Pascagempa Lombok, Gili Trawangan Sudah Aman Dikunjungi

CNN Indonesia | Minggu, 03/03/2019 11:29 WIB
Pascagempa Lombok, Gili Trawangan Sudah Aman Dikunjungi Wisatawan di Gili Trawangan, Lombok, NTB. (Foto: CNN Indonesia/Tiara Sutari)
Lombok, CNN Indonesia -- Gili Trawangan adalah satu dari tiga gili (pulau kecil) yang paling terkenal di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bahkan ada jargon jika belum ke Gili maka belum ke Lombok.

Selain Gili Trawangan, ada juga Gili Air dan Gili Meno yang kerap menjadi tujuan para wisatawan. Namun eksotisme ketiga gili tersebut sempat meredup akibat gempa bumi berkekuatan 7,2 SR yang terjadi pada Agustus tahun lalu.

Bahkan hingga saat ini, Gili Trawangan masih belum kembali ke kondisi optimalnya, meskipun perlahan sudah menjauh dari titik nadir pasca gempa Lombok. Salah satu indikasi kondisi Gili Trawangan menuju ke arah yang baik adalah mulai beroperasinya cidomo.


Cidomo merupakan julukan untuk alat transportasi yang memanfaatkan tenaga kuda, singkatnya cidomo sangat persis dengan delman.

CNNIndonesia.com berkesempatan berkeliling Gili Trawangan dengan menaiki cidomo pekan lalu atas undangan dari Kementerian Pariwisata, Kamis (21/2), untuk melihat geliat wisata enam bulan setelah bencana gempa.

Pengalaman menaiki cidomo sangat berbeda rasanya dengan menaiki delman di wilayah wisata lain, yang memiliki tekstur jalan beraspal nan mulus.

Jalan yang dilalui cidomo ini cenderung berbatu dan berlumpur, tak heran jika sepanjang jalan terdengar teriakan kecil dari mereka yang agak ketakutan cidomonya terbalik.

"Beda cidomo sama delman ini. Kuda cidomo bisa masuk ke area terjal dan penumpang tetap semangat. Memacu adrenalin," kata kusir cidomo, Farhan, yang membawa saya berkeliling Gili Trawangan.

Selama berkeliling, saya melihat suasana Gili Trawangan yang sepi. Tak banyak wisawatan, baik nusantara maupun mancanegara, yang berkeliaran di Gili Trawangan. Padahal bulan ini matahari sedang terik-teriknya di Gili Trawangan selepas musim hujan di penghujung tahun.

Bahkan di beberapa sudut yang agak sedikit lebih jauh dari bibir pantai, saya masih bisa melihat puing-puing bekas bangunan runtuh saat gempa yang belum dibersihkan. Jujur saja, hal ini agak menggangu pemandangan Trawangan yang nyaris sempurna.

Wajah Gili Trawangan, Enam Bulan Pasca Gempa LombokBangku-bangku berjemur di pinggir pantai Gili Trawangan yang biasanya ramai. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)

Menurut GM Hotel Aston Gili Trawangan, Emanuel, reruntuhan bekas gempa itu memang dibiarkan begitu saja. Sempat ada usaha membersihkan, namun justru terbentur biaya.

Tak hanya itu, ia melanjutkan, banyak pelaku usaha perhotelan dan penginapan di Trawangan yang akhirnya tak merenovasi bangunan mereka.

Emanuel mengaku sangat berharap ada sedikit sentuhan pemerintah untuk memperbaiki panorama Gili Trawangan yang kini agak 'ternoda', karena banyaknya puing bangunan yang bercokol di beberapa sudut Trawangan.

"Selain sudah hancur, ya tidak ada juga bantuan pembersihan bekas bangunan itu. Di Trawangan biaya buang sampah kan sangat mahal," kata Emanuel.

"Harapannya pemerintah mau bantu membuang ini, dan pelaku usaha tentu mau bergotong royong, tidak berpangku tangan," kata dia.

Pasca gempa, Emanuel melanjutkan, wisatawan memang jarang yang datang.

Menurutnya sebelum gempa wisatawan yang datang ke Gili paling sedikit 3.000 orang per hari. Angka ini didominasi oleh wisatawan mancanegara.

"Dulu bisa sampai 3.000 orang kalau lagi low season. Sekarang 900 pun saya kira tak sampai," kata dia.

Masih yang terbaik

Dua wisatawan mancanegara asal California, Amerika Serikat, Rebecca dan Douglas, yang sedang berkelana di kawasan Asia Tenggara menuturkan Gili Trawangan adalah tempat terbaik yang mereka kunjungi sejauh ini.

Mereka sudah sekitar satu pekan berada di Gili Trawangan. Sebelum ke Gili Trawangan, mereka sempat berkunjung ke Vietnam, Filipina, dan Thailand.

Rebecca dan Douglas mengaku sudah menjajal semua wahana yang ada di Gili Trawangan. Mulai dari scuba diving, snorkeling, melihat terumbu karang dari bottom glasses, hingga menikmati suasana pantai sambil duduk di kafe untuk sekadar makan sambil berburu sunset.

"Kami sengaja memilih Gili Trawangan di akhir perjalanan kami. Kami menyimpan yang terbaik di akhir," kata Douglas.

Saat disinggung perkara gempa, mereka tak merasa takut setelah adanya bencana alama gempa bumi yang sempat memporak-poranda kan Lombok tengah tahun lalu.

"Bencana bisa terjadi dimana saja dan memang tak bisa dihindari. Itu sudah kodrat, saya lebih takut teroris, karena jelas pelakunya adalah manusia," katanya.

[Gambas:Video CNN]

(tst/ard)