Asal Mula Popcorn Jadi Camilan Wajib Penonton Bioskop

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 24/04/2019 20:32 WIB
Asal Mula <i>Popcorn</i> Jadi Camilan Wajib Penonton Bioskop Ilustrasi popcorn dan tiket bioskop (morgueFile/mconnors)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film Avengers: Endgame telah bisa dinikmati di bioskop-bioskop terdekat. Tak lengkap rasanya jika menonton film favorit tanpa ditemani camilan popcorn. Tanpa disadari, popcorn jadi camilan wajib saat menonton di bioskop.

Tengok saja sejumlah bioskop di Indonesia. Popcorn tak pernah absen dari daftar menu yang disediakan. Padahal, menilik sejarahnya, popcorn malah jauh dari kebiasaan menonton bioskop.

Dahulu kala, tak ada penonton yang menyantap popcorn atau makanan ringan lainnya saat menonton film di bioskop. Pada masa itu, tontonan masih berformat film bisu. Kehadirannya dinilai pihak bioskop mengganggu jalannya pemutaran film.


Andres Smith, penulis buku Popped Culture: A Social History of Popcorn, mengatakan bahwa bioskop jelas tak mau ambil risiko. Makanan dinilai bakal mengotori karpet bioskop.

"Mereka punya karpet dan permadani yang cantik. Mereka tidak ingin ada popcorn mengotorinya," kata Smith dikutip dari Smithsonian Magazine.

Popcorn sendiri mulai populer pada pertengahan 1800-an. Penjual camilan berbahan dasar jagung pinggir jalan mulai berjamur saat mesin pembuatnya ditemukan pada 1885 silam oleh Charles Cretor. Gerobak penjaja popcorn umumnya muncul di gelaran olahraga luar ruangan, sirkus, maupun pameran.

Jagung beledug begitu populer lantaran produksinya yang tak memerlukan area luas. Saat itu, kepopuleran camilan itu bahkan pernah menyaingi keripik kentang yang juga disukai. Lewat aromanya yang khas saat matang dan mengembang, penjaja popcorn membuat calon pembeli kepincut.

Kendati berhasil menandingi kepopuleran camilan lain, namun popcorn belum mampu membuat bioskop meliriknya. Kehadiran popcorn di bioskop dimulai pada beberapa dekade berikutnya.

Pada 1927, film mulai hadir dengan format audio visual. Bioskop memperluas target audien yang mulanya hanya terbatas pada kaum menengah ke atas. Tak ayal, peminat bioskop pun kian melonjak pada 1930 silam.

Penerimaan bioskop akan kehadiran popcorn terjadi pada masa 'great depression'. Masa ini menandai penurunan tingkat ekonomi di seluruh dunia yang dimulai pada 1929. Depresi menggerus perekonomian negara industri maupun berkembang.

Pada masa tersebut, banyak orang kesulitan mencari hiburan murah untuk mengalihkan perhatian mereka dari masa sulit. Para penjual popcorn memanfaatkan situasi dengan berjualan di depan bioskop dengan harga murah.

Lama-kelamaan, bioskop melihat penjualan makanan bisa turut menopang kebutuhan operasional mereka. "Namun itu dimulai dengan menyediakan popcorn dan makanan ringan lain [untuk bertahan]," kata Smith.

'Kebersamaan' bioskop dan popcorn makin kuat saat Perang Dunia II. Camilan ini mengalahkan permen dan soda yang banyak mengandung gula. Mau tak mau, kedua jenis makanan ini harus menyerah sebab Filipina sebagai eksportir gula tak lagi bisa memasok gula ke Amerika Serikat.

Pada 1945, popcorn dan film seakan tak bisa dipisahkan. Nyaris setengah produksi popcorn di Amerika Serikat dikonsumsi di bioskop.

Namun, kebersamaan popcorn dan bioskop tak selalu berjalan mulus. Popularitasnya sempat menurun lantaran kemajuan teknologi. Kemunculan televisi pada era 1960-an membuat semakin sedikit orang yang bertandang ke bioskop.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)