HARI TBC SEDUNIA

Minim Penelitian, TBC Diprediksi Baru 'Musnah' 2045 Mendatang

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 24/03/2019 10:33 WIB
Minim Penelitian, TBC Diprediksi Baru 'Musnah' 2045 Mendatang Ilustrasi tuberkulosis (Vitalis Yogi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tuberkulosis (TBC) tak ada matinya. Para pakar memprediksi, dunia baru akan berhasil memberantas penyakit menular itu pada 2045 mendatang.

Penekanan angka penularan dan kesadaran masyarakat yang lebih baik diperlukan untuk mengurangi lebih dari 10 juta kasus yang tercatat setiap tahun.

TBC adalah penyakit paru-paru kronis mematikan yang sebenarnya bisa diobati jika berhasil dideteksi dini. Penyakit ini menyebabkan lebih dari 1,6 juta kematian setiap tahun akibat obat yang tidak berfungsi.


Di Indonesia, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Infodatin 2018) mencatat jumlah kasus baru TBC mencapai 420 ribu kasus pada 2017.

"Itu sangat besar dan menjadi beban ekonomi bagi negara berkembang," ujar utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk penanggulangan TBC, Eric Goosby, melansir AFP. Menurutnya, diperlukan strategi pencegahan anyar untuk menekan angka kasus TBC.

Meski membunuh jutaan orang setiap tahunnya, belum ada vaksin TBC anyar yang tersedia secara komersil. Penyebabnya adalah minimnya penelitian yang dilakukan terkait TBC.

Dalam jurnal The Lancet, sejumlah tim ahli dari 13 negara menyebut bahwa pendanaan untuk penelitian dan pengembangan harus meningkat empat kali lipat hingga US$3 juta per tahun jika ingin angka kasus TBC menurun signifikan. Saat ini, penurunan angka kasus TBC hanya berkisar 1,5-2 persen per tahun.

"Kunci sebenarnya adalah bahwa kita memerlukan lebih banyak penelitian," ujar Direktur Sains The International Union Against Tuberculosis and Lung Disease, Paula Fujiwara.

Serangkaian terobosan dalam beberapa bulan terakhir telah memberikan sedikit asa untuk pasien.

Pada Oktober 2018 lalu, pengobatan baru untuk pasien TBC yang resisten terhadap obat berhasil menyembuhkan 80 persen penderitanya di Belarus. Jenis pengobatan ini juga diterapkan di sejumlah negara lain dan memberikan hasil serupa.

Sebulan sebelumnya, raksasa farmasi GlaxoSmithKline meluncurkan penelitian yang menunjukkan adanya vaksin baru yang terbukti efektif pada 54 persen peserta uji coba pengidap TBC.

"Uji coba semacam ini diperlukan untuk terus mendorong lini produksi perawatan baru terhadap penyakit ini," ujar Goosby. (asr/asr)