Ditinggalkan Turis, Situs Bersejarah Libya Digerayangi Maling

REUTERS, CNN Indonesia | Kamis, 21/02/2019 16:19 WIB
Ditinggalkan Turis, Situs Bersejarah Libya Digerayangi Maling Ampiteater di Cyrene, Libya. (REUTERS/Esam Omran Al-Fetori)
Jakarta, CNN Indonesia -- Coretan graffiti terlihat menutupi dinding amfiteater Yunani di Cyrene, sebuah kota kuno yang hancur di timur Libya yang bertahan di tengah pengerusakan oknum tak bertanggungjawab dan padatnya populasi pemukiman setempat.

Toko-toko suvenir dan kafe yang sepi di sepanjang situs berusia 2.600 tahun ini adalah satu-satunya pengingat bahwa kawasan ini dulunya merupakan objek wisata populer.

Penjarahan telah melanda situs-situs arkeologi Libya sejak penggulingan Muammar Gaddafi yang berujung kekacauan pada tahun 2011.


Cyrene adalah salah satu dari lima situs Warisan Dunia UNESCO di negara Afrika Utara ini. Lainnya termasuk reruntuhan kota Romawi Leptis Magna, dan Sabratha, berada di barat Libya.



Terlepas dari Cyrene, sekitar 200 km di timur Benghazi terdapat situs Apollonia.

Dengan hilangnya turis serta pengelolaan situs dan benda bersejarah yang kekurangan anggaran, amfiteater di Cyrene menjadi incaran perusak dan penjarah.

Beberapa artefak bersejarah yang tertera dalam buku panduannya yang dicetak pada tahun 2011 tidak lagi ada.

"Banyak artefak telah diselundupkan ke luar negeri," kata Ahmad Hussein, kepala Departemen Barang Antik dari pemerintahan paralel yang bertanggung jawab atas Libya timur.

Karena tidak dapat mencegah pencurian, departemennya telah mendaftarkan artefak sebagai barang resmi milik negara, dengan harapan dapat mencari keberadaannya yang kemungkinan telah menyebar di Eropa.

Sebelum tahun 2011 terdapat langkah perlindungan situs dan benda bersejarah di Libya. Namun usaha tersebut kini tak lagi ada.

Penggalian situs dan benda bersejarah di sini telah dilakukan sejak lama oleh penjajah dari Italia. Peralatan penggalian juga masih terlihat di beberapa kawasan.

Mereka terakhir melakukan penggalian pada tahun 1943 setelah kekalahan mereka atas Inggris.

"Ada banyak kehancuran dalam beberapa tahun terakhir," kata Ismail Miftah, seorang petani yang tinggal di sebelah Cyrene.

"Saat ini orang-orang tidak lagi menghargai warisan kuno."

(ard)