Menebak Nasib Chanel dan Fendi Sepeninggal Karl Lagerfeld
Christina Andhika Setyanti, Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Rabu, 20 Feb 2019 13:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Karl Lagerfeld (REUTERS/Benoit Tessier)
Jakarta, CNN Indonesia --
Meninggalnya Karl Lagerfeld pada Selasa (19/2) menyisakan luka yang besar di dunia mode secara umum. Namun, luka dan guncangan besar ini juga tertoreh pada rumah mode mewah Chanel dan Fendi.
Tak bisa dimungkiri, Lagerfeld adalah sosok jenius di balik kesuksesan dua rumah mode besar di dunia ini.
Lagerfeld menjadi direktur kreatif Chanel sejak 1983. Di Fendi sendiri, dia sudah bergabung sebagai direktur kreatif sejak 1965. Tak terhitung sukses yang dibuat Lagerfeld lewat koleksi busana dan juga show spektakuler.
Semasa hidupnya Lagerfeld mendefinisikan apa sebenarnya dan bagaimana bentuk busana mewah yang modern di dunia kekinian.
Lepas kepergian Lagerfeld, apa yang bakal terjadi dengan Chanel dan Fendi?
Tak dimungkiri, selama berada di bawah kepemimpinan Lagerfeld, Chanel memang mengalami transformasi besar-besaran. Dari sebuah perusahaan yang sempat stagnan menjadi salah satu label mewah di dunia.
Kala itu, dia didekati oleh keluarga Wertheimer, yang telah menciptakan bisnis wewangian untuk Chanel termasuk parfum blockbuster No. 5 di tahun 1920-an (yang hingga kini masih menjadi parfum terlaris dan terjual setiap enam detik), dan mengambil kendali rumah mode Chanel sejak awal tahun 1954.
Di saat itu, Chanel sudah stagnan selama lebih dari satu dekade sejak kematian pendirinya, Gabrielle 'Coco' Chanel. Punya misi dan visi untuk membangkitkan penjualan dan nama besar labelnya seperti dulu, Lagerfeld pun digandeng pada 1983.
Dalam ucapan duka citanya, chief executive officer Chanel Alain Wertheimer - salah satu anggota keluarga Wertheimer - mengungkapkan bahwa Lagerfeld diberikan carte blache (kepercayaan serta kontrak seumur hidup dan kekuasaan tak terbatas untuk berkreasi di Chanel) untuk mengubah brand tersebut.
"Kontrak saya di Chanel hanya berisi satu lembar, hanya untuk pihak bank. Selain itu hanya ada rasa percaya antara saya dan pemilik (keluarga Wertheimer). Selebihnya, saya boleh melakukan apa saja yang saya inginkan," kata Lagerfeld kepada koresponden CNNIndonesia.com di Paris.
Karl Lagerfeld adalah satu-satunya desianer yang memimpin sebuah rumah mode dengan kontrak seumur hidup, dan hingga kini, dimana setiap desainer berpindah rumah mode setiap tiga tahun atau bahkan kurang, ia menjadi contoh bagaimana dedikasi dan kontinuitas adalah aset yang sangat berharga bagi industri barang mewah.
Di Fendi, kontraknya akan berakhir pada 2045.
Sejak awal bekerja, Lagerfeld pun 'berambisi' untuk mengubah gaya Chanel. Hanya saja redesign bukan hal yang mudah. Tak mudah untuk berubah sesuatu yang sudah ada. Bahkan hal ini sempat jadi kontroversi.
Jaket dan gaun tweed bouclé khas Chanel, yang dulu dianggap sebuah lambang kebebasan karena tanpa korset, saat itu dinilainya kuno dan borjuis.
"Orang-orang cenderung lupa bahwa pada suatu waktu, Chanel adalah topi tua," kata Lagerfeld.
"Hanya istri-istri para dokter Paris yang masih memakainya."
Namun dia yakin bahwa citra itu dapat diubah dengan rasa humor, untuk menawarkan Chanel yang lebih dinamis dan lebih berwarna serta memikat kalangan muda.
Butuh 'darah segar' dan muda untuk meroket. Kebebasan yang diberikan oleh keluarga Wertheimer membuat Lagerfeld mudah bergerak untuk menentukan arah baru Chanel.
Foto: REUTERS/Gonzalo Fuentes koleksi Chanel
Kala itu, Lagerfeld sudah terkenal karena gaun pesta yang lembut dan puitis yang dibuatnya di Chloé pada tahun 1970-an di mana muncul dinamika gerakan siap-pakai di Eropa. Saat yang sama, Lagerfeld, sejak ia pertama kali tiba di Paris, telah memendam hasrat untuk bekerja dengan disiplin khas Jerman yang tinggi sebagai seorang couturier.
Pria berjuluk Kaiser ini mengubah ciri khas Chanel. Twist dilakukannya dengan mengubah Chanel suit, membuat roknya menjadi maxi skirt, memangkas panjang jaket bolero tweed ikonik, dan lainnya.
Di tahun 1980-an dan 1990-an banyak kritikus mode yang mencibir Lagerfeld atas karyanya. Dia dianggap tak sopan misalnya dianggap tak sopan dengan memakai tanda tangan Coco Chanel, memasangkan jaket tweed dengan kulit atau denim. Lagerfeld bertujuan untuk membuat Chanel jadi lebih peka terhadap dunia kekinian dan sisi muda.
Dalam tiap desainnya, Lagerfeld menyuntikkan berbagai keinginan dan sentuhan baru. Memadukan penghormatan pada masa lalu dengan gaya vintage dengan gaya kekinian yang trendi. Dia tak butuh hanya istri dokter-dokter di Paris yang bisa memakai Chanel, tapi juga semua perempuan dari berbagai usia dan profesi.
Ia menciptakan koleksi yang begitu kaya, dan terlihat berbeda untuk masing-masing rumah mode. Ia menjadikan bahan bulu yang sebelumnya dianggap hanya untuk ibu-ibu menjadi sebuah koleksi busana yang ceria.
Kejeniusan dan kreativitas Lagerfeld tak cuma terbatas pada kreasi busana. Sebagai sosok perfeksionis, Lagerfeld juga ingin tiap shownya memiliki ciri khas dan dikenang.
Kenyataannya, hasil kreatifnya tampak semakin melimpah di masa-masa keemasannya.
Baginya, fesyen bukan cuma soal busana, tapi juga moment. Semuanya harus sempurna dalam satu set dan bagian.
Di saat desainer lain mungkin tak mau terlalu pusing dengan urusan panggung. Lagerfeld bersikap sebaliknya. Sama seperti saat dia menciptakan busana, dia juga punya inspirasi jenius soal set panggung yang akan membuat busananya terlihat lebih mencolok.
Ini adalah masa-masa di mana Lagerfeld menggandeng berbagai kemewahan dan totalitasnya di panggung layaknya membuat sebuah panggung teater yang menakjubkan.
Dengan biaya jutaan dolar per musim, show Chanel bahkan acara tersebut melampaui batas-batas peragaan busana dan menjadi sesuatu yang lebih seperti seni pertunjukan berskala besar - sebuah tontonan media di mana Lagerfeld, baik sebagai perancang berbakat dan provokator visual, dapat menunjukkan kemampuannya untuk menjalin superfisialitas mode dengan hal-hal yang sangat mendalam.
Lagerfeld menghadirkan vila romantis di Paris, sungai Seine, hutan, kabin pesawat, bahkan restoran dan supermarket sebagai set panggung mewahnya. Namun semuanya, hanya ada satu benang merah yang selalu dipertahankan Lagerfeld, semuanya punya sentuhan klasik Coco Chanel.
Ya, semodern-modernnya Lagerfeld, dia selalu mengembuskan roh Coco Chanel yang klasik dalam tiap goresan desainnya.
Tak cuma untuk show Chanel, show Fendi tiap musimnya juga digarap serius, seserius dia menggarap Chanel.
Foto: REUTERS/Thomas Peter
"Anda tahu, saya tidak menganalisa sedalam itu. Saya bekerja dengan insting. Suara hari saya adalah Joan of Arc," katanya dikutip dari Telegraph.
"Saya tidak pernah puas dengan diri saya. Saya selalu berpikir kalau saya bisa melakukannya lebih baik."
"Saat bekerja, saya tidak pernah rapat. Saya tak perlu itu semua. Hanya studio, pena, dan hanya itu."
Kejeniusan dan pendekatan Lagerfeld untuk me-redesign Chanel adalah keputusan yang tepat.
Terlepas dari kontroversinya sebagai personal, pria berponytail putih ini sukses membuat gaun-gaun karyanya dipakai kalangan muda. Hampir semua selebriti punya koleksi Chanel di lemarinya. Gaun-gaun couture buatannya pun lalu lalang di karpet merah berbagai penghargaan dunia.
Siapa yang tak kenal Chanel dan Fendi saat ini, tak cuma siap pakai tapi juga couture.
Dunia fesyen mewah termasuk couture pun makin punya banyak pelanggan.
"Mereka tak lihat bajunya di show karena mereka datang ke Paris atau Roma. Tapi mereka membeli dan mengirimkan baju ini ke belahan dunia lain. Sekarang ini, seorang klien akan membeli 20 baju dalam waktu lima menit."
Karya-karya Lagerfeld tentunya menjadi sumber pemasukan utama bagi Chanel dan Fendi. Kesuksesannya membuat penjualan kedua rumah mode ini laris manis.
Mengutip NYTimes, berkat Lagerfeld, Chanel menjadi salah satu brand prestisius sepanjang masa. Kekuatan kebangkitan Chanel ditandai dengan pencapaian puncak penjualannya.
Foto: REUTERS/Thomas Peter
Untuk pertama dalam 108 tahun sejarahnya, rumah mode Paris ini membuka keuangan tahunannya. Pada 2017, total penjualan Chanel mencapai US$9,62 miliar (melonjak 11 persen dari tahun sebelumnya).
Kini selepas kepergian Lagerfeld, Chanel menunjuk asisten dan tangan kanan Lagerfeld selama 30 tahun, Virgine Viard untuk menjadi penerus sang legenda mode.
Keluaga Wertheimer termasuk cukup aman untuk memilih Viard sebagai pengganti Lagerfeld dibanding beberapa nama desainer lain. Sebut saja Marc Jacobs, Alber Elbaz, Hedi Slimane, sampai Phoebe Philo. Semua nama ini sama-sama punya impian dan mungkin saja kemampuan serta visi misi baru dari warisan Lagerfeld.
Chanel mengklaim bahwa pemilihan Viard sebagai penerus Lagerfeld ini dilakukan sebagai jaminan untuk menjaga warisan Gabrielle Chanel dan Karl Lagerfeld tetap hidup dalam diri Chanel.
Bisa jadi Lagerfeld juga sudah melihat benih-benih Chanel dalam diri Viard selama 30 tahun terakhir. Hal ini juga yang membuat Lagerfeld yakin untuk mengirim Viard ke runway di Paris Couture Week pada Januari 2019 lalu untuk mewakilinya, melakukan penghormatan, serta menyambut para tamu di runway.
Apakah Viard akan berhasil untuk menjadi 'Lagerfeld' yang baru dan memberikan sentuhan baru seperti yang dilakukan sang guru pada Chanel? Kita tunggu saja.
Berbeda dengan Chanel, Fendi sendiri tak mau terburu-buru untuk menentukan penerus dan pengganti Lagerfeld.
"Fendi memutuskan untuk meluangkan waktu untuk memberi penghormatan yang pantas diterima bagi Lagerfeld, dan setelahnya baru kami akan membicarakan penerusnya," tulis label tersebut dalam pernyatannya dikutip dari Fortune.
Meninggalnya Karl Lagerfeld pada Selasa (19/2) menyisakan luka yang besar di dunia mode secara umum. Namun, luka dan guncangan besar ini juga tertoreh pada rumah mode mewah Chanel dan Fendi.
Tak bisa dimungkiri, Lagerfeld adalah sosok jenius di balik kesuksesan dua rumah mode besar di dunia ini.
Lagerfeld menjadi direktur kreatif Chanel sejak 1983. Di Fendi sendiri, dia sudah bergabung sebagai direktur kreatif sejak 1965. Tak terhitung sukses yang dibuat Lagerfeld lewat koleksi busana dan juga show spektakuler.
Semasa hidupnya Lagerfeld mendefinisikan apa sebenarnya dan bagaimana bentuk busana mewah yang modern di dunia kekinian.
Lepas kepergian Lagerfeld, apa yang bakal terjadi dengan Chanel dan Fendi?
Tak dimungkiri, selama berada di bawah kepemimpinan Lagerfeld, Chanel memang mengalami transformasi besar-besaran. Dari sebuah perusahaan yang sempat stagnan menjadi salah satu label mewah di dunia.
Kala itu, dia didekati oleh keluarga Wertheimer, yang telah menciptakan bisnis wewangian untuk Chanel termasuk parfum blockbuster No. 5 di tahun 1920-an (yang hingga kini masih menjadi parfum terlaris dan terjual setiap enam detik), dan mengambil kendali rumah mode Chanel sejak awal tahun 1954.
Di saat itu, Chanel sudah stagnan selama lebih dari satu dekade sejak kematian pendirinya, Gabrielle 'Coco' Chanel. Punya misi dan visi untuk membangkitkan penjualan dan nama besar labelnya seperti dulu, Lagerfeld pun digandeng pada 1983.
Dalam ucapan duka citanya, chief executive officer Chanel Alain Wertheimer - salah satu anggota keluarga Wertheimer - mengungkapkan bahwa Lagerfeld diberikan carte blache (kepercayaan serta kontrak seumur hidup dan kekuasaan tak terbatas untuk berkreasi di Chanel) untuk mengubah brand tersebut.
"Kontrak saya di Chanel hanya berisi satu lembar, hanya untuk pihak bank. Selain itu hanya ada rasa percaya antara saya dan pemilik (keluarga Wertheimer). Selebihnya, saya boleh melakukan apa saja yang saya inginkan," kata Lagerfeld kepada koresponden CNNIndonesia.com di Paris.
Karl Lagerfeld adalah satu-satunya desianer yang memimpin sebuah rumah mode dengan kontrak seumur hidup, dan hingga kini, dimana setiap desainer berpindah rumah mode setiap tiga tahun atau bahkan kurang, ia menjadi contoh bagaimana dedikasi dan kontinuitas adalah aset yang sangat berharga bagi industri barang mewah.
Di Fendi, kontraknya akan berakhir pada 2045.
Sejak awal bekerja, Lagerfeld pun 'berambisi' untuk mengubah gaya Chanel. Hanya saja redesign bukan hal yang mudah. Tak mudah untuk berubah sesuatu yang sudah ada. Bahkan hal ini sempat jadi kontroversi.
Jaket dan gaun tweed bouclé khas Chanel, yang dulu dianggap sebuah lambang kebebasan karena tanpa korset, saat itu dinilainya kuno dan borjuis.
"Orang-orang cenderung lupa bahwa pada suatu waktu, Chanel adalah topi tua," kata Lagerfeld.
"Hanya istri-istri para dokter Paris yang masih memakainya."
Namun dia yakin bahwa citra itu dapat diubah dengan rasa humor, untuk menawarkan Chanel yang lebih dinamis dan lebih berwarna serta memikat kalangan muda.
Butuh 'darah segar' dan muda untuk meroket. Kebebasan yang diberikan oleh keluarga Wertheimer membuat Lagerfeld mudah bergerak untuk menentukan arah baru Chanel.
Foto: REUTERS/Gonzalo Fuentes koleksi Chanel
Kala itu, Lagerfeld sudah terkenal karena gaun pesta yang lembut dan puitis yang dibuatnya di Chloé pada tahun 1970-an di mana muncul dinamika gerakan siap-pakai di Eropa. Saat yang sama, Lagerfeld, sejak ia pertama kali tiba di Paris, telah memendam hasrat untuk bekerja dengan disiplin khas Jerman yang tinggi sebagai seorang couturier.
Pria berjuluk Kaiser ini mengubah ciri khas Chanel. Twist dilakukannya dengan mengubah Chanel suit, membuat roknya menjadi maxi skirt, memangkas panjang jaket bolero tweed ikonik, dan lainnya.
Di tahun 1980-an dan 1990-an banyak kritikus mode yang mencibir Lagerfeld atas karyanya. Dia dianggap tak sopan misalnya dianggap tak sopan dengan memakai tanda tangan Coco Chanel, memasangkan jaket tweed dengan kulit atau denim. Lagerfeld bertujuan untuk membuat Chanel jadi lebih peka terhadap dunia kekinian dan sisi muda.
Dalam tiap desainnya, Lagerfeld menyuntikkan berbagai keinginan dan sentuhan baru. Memadukan penghormatan pada masa lalu dengan gaya vintage dengan gaya kekinian yang trendi. Dia tak butuh hanya istri dokter-dokter di Paris yang bisa memakai Chanel, tapi juga semua perempuan dari berbagai usia dan profesi.
Ia menciptakan koleksi yang begitu kaya, dan terlihat berbeda untuk masing-masing rumah mode. Ia menjadikan bahan bulu yang sebelumnya dianggap hanya untuk ibu-ibu menjadi sebuah koleksi busana yang ceria.
Kejeniusan dan kreativitas Lagerfeld tak cuma terbatas pada kreasi busana. Sebagai sosok perfeksionis, Lagerfeld juga ingin tiap shownya memiliki ciri khas dan dikenang.
Kenyataannya, hasil kreatifnya tampak semakin melimpah di masa-masa keemasannya.
Baginya, fesyen bukan cuma soal busana, tapi juga moment. Semuanya harus sempurna dalam satu set dan bagian.
Di saat desainer lain mungkin tak mau terlalu pusing dengan urusan panggung. Lagerfeld bersikap sebaliknya. Sama seperti saat dia menciptakan busana, dia juga punya inspirasi jenius soal set panggung yang akan membuat busananya terlihat lebih mencolok.
Ini adalah masa-masa di mana Lagerfeld menggandeng berbagai kemewahan dan totalitasnya di panggung layaknya membuat sebuah panggung teater yang menakjubkan.
Dengan biaya jutaan dolar per musim, show Chanel bahkan acara tersebut melampaui batas-batas peragaan busana dan menjadi sesuatu yang lebih seperti seni pertunjukan berskala besar - sebuah tontonan media di mana Lagerfeld, baik sebagai perancang berbakat dan provokator visual, dapat menunjukkan kemampuannya untuk menjalin superfisialitas mode dengan hal-hal yang sangat mendalam.
Lagerfeld menghadirkan vila romantis di Paris, sungai Seine, hutan, kabin pesawat, bahkan restoran dan supermarket sebagai set panggung mewahnya. Namun semuanya, hanya ada satu benang merah yang selalu dipertahankan Lagerfeld, semuanya punya sentuhan klasik Coco Chanel.
Ya, semodern-modernnya Lagerfeld, dia selalu mengembuskan roh Coco Chanel yang klasik dalam tiap goresan desainnya.
Tak cuma untuk show Chanel, show Fendi tiap musimnya juga digarap serius, seserius dia menggarap Chanel.
Foto: REUTERS/Thomas Peter
"Anda tahu, saya tidak menganalisa sedalam itu. Saya bekerja dengan insting. Suara hari saya adalah Joan of Arc," katanya dikutip dari Telegraph.
"Saya tidak pernah puas dengan diri saya. Saya selalu berpikir kalau saya bisa melakukannya lebih baik."
"Saat bekerja, saya tidak pernah rapat. Saya tak perlu itu semua. Hanya studio, pena, dan hanya itu."
Nasib Chanel dan Fendi
Foto: Dok. Chanel via Facebook
Kejeniusan dan pendekatan Lagerfeld untuk me-redesign Chanel adalah keputusan yang tepat.
Terlepas dari kontroversinya sebagai personal, pria berponytail putih ini sukses membuat gaun-gaun karyanya dipakai kalangan muda. Hampir semua selebriti punya koleksi Chanel di lemarinya. Gaun-gaun couture buatannya pun lalu lalang di karpet merah berbagai penghargaan dunia.
Siapa yang tak kenal Chanel dan Fendi saat ini, tak cuma siap pakai tapi juga couture.
Dunia fesyen mewah termasuk couture pun makin punya banyak pelanggan.
"Mereka tak lihat bajunya di show karena mereka datang ke Paris atau Roma. Tapi mereka membeli dan mengirimkan baju ini ke belahan dunia lain. Sekarang ini, seorang klien akan membeli 20 baju dalam waktu lima menit."
Karya-karya Lagerfeld tentunya menjadi sumber pemasukan utama bagi Chanel dan Fendi. Kesuksesannya membuat penjualan kedua rumah mode ini laris manis.
Mengutip NYTimes, berkat Lagerfeld, Chanel menjadi salah satu brand prestisius sepanjang masa. Kekuatan kebangkitan Chanel ditandai dengan pencapaian puncak penjualannya.
Foto: REUTERS/Thomas Peter
Untuk pertama dalam 108 tahun sejarahnya, rumah mode Paris ini membuka keuangan tahunannya. Pada 2017, total penjualan Chanel mencapai US$9,62 miliar (melonjak 11 persen dari tahun sebelumnya).
Kini selepas kepergian Lagerfeld, Chanel menunjuk asisten dan tangan kanan Lagerfeld selama 30 tahun, Virgine Viard untuk menjadi penerus sang legenda mode.
Keluaga Wertheimer termasuk cukup aman untuk memilih Viard sebagai pengganti Lagerfeld dibanding beberapa nama desainer lain. Sebut saja Marc Jacobs, Alber Elbaz, Hedi Slimane, sampai Phoebe Philo. Semua nama ini sama-sama punya impian dan mungkin saja kemampuan serta visi misi baru dari warisan Lagerfeld.
Chanel mengklaim bahwa pemilihan Viard sebagai penerus Lagerfeld ini dilakukan sebagai jaminan untuk menjaga warisan Gabrielle Chanel dan Karl Lagerfeld tetap hidup dalam diri Chanel.
Bisa jadi Lagerfeld juga sudah melihat benih-benih Chanel dalam diri Viard selama 30 tahun terakhir. Hal ini juga yang membuat Lagerfeld yakin untuk mengirim Viard ke runway di Paris Couture Week pada Januari 2019 lalu untuk mewakilinya, melakukan penghormatan, serta menyambut para tamu di runway.
Apakah Viard akan berhasil untuk menjadi 'Lagerfeld' yang baru dan memberikan sentuhan baru seperti yang dilakukan sang guru pada Chanel? Kita tunggu saja.
Berbeda dengan Chanel, Fendi sendiri tak mau terburu-buru untuk menentukan penerus dan pengganti Lagerfeld.
"Fendi memutuskan untuk meluangkan waktu untuk memberi penghormatan yang pantas diterima bagi Lagerfeld, dan setelahnya baru kami akan membicarakan penerusnya," tulis label tersebut dalam pernyatannya dikutip dari Fortune.