LIPUTAN KHUSUS

Rumus Kebahagiaan dalam Setenggak Pondoh

Asri Wulandari, CNN Indonesia | Rabu, 13/03/2019 09:30 WIB
Pondoh, minuman fermentasi khas Yogyakarta yang terbuat dari salak pondoh. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Gang kecil itu dipenuhi oleh pepohonan rimbun. Seolah tak ada kehidupan, yang terdengar hanya suara semilir angin yang menenangkan pendengaran.

Tapi siapa sangka di balik ketenangan pemukiman Yogyakarta itu ada keriuhan pengolahan minuman fermentasi dari buah salak yang dinamakan Pondoh.

Wulung (bukan nama sebenarnya) bersama dua temannya memproduksi minuman fermentasi Pondoh di 'istana' kecilnya.


"Kita sengaja ngambil tempat di sini, biar enggak ketahuan," kata Wulung seraya terkekeh saat menyapa kedatangan CNNIndonesia.com pada akhir Januari lalu.

Belasan gentong plastik berukuran besar berjejer di area dapur belakang rumah. Dari corong di bagian bawah, ada cairan berwarna kecoklatan yang menetes sedikit demi sedikit. Itu adalah cairan hasil fermentasi salak pondoh yang didiamkan selama dua bulan.

Di sudut lainnya, mesin cuci tersedia khusus untuk menyaring dan mensterilkan sari buah salak pondoh.

Tak jauh dari situ, kompor yang tak menyala sedang terdiam lantaran tak ada proses produksi yang dilakukan saat itu.

'Pabrik' kecil itu jauh dari kata kotor. Lantai semen terasa licin dan bersih, juga dinding-dinding yang terawat.

"Iya, harus bersih. Ini bukti bahwa proses pembuatan minuman kami [Pondoh] terjaga dengan baik," kata Wulung.

Tak sengaja Wulung menemukan 'rumus' minuman Pondoh pada awal 2013. Itu bermula dari aksi coba-coba sang kawan, Baya (bukan nama sebenarnya), bereksperimen dengan fermentasi berbagai jenis buah.

"Baya itu nyoba-nyoba bikin fermentasi berbagai buah dulu. Pas dicoba, eh, enak," ujar Wulung disambut gelak tawa Baya yang duduk di depannya.

"Sebenarnya, sih, coba-coba bikin untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri aja," kelakar Baya seraya menuangkan minuman Pondoh ke dalam gelasnya.

Eksperimen dilakukan dengan Baya mencoba membuat fermentasi berbagai buah dicoba, mulai dari pepaya, mangga, jambu, nanas, sampai salak.

Baya meniru cara fermentasi dengan menonton video-video yang tersebar di YouTube ditambah dengan ragam literatur yang dibaca.

Saat pertama kali mencecap hasil fermentasi salak pondoh, yang ada di pikiran Wulung adalah nama Yogyakarta. Betapa minuman itu begitu identik dengan Yogyakarta, sebagai sentra industri salak pondoh.

"Aku langsung berpikir kalau Pondoh cocok untuk dikembangkan," kata Wulung.

Merasa racikannya berhasil, keduanya lantas mencoba mulai memasarkan minuman fermentasi Pondoh secara terbatas. Awalnya minuman itu hanya dijual pada kerabat-kerabat dekat.

"Eh, laku. Ya, diterusin aja," kata Wulung terkekeh.

Rumus Sederhana Pondoh Merangkul Petani dan PeminumSalak Pondoh yang menjadi bahan dasar minuman Pondoh. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Membahagiakan Petani

Tak terlalu manis dan tak terlalu asam. Dua rasa itu langsung tercecap saat air Pondoh masuk ke dalam mulut.

Saat minuman itu meluncur jauh pada tenggorokan, ada yang tersisa di ujung lidah. Itu adalah rasa kecut khas buah salak.

"Kita pakai bahan yang tersedia di Yogyakarta," kata Wulung. Salak pondoh selalu berbuah setiap tahun. Hal itu membuat salak pondoh selalu tersedia dalam jumlah yang banyak. Over supply," kata alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Hitung-hitung membantu, Wulung memborong buah salak langsung dari sejumlah petani di Yogyakarta.

Wulung juga tak ambil pusing soal karakter salak yang digunakan. Besar atau kecil tak jadi soal. Salak berukuran kecil, kata dia, sering dibuang sia-sia karena tidak terserap pasar.

"Paling enggak kita jadi langganan mereka, dan mereka tahu kalau salaknya pasti ada yang beli. Ya, kita ini," katanya.

Dalam sekali produksi, dia memboyong satu kuintal salak yang kemudian diolah menjadi 150 liter minuman Pondoh.
Minuman fermentasi khas Yogyakarta yang terbuat dari salak pondoh.Minuman fermentasi khas Yogyakarta yang terbuat dari salak pondoh. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Wulung memproduksi dua varian minuman Pondoh, reguler dan premium. Perbedaan terletak pada tekstur air dan rasa yang dihasilkan, juga proses pembuatan.

Pondoh versi premium memiliki rasa dan tekstur air yang lebih lembut di mulut lantaran proses fermentasi yang memakan waktu lebih lama.

Proses pembuatannya sendiri cukup sederhana. Sari buah salak yang diambil dimasak hingga mendidih untuk kemudian dimasukkan ke dalam gentong plastik dan menjalani proses fermentasi alias pengendapan.

Minuman Pondoh reguler hanya membutuhkan waktu fermentasi selama dua bulan. Sementara proses fermentasi Pondoh versi premium menghabiskan waktu hingga dua tahun.

Agar tidak lupa kapan cairan fermentasi itu harus diangkat, Wulung menempelkan kertas bertuliskan tanggal cairan itu dimasukkan ke dalam gentong.

"Harus rajin ngecek dan ingat aja, jangan sampai kelupaan. Itu saja. Selebihnya hanya urusan waktu," kata Wulung.

Ketelatenan Wulung dan kawan-kawan dalam mengolah minuman fermentasi ini rasanya tak sia-sia. Bukan cuma di kalangan anak muda Indonesia, minuman ini sudah melanglang buana sampai ke negara tetangga.

"Banyak, kok, turis yang jalan-jalan ke Yogyakarta, terus nyarinya Pondoh," kata Wulung sumringah.


Sensasi membeli Pondoh bisa dibaca pada halaman berikutnya...

Rumus Kebahagiaan dalam Setenggak Pondoh

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2




ARTIKEL TERKAIT