Penanganan TBC Terganjal Standar RS yang Tidak Merata

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 30/04/2019 08:35 WIB
Penanganan TBC Terganjal Standar RS yang Tidak Merata Ilustrasi. Standar rumah sakit yang tidak merata menjadi kendala penanganan tuberkulosis (TBC). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Standar rumah sakit dalam menangani perawatan tuberkulosis (TBC) di Indonesia masih belum merata. Padahal, kualitas rumah sakit yang mumpuni menjadi kunci suksesnya perawatan tuberkulosis yang panjang.

Penatalaksanaan pasien TBC di rumah sakit juga dapat mengurangi penularan penyakit akibat bakteri tuberkulosis ini secara signifikan

"Metode penanganan kasus TBC yang terbaik adalah penatalaksanaan pasien TBC di rumah sakit. Sebanyak lebih dari 3 ribu rumah sakit di Indonesia membutuhkan bimbingan," ujar Direktur Utama RSUP Persahabatan, Mohammad Ali Toha di Jakarta, belum lama ini.


Ali menjelaskan, penatalaksanaan TBC itu mulai dari penemuan kasus TBC, diagnosis yang tepat, pengobatan, pengawasan pengobatan, hingga dinyatakan sembuh dari TBC.

Menurut ahli paru, dr Fathiyah Isbaniah yang menangani pelatihan rumah sakit, ketimpangan rumah sakit di Indonesia dalam menangani TBC masih terlihat jelas.

"Banyak teman-teman di rumah sakit di daerah yang salah dalam diagnosis. Misalnya, diagnosis menggunakan pemeriksaan darah dan kotoran, padahal itu tidak boleh," tutur Fathiyah dalam kesempatan yang sama.

Masalah lain yang ditemukan di rumah sakit di banyak daerah adalah tidak dapat menjaga pasien TBC untuk terus berobat.

Pengobatan TBC sensitif dapat mencapai enam bulan, sedangkan TBC resistan obat dapat memakan waktu dua tahun nonstop. Untuk membunuh kuman TBC, pasien harus meminum obat setiap hari selama jangka waktu yang sudah ditentukan.

"Masalah di RS itu kadang sudah dapat pasien, tapi kan pengobatan lama, cara memelihara pasien ini sangat kurang. Ini butuh juga kerja sama dengan banyak pihak seperti dinas kesehatan setempat," ucap Fathiyah yang juga akdemisi di FKUI ini.

Untuk mengatasi masalah ini, RSUP Persahabatan, sebagai rumah sakit percontohan untuk TBC menggelar workshop dan pelatihan Manajerial Tuberkulosis berbasis Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit untuk rumah sakit di seluruh Indonesia pada 24-25 April lalu. Kegiatan ini rencananya bakal terus digelar hingga memenuhi standar penatalaksanaan TBC.

Pelatihan ini mendukung program nasional dari Kementerian Nasional untuk mengeliminasi TBC pada 2030. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, penderita TBC sensitif di Indonesia mencapai 842 ribu jiwa. Jumlah ini merupakan yang ketiga terbesar di dunia setelah China dan India.

[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)