Kala Industri Fesyen Dituntut Ramah Lingkungan

CNN Indonesia | Senin, 18/02/2019 11:20 WIB
Kala Industri Fesyen Dituntut Ramah Lingkungan Peragaan koleksi Burberry, salah satu merek mode pendukung industri fesyen berkelanjutan. (AFP PHOTO/Ben STANSALL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah aktivis lingkungan memblokir jalan-jalan di luar gelaran London Fashion Week 2019, Minggu (17/2). Mereka memprotes industri fesyen yang dianggapnya tak berkelanjutan dan tak ramah lingkungan.

Lebih dari 100 aktivis lingkungan yang tergabung dalam kelompok Extinction Rebellion mendesak berbagai merek fesyen untuk mengatasi darurat ekologis global.

Aksi dimulai saat kerumunan kecil berunjuk rasa di luar museum Tate Britain, London, tepat saat Victoria Beckham memamerkan koleksi anyarnya untuk kedua kalinya di London, Inggris. Kelompok yang lebih besar berpindah ke lokasi utama gelaran London Fashion Week di The Strand.


Koordinator Aksi, Sara Arnold mengatakan bahwa industri fesyen berpotensi menjadi kekuatan revolusioner dalam mengatasi perubahan iklim.

"Kami menargetkan London Fashion Week, karena ini adalah pendorong utama tren global," ujar Arnold mengutip The Independent. London, sebut dia, punya peluang besar untuk menjadi bagian dari perubahan budaya seputar praktik bisnis fesyen berkelanjutan.

Arnold menyoroti persoalan sumber daya alam yang kian langka. "Kelangkaan [sumber daya alam] ini disebabkan oleh industri fesyen," tegas dia.

"Kami di sini bukan untuk memberikan jawaban atau solusi, tapi berharap akan ada keputusan yang dibuat," jelas Arnold.

Peragaan busana Chanel sebagai salah satu merek mode yang mendukung industri fesyen berkelanjutan.Peragaan busana Chanel sebagai salah satu merek mode yang mendukung industri fesyen berkelanjutan. (REUTERS/Caitlin Ochs)

Beberapa penggemar mode di gelaran itu memberikan dukungannya untuk mengakhiri industri fesyen yang tak mendukung kelestarian alam.

"Saya yakin harus ada sesuatu yang dilakukan. Mereka berbicara tentang fesyen berkelanjutan, betapa pentingnya untuk bergerak seperti itu," ujar Tatiana Phillips, seorang stylist yang hadir dalam gelaran London Fashion Week, mengutip ITV.

Aksi ini bisa jadi bukan barang aneh di dunia fesyen. Sebelumnya, industri mode kerap identik dengan penggunaan sumber daya alam yang membuatnya kian langka. Contohnya, penggunaan bulu hewan atau kulit asli yang kerap jadi jagoan sederet merek fesyen ternama.

Namun, dalam hitungan beberapa tahun ke belakang, tampaknya industri fesyen mulai paham. Sejumlah rumah mode beramai-ramai menghentikan penggunaan bulu dan kulit hewan pada produknya. Burberry, Gucci, dan Versacce hanya beberapa nama besar yang ikut dalam kampanye itu. Termasuk juga di antaranya Victoria Beckham yang melarang penggunaan kulit hewan eksotis di musim autumn/winter 2019 ini.

Mengutip Celebrity Insider, London Fashion Week sendiri menjadi pekan mode pertama yang tak lagi memamerkan busana berbahan bulu hewan. Langkah itu jelas mendapatkan apresiasi dari organisasi perlindungan hewan PETA, yang sejak lama getol berkoar-koar soal keprihatinannya akan kelestarian alam akibat laku orang-orang di industri fesyen.

"Di balik tas atau sepatu berbahan kulit buaya, ular, atau kadal, ada kematian yang kejam," ujar Direktur PETA, Elia Allen. (asr)