Celoteh Wisata

Kisah Pria Denmark yang Bersepeda dari Finlandia ke Indonesia

CNN Indonesia | Minggu, 12/05/2019 13:41 WIB
Kisah Pria Denmark yang Bersepeda dari Finlandia ke Indonesia Seorang pria asal Denmark, Emil Hvidtfeldt, bersepeda dari Denmark ke Indonesia. Ia menempuh jarak sepanjang 18 ribu km. (Foto: Kedutaan Besar Denmark untuk Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pria asal Denmark, Emil Hvidtfeldt, baru saja usai melakukan kegiatan unik sekaligus ekstrem yang jarang dilakukan orang pada umumnya. Pria berusia 23 tahun ini bersepeda melintasi dua benua, yaitu Eropa dan Asia dengan total perjalanan mencapai 18 ribu Kilometer (Km).

Emil, sapaan akrabnya, mulai bersepeda dari Finlandia pada akhir April 2018. Selama satu tahun, ia mengayuh sepeda melintasi 26 negara, hingga berakhir di Indonesia.

Pada Rabu (8/5), ia menginjakkan kakinya di Jakarta, sebagai destinasi akhir perjalanan panjangnya.


"Saya memilih Indonesia sebagai destinasi terakhir karena Indonesia adalah negara yang sangat jauh sekaligus sangat eksotis. Jadi kenapa tidak menjadi suatu destinasi impian? Apalgi biasanya orang hanya bisa terbang dari Denmark ke Indonesia," tutur Emil kepada CNNIndonesia.com, Minggu (12/5).

Ia menuturkan perjalanannya itu merupakan aksi sosial untuk menggalang dana (charity) bagi Association for the Greenlandic Children, suatu Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) di Grinlandia yang bekerja untuk mengatasi masalah kesehatan mental dan sosial di anak-anak Grinlandia.

Ide galang dana lewat bersepeda lintas negara ini, muncul dari pengalamannya ketika menimba ilmu di Grinlandia selama satu tahun.

Ia menyaksikan banyak anak-anak Grinlandia yang berusia 14-15 tahun harus menderita kesehatan mental, seperti depresi dan insomnia. Kondisi ini disebabkan mereka harus menempuh pendidikan jauh dari rumahnya.

"Grinlandia adalah pulau besar dengan banyak kota-kota kecil yang tidak terhubung. Ketika mereka pergi sekolah mereka harus pindah jauh dari rumah ke kota yang berbeda, di usia yang sangat muda 14-15 tahun, sehingga seringkali mereka berakhir dengan penyakit mental," katanya.

Emil menuturkan ia menemukan berbagai tantangan sekaligus pengalaman berharga selama perjalannya. Salah satu tantangan baginya adalah cuaca ekstrim yang berbeda-beda di masing-masing negara.

Misalnya, ia harus beradaptasi dengan perbedaaan cuaca dingin dari Eropa ke Asia Tengah yang sangat panas terutama ketika harus melintasi gurun pasir.

Ia juga harus mampu menerjang cuaca ekstrem ketika mendaki Himalaya dengan ketinggian sekitar 4.000 meter. Saat di Hilamaya, ia harus bertahan dengan cuaca mencapai minus 5-20 derajat celcius.

[Gambas:Instagram]

Setelah menembus dinginnya cuaca Himalaya, ia harus kembali berhadapan dengan panasnya India dan Pakistan.

"Bagian terberat adalah Myanmar bagian utara, karena jalannya sangat jelek. Saya harus berjalan selama 16-17 jam per hari karena jalan yang begitu jelek sehingga tidak bisa dilintasi sepeda," katanya.

Akan tetapi, tantangan terberat baginya adalah menjaga semangat dalam perjalanan untuk menyelesaikan targetnya.

"Tantangan terberat adalah mental. Saya melakukan hal yang sama sendiri setiap hari. Jadi saya harus menjaga suasana hati dan menjaga semangat," katanya.

Namun ia mengaku jarang sekali jatuh sakit dalam perjalannya. Pernah sekali ia jatuh sakit di Tajikistan dan Usbekistan, hingga memaksanya pergi ke rumah sakit.

"Saat pergi ke rumah sakit di Tajikistan tidak ada seorang pun yang mengerti bahasa Inggris, sehingga sangat sulit menjelaskan kebutuhan saya. Butuh beberapa jam sebelum akhirnya saya menemukan orang yang bisa menerjemahkan bahasa Inggris dan mendapatkan obat yang tepat," tuturnya.

Pengalaman pahit dialaminya saat kehilangan uang US$10 ribu beserta kamera di Malaysia. Saat itu, ia bilang, ia meninggalkan tasnya di luar toko ketika membeli minuman.

[Gambas:Instagram]

"Ketika saya keluar kamera saya telah hilang. Padahal banyak foto di sana," tuturnya.

Di sisi lain, perjalanannya selama satu tahun juga dipenuhi pengalaman berharga. Menurutnya, pengalaman paling luar biasa adalah bertemu dengan banyak orang baik dalam perjalanan.

Bahkan, saat di Turki ia pernah menginap di rumah penduduk dalam beberapa hari. Tak hanya memberikan tumpangan tempat berteduh, warga Turki juga memberikan makanan dan beberapa barang kebutuhan Emil sehari-hari.

"Dan tentunya, banyak tempat-tempat dengan pemandangan indah yang saya temui. Khususnya di wilayah Himalaya, Pakistan, Nepal, dan China Barat," katanya.

Ia mendokumentasikan seluruh perjalanannya lewat akun Instagram pribadinya, dan laman websitenya.

Hingga saat ini, ia telah berhasil menggalang dana sebesar 63.400 krona Denmark atau setara Rp136,33 juta. Jumlah itu melebihi targetnya sebesar 50 ribu krona Denmark setara Rp107,51 juta.

[Gambas:Video CNN] (ulf/agr)