayatan tentang diri sendiri. "Kalau pemahaman diri sudah baik, kita enggak mudah terpengaruh dengan standar kecantikan yang ada," ujar Vera.

Beauty 4.0 tak cuma urusan standar kecantikan yang lebih sempurna, tapi juga tentang gambaran nyata wajah yang tak pernah kita kenali. Sebab, satu-satunya wajah di dunia yang tak pernah bisa kita lihat secara nyata adalah wajah milik kita sendiri. (asr/asr)