Penatalaksanaan pasien TBC di rumah sakit juga dapat mengurangi penularan penyakit akibat bakteri tuberkulosis ini secara signifikan
"Metode penanganan kasus TBC yang terbaik adalah penatalaksanaan pasien TBC di rumah sakit. Sebanyak lebih dari 3 ribu rumah sakit di Indonesia membutuhkan bimbingan," ujar Direktur Utama RSUP Persahabatan, Mohammad Ali Toha di Jakarta, belum lama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut ahli paru, dr Fathiyah Isbaniah yang menangani pelatihan rumah sakit, ketimpangan rumah sakit di Indonesia dalam menangani TBC masih terlihat jelas.
"Banyak teman-teman di rumah sakit di daerah yang salah dalam diagnosis. Misalnya, diagnosis menggunakan pemeriksaan darah dan kotoran, padahal itu tidak boleh," tutur Fathiyah dalam kesempatan yang sama.
Masalah lain yang ditemukan di rumah sakit di banyak daerah adalah tidak dapat menjaga pasien TBC untuk terus berobat.
Pengobatan TBC sensitif dapat mencapai enam bulan, sedangkan TBC resistan obat dapat memakan waktu dua tahun nonstop. Untuk membunuh kuman TBC, pasien harus meminum obat setiap hari selama jangka waktu yang sudah ditentukan.
Lihat juga:Dilema Penularan TBC di Angkutan Umum |
Untuk mengatasi masalah ini, RSUP Persahabatan, sebagai rumah sakit percontohan untuk TBC menggelar workshop dan pelatihan Manajerial Tuberkulosis berbasis Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit untuk rumah sakit di seluruh Indonesia pada 24-25 April lalu. Kegiatan ini rencananya bakal terus digelar hingga memenuhi standar penatalaksanaan TBC.
Pelatihan ini mendukung program nasional dari Kementerian Nasional untuk mengeliminasi TBC pada 2030. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, penderita TBC sensitif di Indonesia mencapai 842 ribu jiwa. Jumlah ini merupakan yang ketiga terbesar di dunia setelah China dan India.
[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)