"Sampai saat ini belum ditemukan kasus Monkeypox di Indonesia," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Anung Sugihantono dalam keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (15/5).
Meski demikian, Anung mengimbau masyarakat untuk waspada dan menjaga kebersihan untuk mencegah penyebaran cacar monyet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Kenali Beda Cacar Monyet dan Cacar Air |
Sedangkan penularan pada manusia, menurut Anung, terjadi melalui kontak dengan monyet, tikus gambia, dan tupai. Penularan dapat pula terjadi karena mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi. Inang utama dari virus cacar monyet ini adalah rodent atau tikus.
Sementara penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi.
Wilayah yang terjangkit cacar monyet yaitu Afrika Tengah dan Barat seperti Republik Demokratik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Liberia, Sierra Leone, Gabon, dan Sudan Selatan
Virus cacar monyet mengalami masa inkubasi sekitar 5-21 hari. Gejala yang timbul meliputi demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, dan lemas.
Seperti cacar pada umumnya, ruam di kulit akan muncul pada wajah dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam itu berkembang dan akan menghilang hingga tiga pekan.
Kasus kematian cacar monyet disebut bervariasi, tetapi kurang dari 10 persen kasus yang dilaporkan, sebagian terjadi pada anak-anak.
Belum ada obat-obatan yang dapat melawan virus ini. Dokter biasanya akan memberikan obat untuk meringankan gejala.
"Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus monkeypox. Pengobatan simtomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul," tutur Anung.
[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)